Manusia bumi sebangsa dan setanah air.
Pada tulisan kali ini saya hanya akan bercerita. Menyampaikan kisah yang terjadi bukan di dunia nyata. Jadi tidak perlu *baper (bawa perasaan), istilah rakyat kekinian.
Alkisah, di negeri yang bernama Parepare. Negeri nan bahagia. Kala itu dipimpin oleh seorang Sultan yang bijaksana dan juga dicintai oleh masyarakat. Senyumannya seperti mampu menjadi penawar dahaga kehidupan bagi setiap orang. Namun masa itu kini hanya sekedar menjadi cerita. Sultan menutup usia, dan senyumannya dibawa bersamanya.
Amarah, seseorang yang telah berulang kali hendak menggantikan posisi Sultan akhirnya setelah sekian lama berhasil merebutnya. Amarah dengan tensi emosi yang tak terkendali menggebrak pembangunan Parepare, walau sebagian kecil memberikan manfaat namun sebagian besarnya tak berdasar pada kebutuhan masyarakat negeri Parepare. Namun tetap saja, walau tokoh-tokoh masyarakat telah banyak yang mengingatkannya. Amarah bukannya menjadi bijaksana, tapi malah semakin angkuh dan cenderung meremehkan juga mengatur sedemikian rupa rekayasa-rekayasa untuk tetap melanggengkan dirinya sebagai penguasa negeri Parepare. Dampaknya mempengaruhi kehidupan masyarakat yang awalnya bahagia akhirnya saling tuding, hidup dalam bayang-bayang kehidupan yang gelap dan tidak bahagia walau cahaya lampu-lampu menyilaukan tapi ternyata tidak menerangi.
Negeri Parepare, ditengah-tengah gentingnya kehidupan masyarakat lahirlah seorang anak dipinggiran negeri yang diberi nama Pijar. Anak ini lahir bersama kerisauan orang tuanya. Ada cahaya yang hilang dari negeri ini, semoga anak ini lahir membawa pencerahan, doa orang tua Pijar saat kelahirannya.
Pijar pun tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas, gagah dan berani. Pijar menjadi anak yang dipercaya banyak orang. Ia seperti mampu memberikan senyuman yang telah lama hilang dari negeri Parepare. Senyuman yang menjadi penawar dahaga masyarakat di sekitarnya.
Perihal Pijar, seorang anak yang lahir dari pinggiran negeri itu akhirnya sampai pada Amarah. Dengan berbagai rekayasa dan godaan, Amarah awalnya berusaha mendekati Pijar yang sepertinya bisa menjadi ancaman baginya mempertahankan tahta yang telah diidam-idamkannya sejak lama. Karena tak berhasil membujuk Pijar menjadi bagian dari pengikutnya, Amarah pun berbalik menyerang Pijar dengan berbagai cara. Dimulai dari hal-hal terdekat Pijar, satu persatu menjadi korbannya. Pijar pun sempat dikucilkan dan diasingkan.
Pada pengasingannya itu, Pijar bertemu dengan seorang Guru Bijaksana yang mewariskan ilmu Pancasila kepadanya. Ilmu itu pesan Gurunya adalah ilmu untuk melawan angkara murka. Pijar pun berlatih dengan sangat disiplin, mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Amarah. Baginya ini bukanlah persoalan dirinya, namun ini adalah bagian dari kemulian hidup untuk mengembalikan bahagia pada pangkuan setiap ibu yang menyanyangi masa depan anak-anaknya di negeri ini. Pertarungan ini juga bagian dari ajian keyakinannya terhadap kemanusian yang disemenah-menahkan.
Pijar pun kini siap menghdapi segala marah bahaya hingga angkara murka. Amarah ditantangnya ditengah kerumunan masyarakat. Amarah tak bisa berbuat banyak pada ilmu Pancasila yang menjadi kesaktian Pijar dalam menghadapinya. Perlahan namun pasti, senyuman bahagia masyarakat negeri Parepare akhirnya kembali merekah menyaksikan Amarah bertekuk lutut di bawah pencerahan ilmu Pancasila yang dimiliki Pijar.
Manusia bumi sebangsa dan setanah air.
Setelah penakhlukan itu, Pijar pun diangkat menjadi Sultan. Masyarakat hidup bahagia di negeri Parepare yang bahagia. Pijar menjadi manusia yang sederhana, tersenyum dan bersyukur atas kehidupannya.
Bahagia adalah perasaan, dan perasaan itu bisa dilogikakan dengan tidak membiarkan masyarakat hidup dalam kesengsaraan. Berpihak pada masyarakat kecil dengan cinta yang besar. Hidup bahagia bersama-sama.
diceritakan pada hari lahir Pancasila
oleh @ibrahlaiman

















