• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, 16 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini Ibrah La Iman: Parepare, Pijar dan Pancasila

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
1 Juni 2017
di Opini

Manusia bumi sebangsa dan setanah air.

Pada tulisan kali ini saya hanya akan bercerita. Menyampaikan kisah yang terjadi bukan di dunia nyata. Jadi tidak perlu *baper (bawa perasaan), istilah rakyat kekinian.

Alkisah, di negeri yang bernama Parepare. Negeri nan bahagia. Kala itu dipimpin oleh seorang Sultan yang bijaksana dan juga dicintai oleh masyarakat. Senyumannya seperti mampu menjadi penawar dahaga kehidupan bagi setiap orang. Namun masa itu kini hanya sekedar menjadi cerita. Sultan menutup usia, dan senyumannya dibawa bersamanya.

Amarah, seseorang yang telah berulang kali hendak menggantikan posisi Sultan akhirnya setelah sekian lama berhasil merebutnya. Amarah dengan tensi emosi yang tak terkendali menggebrak pembangunan Parepare, walau sebagian kecil memberikan manfaat namun sebagian besarnya tak berdasar pada kebutuhan masyarakat negeri Parepare. Namun tetap saja, walau tokoh-tokoh masyarakat telah banyak yang mengingatkannya. Amarah bukannya menjadi bijaksana, tapi malah semakin angkuh dan cenderung meremehkan juga mengatur sedemikian rupa rekayasa-rekayasa untuk tetap melanggengkan dirinya sebagai penguasa negeri Parepare. Dampaknya mempengaruhi kehidupan  masyarakat yang awalnya bahagia akhirnya saling tuding, hidup dalam bayang-bayang kehidupan yang gelap dan tidak bahagia walau cahaya lampu-lampu menyilaukan tapi ternyata tidak menerangi.

Negeri Parepare, ditengah-tengah gentingnya kehidupan masyarakat lahirlah seorang anak dipinggiran negeri yang diberi nama Pijar. Anak ini lahir bersama kerisauan orang tuanya. Ada cahaya yang hilang dari negeri ini, semoga anak ini lahir membawa pencerahan, doa orang tua Pijar saat kelahirannya.

Berita Terkait

Ramadhan Fair Vol.5 Resmi Ditutup, Tasming Hamid Apresiasi HIPMI Parepare

Bukber Bersama Jurnalis, Wali Kota Parepare: Kita Ingin Suasana Lebih Akrab, Makanya Tanpa Protokoler

Bersama Forkopimda, Wali Kota Parepare Pantau Arus Mudik di Pelabuhan

Lurah dan Ketua PKK Antang Pantau Pasar Murah Pemkot

Pijar pun tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas, gagah dan berani. Pijar menjadi anak yang dipercaya banyak orang. Ia seperti mampu memberikan senyuman yang telah lama hilang dari negeri Parepare. Senyuman yang menjadi penawar dahaga masyarakat di sekitarnya.

Perihal Pijar, seorang anak yang lahir dari pinggiran negeri itu akhirnya sampai pada Amarah. Dengan berbagai rekayasa dan godaan, Amarah awalnya berusaha mendekati Pijar yang sepertinya bisa menjadi ancaman baginya mempertahankan tahta yang telah diidam-idamkannya sejak lama. Karena tak berhasil membujuk Pijar menjadi bagian dari pengikutnya, Amarah pun berbalik menyerang Pijar dengan berbagai cara. Dimulai dari hal-hal terdekat Pijar, satu persatu menjadi korbannya. Pijar pun sempat dikucilkan dan diasingkan.

Pada pengasingannya itu, Pijar bertemu dengan seorang Guru Bijaksana yang mewariskan ilmu Pancasila kepadanya. Ilmu itu pesan Gurunya adalah ilmu untuk melawan angkara murka. Pijar pun berlatih dengan sangat disiplin, mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Amarah. Baginya ini bukanlah persoalan dirinya, namun ini adalah bagian dari kemulian hidup untuk mengembalikan bahagia pada pangkuan setiap ibu yang menyanyangi masa depan anak-anaknya di negeri ini. Pertarungan ini juga bagian dari ajian keyakinannya terhadap kemanusian yang disemenah-menahkan.

Pijar pun kini siap menghdapi segala marah bahaya hingga angkara murka. Amarah ditantangnya ditengah kerumunan masyarakat. Amarah tak bisa berbuat banyak pada ilmu Pancasila yang menjadi kesaktian Pijar dalam menghadapinya. Perlahan namun pasti, senyuman bahagia masyarakat negeri Parepare akhirnya kembali merekah menyaksikan Amarah bertekuk lutut di bawah pencerahan ilmu Pancasila yang dimiliki Pijar.

Manusia bumi sebangsa dan setanah air.

Setelah penakhlukan itu, Pijar pun diangkat menjadi Sultan. Masyarakat hidup bahagia di negeri Parepare yang bahagia. Pijar menjadi manusia yang sederhana, tersenyum dan bersyukur atas kehidupannya.

Bahagia adalah perasaan, dan perasaan itu bisa dilogikakan dengan tidak membiarkan masyarakat hidup dalam kesengsaraan. Berpihak pada masyarakat kecil dengan cinta yang besar. Hidup bahagia bersama-sama.

diceritakan pada hari lahir Pancasila

oleh @ibrahlaiman

TerkaitBerita

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

BeritaTerkini

Ramadhan Fair Vol.5 Resmi Ditutup, Tasming Hamid Apresiasi HIPMI Parepare

Editor: Muhammad Tohir
16 Maret 2026

Bukber Bersama Jurnalis, Wali Kota Parepare: Kita Ingin Suasana Lebih Akrab, Makanya Tanpa Protokoler

Bukber Bersama Jurnalis, Wali Kota Parepare: Kita Ingin Suasana Lebih Akrab, Makanya Tanpa Protokoler

Editor: Muhammad Tohir
16 Maret 2026

Bersama Forkopimda, Wali Kota Parepare Pantau Arus Mudik di Pelabuhan

Editor: Muhammad Tohir
16 Maret 2026

Lurah dan Ketua PKK Antang Pantau Pasar Murah Pemkot

Editor: Muhammad Tohir
15 Maret 2026

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Editor: Muhammad Tohir
14 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan