• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, 17 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI: Sambut Tahun Baru, Bukan dengan Maksiat dan Hedonisme

Adil Abdillah Editor: Adil Abdillah
31 Desember 2018
di Khazanah, Opini
tahun baru

OPINI — Dalam tradisi klasik, bangsa-bangsa Yahudi, Majusi dan Nasrani menyambut tahun baru dengan melakukan ritual ibadah dan juga pesta pora.

Dari beberapa referensi menyebutkan kerajaan Babilonia merupakan bangsa pertama yang merayakan tahun baru. Bagi mereka, tahun baru ini adalah kemenangan Dewa Langit Marduk melawan Dewi Laut yang jahat, Tiamat. Raja Babilonia menerima mahkota baru.

Dalam penanggalan tahun masehi, kerajaan Romawi dikenal sebagai pencetus pertama penanggalan dan pergantian tahun dengan siklus matahari. Mereka menamai bulan pertama dengan nama Janus, dewa Romawi, yang memiliki dua muka untuk memandang ke depan dan belakang.

Bangsa Romawi memperingati tahun baru dengan berbagai pengorbanan kepada Janus, bertukar hadiah, mendekorasi rumah, dan mengunjungi beberapa pesta.

Bangsa Mesir menandai pergantian tahun dengan melihat banjir sungai Nil. Perhitungan ini bersamaan dengan munculnya bintang Sirius. Sedangkan Cina menentukan tahun baru pada bulan baru kedua saat titik balik Matahari setelah musim gugur.

Berita Terkait

Wali Kota Parepare Keluarkan Imbauan Perayaan Malam Tahun Baru

Selamat Datang 2025: Momentum Perbaikan Diri dan Kehidupan yang Lebih Bermakna di Bulan Rajab 1446 H

Hindari Jalan Ini Selama Perayaan Tahun Baru di Kota Parepare

Menutup Tahun dengan Syukur, Membuka Tahun dengan Harapan

Pada abad pertengahan, Paus Gregory XIII pada 1582 merubah dan menetapan 1 Januari sebagai tahun baru Masehi. Kekuasaan Kekristenan Eropa memberi makna religius di sekitar pergantian tahun seperti 25 Desember sebagai Hari Natal dan antara 22 dan 25 Maret sebagai perayaan Paskah, seperti yang dirayakan umat Nasrani hingga hari ini.

Dari rangkaian sejarah singkat di atas, ditarik kesimpulan bahwa perayaan tahun baru Masehi disambut dengan berbagai tradisi ritual yang berdimensi religiusitas dan budaya, yang tentu saja mengandung nilai-nilai kesakralan.

Bagaimana tahun kekinian? Nampaknya perayaan tahun baru masehi telah bergeser dan tercerabut dari nilai-nilai religi yang sakral. Bangsa-bangsa modern tetap menyambut awal tahun, tapi dengan nuansa hedonistik dan bahkan bermaksiat, jauh dari nilai religius semua agama-agama.

Bangsa-bangsa kekinian memperingatinya tanpa nilai. Mereka sekedar berhura ria, berkumpul, berpesta, penuh kesenangan. Celakanya, sebagian generasi merayakannya dengan pesta kemaksiatan, misalnya mabuk bersama atau bahkan zina.

Hendaknya para agamawan mengembalikan sakralitas tahun baru dengan nilai-nilai agama. Dari rilis Prof. H. Nasir Mahmud, guru besar UINAM via media sosial mengemukakan beberapa tradisi agama-agama terdahulu. Menurut beliau membunyikan terompet adalah tradisi agama Yahudi, sebagai panggilan beribadah, mungkin semacam azan dalam Islam.

Selanjutnya…

Laman 1 dari 2
12Selanjutnya
Terkait: Tahun Baru

TerkaitBerita

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Sidrap Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Resmi Dibuka Wabup, IPF Sulsel Sebut Bukan Kaleng-kaleng

Sidrap Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Resmi Dibuka Wabup, IPF Sulsel Sebut Bukan Kaleng-kaleng

Editor: Muhammad Tohir
14 Mei 2026

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan