• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Khazanah

OPINI: Sambut Tahun Baru, Bukan dengan Maksiat dan Hedonisme

Editor: Adil Abdillah
31 Desember 2018
di Khazanah, Opini
tahun baru

OPINI — Dalam tradisi klasik, bangsa-bangsa Yahudi, Majusi dan Nasrani menyambut tahun baru dengan melakukan ritual ibadah dan juga pesta pora.

Dari beberapa referensi menyebutkan kerajaan Babilonia merupakan bangsa pertama yang merayakan tahun baru. Bagi mereka, tahun baru ini adalah kemenangan Dewa Langit Marduk melawan Dewi Laut yang jahat, Tiamat. Raja Babilonia menerima mahkota baru.

Dalam penanggalan tahun masehi, kerajaan Romawi dikenal sebagai pencetus pertama penanggalan dan pergantian tahun dengan siklus matahari. Mereka menamai bulan pertama dengan nama Janus, dewa Romawi, yang memiliki dua muka untuk memandang ke depan dan belakang.

Bangsa Romawi memperingati tahun baru dengan berbagai pengorbanan kepada Janus, bertukar hadiah, mendekorasi rumah, dan mengunjungi beberapa pesta.

BeritaTerkait

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

24 September 2026
Yayasan Nur Ilahi Insani Parepare Gratiskan Pendidikan Tahfidz untuk Anak Kurang Mampu

Yayasan Nur Ilahi Insani Parepare Gratiskan Pendidikan Tahfidz untuk Anak Kurang Mampu

22 September 2026
Senyum Di Balik Truk Batu Bara

Senyum Di Balik Truk Batu Bara

20 September 2026
Moderasi Beragama di Ruang Digital: Menjaga Perbedaan di Tengah Derasnya Informasi

Moderasi Beragama di Ruang Digital: Menjaga Perbedaan di Tengah Derasnya Informasi

16 September 2026

Bangsa Mesir menandai pergantian tahun dengan melihat banjir sungai Nil. Perhitungan ini bersamaan dengan munculnya bintang Sirius. Sedangkan Cina menentukan tahun baru pada bulan baru kedua saat titik balik Matahari setelah musim gugur.

Pada abad pertengahan, Paus Gregory XIII pada 1582 merubah dan menetapan 1 Januari sebagai tahun baru Masehi. Kekuasaan Kekristenan Eropa memberi makna religius di sekitar pergantian tahun seperti 25 Desember sebagai Hari Natal dan antara 22 dan 25 Maret sebagai perayaan Paskah, seperti yang dirayakan umat Nasrani hingga hari ini.

Dari rangkaian sejarah singkat di atas, ditarik kesimpulan bahwa perayaan tahun baru Masehi disambut dengan berbagai tradisi ritual yang berdimensi religiusitas dan budaya, yang tentu saja mengandung nilai-nilai kesakralan.

Bagaimana tahun kekinian? Nampaknya perayaan tahun baru masehi telah bergeser dan tercerabut dari nilai-nilai religi yang sakral. Bangsa-bangsa modern tetap menyambut awal tahun, tapi dengan nuansa hedonistik dan bahkan bermaksiat, jauh dari nilai religius semua agama-agama.

Bangsa-bangsa kekinian memperingatinya tanpa nilai. Mereka sekedar berhura ria, berkumpul, berpesta, penuh kesenangan. Celakanya, sebagian generasi merayakannya dengan pesta kemaksiatan, misalnya mabuk bersama atau bahkan zina.

Hendaknya para agamawan mengembalikan sakralitas tahun baru dengan nilai-nilai agama. Dari rilis Prof. H. Nasir Mahmud, guru besar UINAM via media sosial mengemukakan beberapa tradisi agama-agama terdahulu. Menurut beliau membunyikan terompet adalah tradisi agama Yahudi, sebagai panggilan beribadah, mungkin semacam azan dalam Islam.

Selanjutnya…

Laman 1 dari 2
12Selanjutnya
Terkait: Tahun Baru

BeritaTerkait

Wali Kota Parepare Keluarkan Imbauan Perayaan Malam Tahun Baru

Editor: Tohir Muhammad
23 Desember 2025

...

OPINI: Hidup Berdamai Ibu dengan Anak

Selamat Datang 2025: Momentum Perbaikan Diri dan Kehidupan yang Lebih Bermakna di Bulan Rajab 1446 H

Editor: Tim Redaksi
31 Desember 2024

...

Hindari Jalan Ini Selama Perayaan Tahun Baru di Kota Parepare

Editor: Tohir Muhammad
31 Desember 2024

...

Berita Populer

  • Festival Budaya Gau Maraja Digelar 28 September, Terbuka untuk Publik dan Gratis

    Festival Budaya Gau Maraja Digelar 28 September, Terbuka untuk Publik dan Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bone BerAmal FC Juara Piala Gubernur Sulsel 2026, Tekuk Sidrap United Lewat Adu Penalti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanamkan Kedisplinan dan Nilai Agama, Tiga Sekolah di Parepare Ini Kompak Gelar Salat Duha Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masjid Al-Hijrah dan Rumah Tahfidz Muhammadiyah Akan Dibangun di Manisa, Butuhkan Anggaran Rp905 Juta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi