• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 18 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026
di Opini
Reshi Umi Hani (Aktivis Muslimah)

Reshi Umi Hani (Aktivis Muslimah)

Oleh : Reshi Umi Hani (Aktivis Muslimah)

Polisi Pamong Praja meringkus 37 remaja yang ditemukan kumpul kebo, di wilayah Samarinda pada Sabtu 29 November 2025. Razia ini dilakukan dalam rangka operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) gabungan yang menyasar sejumlah guest house di Samarinda. Selain penindakan susila, operasi ini juga mengindikasikan lain seperti miras dan sabu. 37 orang yang diamankan tersebut telah dibawa ke Kantor Satpol PP Samarinda untuk selanjutnya akan menjalani pembinaan dan pendataan.

Melihat satu kasus atau berita tersebut saja kita sudah menemukan banyak kerusakan yang terjadi di dalamnya. Mulai dari perzinahan, miras, dan narkoba. Itu semakin menunjukan bahwa kerusakan yang ada pada remaja saat ini bersifat kompleks dan sistemik. Mulai dari individu yang sekuler dan jauh dari ketakwaan pada Allah, mengakibatkan mereka berperilaku sesuka hawa nafsu mereka.

Tampak sangat terindra dengan jelas, bahwasanya anak-anak generasi hari ini sudah sangat jauh dari agama. Indonesia yang memiliki budaya timur, tapi mereka tak lagi mengenal apa itu budaya ketimuran yang memiliki kekhasan pada adab dan tingkah laku yang luhur dan merupakan cerminan dari agamanya. Generasi hari ini, tak segan-segan melakukan perbuatan keji hanya sekadar memuaskan nafsunya, tanpa memahami moral dan etika bahkan nilai agama.

Adapun masyarakat umum saat ini cenderung apatis, yang hanya membiarkan dan menormalisasikan kemaksiatan tersebut dengan berbagai alasan, entah untuk mendapatkan keuntungan dari kemaksiatan tersebut, maupun enggan terlibat dalam permasalahan yang ada dan justru memilih bungkam.

Berita Terkait

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Adapun negara sebagai institusi yang memiliki peran vital dalam membatasi tindak kemaksiatan tersebut pun gagal melindungi generasi yang terlanjur terjerumus, karena demokrasi jelas tidak pernah tegas dalam memberantas kemaksiatan. Negara yang berasaskan demokrasi pastilah hanya memikirkan keuntungan semata tanpa pertimbangan baik buruk nya dampak kebijakan tersebut terhadap masyarakat. Negara hanya melakukan razia pendataan pembinaan tanpa hukuman, jelas hal ini tidak memberi efek jera kepada mereka. Inilah bukti dari semakin meradangnya Kritis identitas generasi saat ini, lantas bagaimana negara bisa jadi pelopor perubahan jika nasibnya begini?

Sistem sekuler dan faham liberalismelah akar permasalahan yang saat ini semakin menjerat jiwa-jiwa anak muda. Ideologi kapitalisme telah menjadikan generasi yang kapital dan materialistik. Pendidikan yang dibangun sekadar mampu mencetak generasi yang siap kerja dan ditampung oleh para korporat dalam meraup keuntungan tapi minus akhlak dan moral.

Asas sekulerisme juga kian mengental dalam dunia pendidikan. Menjadikan agama hanya pada satu sisi dan tidak penting pada sisi lainnya. Seakan agama hanya dibawa saat ibadah, namun tidaklah menjad urgen saat terkait dengan urusan dunia. Jika terlalu agamis maka akan terkesan ekstremis, radikal, dan fundamentalis. Pada akhirnya, generasi menjadi phobia mempelajari agamanya sendiri, bahkan berani mempertentangkan syariat Allah dengan logika akalnya, sehingga generasi yang lahir adalah generasi liberal yang jauh dari peradaban luhur.

Ideologi kapitalisme juga menjadikan generasi gagap/gamang dengan agamanya. Satu sisi diperintahkan untuk menjalankan pendidikan sesuai karakter Pancasila salah satunya adalah untuk menjadi generasi yang bertaqwa pada Tuhan yang Maha Esa, namun di sisi lain dibenturkan dengan moderasi agama, monsterisasi ajaran Islam yang pada akhirnya secara perlahan karakteristik generasi dimandulkan.

Maka, asas ini mau tidak mau akan mencetak dan melahirkan generasi-generasi liberal dalam 4 hal. Yakni, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berkepemilikan dan kebebasan bertingkah laku. Dampak dari itu semua generasi muslim kian jauh dari Islam. Karakter khas yang harusnya melekat pada diri seorang muslim telah hilang dan menjadi generasi yang liberal dan hedonis, menghalalkan segala cara demi mewujudkan kesenangan semu. Seks bebas kian meningkat tajam, L987 menjadi lumrah dan wajar, jiwa materialisik kian menjelma, fatalnya jiwa-jiwa mereka sangatlah rapuh, lemah dan tak berkualitas. Nauzubillah tsumma nauzubillah

Islam sebagai agama yang sesuai akal dan fitrah menusia itu telah menunjukkan bukti yang nyata. Luhurnya peradaban di muka bumi ini, ketika mengembalikan segala hal pada aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. Hancurnya peradaban di bumi ini ketika kita dengan sombong mencampakkan aturan Ilahi.

Harusnya generasi muslim adalah generasi terbaik dan umat terbaik (Khairu Ummah) sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam firman-Nya. Mengembalikan masa kejayaan Islam yang terbukti pendidikannya mencetak generasi muda tangguh dan beradab. Mari selamatkan generasi kita dengan berjuang kembali apa yang Allah perintahkan dengan berislam Kaffah dalam semua aspek kehidupan.

Ada 3 komponen yang harus berjalan untuk bisa menciptakan generasi tangguh dan berakhlak mulia yaitu;
Pertama, adanya takwa individu. Ketakwaan ini hanya akan ada ketika aturan kehidupan hanya bersumber dari Islam saja bukan yang lain. Seorang muslim wajib yakin bahwa dunia ini adalah kehidupan sementara dan ada yaumul hisab yang harus kita lewati di hari akhirat kelak.

Kedua, kontrol masyarakat. Pendidikan tidak akan berhasil jika masyarakat pun tidak ikut andil. Maka masyarakat dibentuk untuk memiliki misi dakwah. Pengontrolan yang dilakukan bermisi langit, bahwa kemaksiatan itu akan berefek pada dirinya, keturunannya dan semua orang menanggung dosa jariyah.
Ketiga, negara menerapkan aturan Allah dan Rasul-Nya dalam semua aspek kehidupan. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan umatnya untuk masuk ke dalam Islam secara Kaffah.

Maka, seharusnya seorang muslim tidak mengambil aturan hidup yang lain kecuali hanya berhukum pada yang telah Allah tetapkan. Sejarah telah mencatat, ketika aturan kehidupan dikembalikan pada hukum Allah SWT, kesejahteraan, ketenangan, kedamaian, dan pendidikan terbukti mencetak generasi tangguh beriman lagi bertaqwa. Wallahu’alam bissawab. (*)

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Momen Ramadan, PSI Parepare Tebar Ratusan Takjil

Editor: Muhammad Tohir
17 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

BeritaTerkini

Aliran Sungai Pekkabata–Lampa Tersumbat Sampah

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

KAHMI Parepare Bukber, Berbagi hingga Diskusi

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

Safari Ramadan Hari ke-27, Tasming Hamid Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

Dugaan Pungli-Sajam di Pasar Pekkabata Pinrang, Pengelola Buka Suara

Dugaan Pungli-Sajam di Pasar Pekkabata Pinrang, Pengelola Buka Suara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan