Oleh : Eliska Sari, S.Pd
(Pemerhati Anak)
Rumah adalah tempat pulang saat dunia luar begitu mencekam bagi seorang anak. Rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, namun bagi sebagian anak, rumah justru menjadi ruang terakhir tempat mereka melihat dunia. Seperti yang terjadi di Samarinda, dua balita justru kehilangan nyawa di tangan ayah kandungnya sendiri, di dalam rumah mereka.
Kasus semacam ini bukan pertama kali terjadi . Fakta inipun bak fenomena gunung es yang hanya kita lihat ujung puncaknya saja, namun nyatanya kasus yang tidak ter-ekspos juga tak kalah banyak jumlahnya. Lalu , dimana ruang aman untuk anak-anak kita?
Data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) mencatat 13.845 laporan kasus kekerasan terhadap anak hingga Juni 2025, dengan kekerasan seksual sebagai bentuk terbanyak kedua. Di Kaltim sendiri, sepanjang 2024, tercatat sekitar 1.002 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, di mana 54,3% korban adalah anak perempuan . Dan hingga Maret 2025, tercatat tambahan 224 kasus kekerasan, dengan 50 kasus di Kota Samarinda—yang menjadikan Samarinda sebagai wilayah dengan jumlah laporan tertinggi di Kaltim .
Data nasional dan regional ini menunjukkan bahwa kekerasan pada anak bukan masalah satu-dua keluarga saja, melainkan fenomena sistemik. Kekerasan dalam keluarga seolah menjadi tren yang semakin banyak jumlahnya. Dan penyebab kekerasan dalam keluarga ini dilakukan ternyata didominasi oleh faktor ekonomi. Khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya , maka merekapun dibunuh. Khawatir anak-anak tidak mendapatkan kehidupan yang layak di masa depan, lalu mereka dihabisi nyawanya. Miris.
Kerusakan sistem kehidupan hari ini, memang membuat masyarakat hidup dalam tekanan ekonomi, ditambah minimnya dukungan mental, lemahnya ketahanan keluarga, dan budaya kekerasan yang juga diwariskan dalam beberapa keluarga. Undang-Undang perlindungan anakpun sudah ada, tapi gagal menyentuh akar masalahnya. Kompleks memang. Karena itulah kita butuh solusi yang juga kompleks, yang mengurai hingga akar masalah. Kenapa fenomena ini terus terjadi?
Rapuhnya keluarga, karena mayoritas keluarga hari ini juga jauh dari agama. Mereka hidup hanya sekedar hidup , tidak peduli halal haram. Akhirnya judol dan pinjolpun jadi solusi untuk menghidupi keluarga. Dan ini bukan semata-mata kesalahan individu, karena nyatanya mencari pekerjaan tidak semudah yang kita bayangkan. Mereka hidup dalam tekanan ekonomi, yang akhirnya memaksa mereka tidak bisa berpikir jernih, maka tidak jarang, saat sudah diambang batas emosi, membunuh anak dianggap jadi solusi. Lagi-lagi kita melihat, bahwa ternyata dalam persoalan semacam ini dibutuhkan peran negara yang hadir untuk memberi solusi . Negara yang hadir secara utuh, bukan hanya sekadar menerbitkan Undang-Undang.
Dalam Islam , membunuh anak dalam keluarga merupakan dosa besar. Allah berfirman yang artinya :
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31). Ayat ini melarang keras tindakan membunuh anak, baik secara langsung maupun melalui cara-cara yang menghilangkan hak hidupnya, dengan alasan takut kemiskinan. Sehingga dalam Islan, negara akan mengatur perlindungan jiwa sejak awal, karena nyawa seseorang begitu berharga nilainya. Negara akan memberikan pendidikan akhlak bagi setiap individu, pembinaan dalam keluarga, dan negarapun akan bertanggung jawab penuh dalam mengatasi problem ekonomi yang juga menjadi sebab utama kekerasan dalam keluarga ini.
Islam juga memiliki sanksi untuk mencegah perbuatan ini semakin banyak terjadi. Menangis saja tidak cukup, kita butuh sistem yang benar-benar menjaga anak-anak kita. Selama sistem sekulerisme yang menjauhkan manusia dari agama ini tidak diganti, kasus serupa akan terus berulang. Karena anak-anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, tapi juga cermin kegagalan atau keberhasilan sebuah negara. Saat kita diam, kita ikut membiarkan tragedi ini berulang.
Wallahua’lam












