PINRANG, PIJARNEWS.COM — Di musim panen, buah salak memenuhi kebun-kebun warga Dusun Batri, Desa Kaballangan, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Sebagian dijajakan di pinggir jalan, sebagian lagi dibeli pedagang yang datang langsung ke kampung. Namun, ketika panen melimpah dan pembeli tak kunjung datang, buah yang semula menjanjikan pendapatan itu justru berakhir menumpuk dan membusuk.
Persoalan itulah yang coba dijawab melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prodi Keperawatan, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Salak tidak lagi dilihat sekadar sebagai buah yang dijual dalam keadaan segar, tetapi sebagai bahan pangan yang dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi yakni Kripik Salak.
Sejumlah kader Posyandu dan masyarakat Desa Kaballangan mengikuti edukasi dan pelatihan yang memadukan pengetahuan gizi, pengolahan pangan, manajemen usaha, pengemasan higienis, hingga pemasaran. Kegiatan berlangsung pada Ahad (12/7/2026).

Tim PKM diketuai Harmawati, S.Kep.Ns., M.Kep., dosen Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar. Ia didampingi Nasrullah, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Makassar, serta Ulfa Najamuddin, S.Si., M.Kes., Ph.D., dosen bidang Gizi Universitas Hasanuddin. Tim PKM ini juga menyediakan peralatan mesin Vacum Frying dan Spinner kepada kelompok warga.
Bagi Harmawati, salak memiliki potensi yang lebih besar daripada sekadar dikonsumsi dalam keadaan segar. Pengetahuan mengenai gizi dan keterampilan mengolah bahan pangan lokal, menurut dia, dapat menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat.
“Salak tidak hanya dapat dikonsumsi dalam bentuk segar. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, buah ini dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah seperti kripik salak,” ujar Harmawati.
Edukasi diawali dengan pengenalan kandungan dan manfaat gizi buah salak. Peserta diajak memahami bahwa bahan pangan yang tumbuh di sekitar mereka dapat menjadi bagian dari pola konsumsi yang beragam.
Dari ruang edukasi, peserta kemudian diajak masuk ke tahap pengolahan.
Buah salak diperkenalkan sebagai bahan baku keripik. Peserta belajar bagaimana mengolahnya menjadi kudapan yang lebih praktis dan menarik. Namun, pelatihan tidak berhenti pada cara membuatnya.
Kebersihan selama proses produksi, kualitas bahan, pengemasan, dan tampilan produk juga menjadi perhatian. Sebab, produk pangan yang hendak dijual kepada konsumen tidak cukup hanya memiliki rasa yang enak. Produk juga harus higienis, aman, memiliki kemasan yang baik, dan mampu menarik perhatian pembeli.

Dari sisi manajemen, Nasrullah melihat pengolahan salak sebagai pintu masuk untuk mengenalkan kewirausahaan berbasis potensi lokal.
“Potensi ekonomi sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh bahan bakunya. Bagaimana produk dikemas, diberi identitas, ditentukan harganya, dan dipasarkan juga sangat menentukan daya saingnya,” kata Nasrullah.
Menurut dia, kemampuan masyarakat dalam mengolah produk perlu diikuti dengan kemampuan membaca pasar.
“Kalau kualitas produk konsisten dan strategi pemasarannya tepat, olahan salak dapat dikembangkan menjadi produk unggulan masyarakat. Pemasaran juga dapat memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memperluas pasar,” ujarnya.
Dengan pendekatan itu, perjalanan salak tidak berhenti ketika keripik selesai dibuat. Masih ada pekerjaan lain yakni membuat kemasan yang menarik, menentukan harga, membangun identitas produk, memperkenalkannya kepada konsumen, hingga mencari pasar yang lebih luas.
Dari perspektif gizi, Ulfa Najamuddin menilai pemanfaatan buah lokal merupakan langkah positif. Masyarakat tidak hanya diajak mengonsumsi bahan pangan yang tersedia di lingkungannya, tetapi juga memahami nilai gizinya.
“Edukasi gizi penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui cara mengolahnya, tetapi juga memahami manfaat dan kandungan gizinya,” ujar Ulfa.
Menurut dia, pengembangan pangan olahan harus tetap memperhatikan kualitas bahan dan keamanan proses produksi.
“Diversifikasi olahan pangan lokal merupakan hal yang baik, tetapi proses produksinya harus memperhatikan kebersihan, keamanan pangan, dan kualitas bahan. Dengan begitu, produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara ekonomi, tetapi juga layak dan aman dikonsumsi,” katanya.
Bagi warga, persoalan pengolahan salak bukan perkara kecil.
Salma, salah seorang kader Posyandu, mengatakan banyak warga di desanya memiliki kebun salak. Selama ini, hasil panen umumnya dijual dalam keadaan segar kepada pedagang yang datang ke kampung atau dijajakan di pinggir jalan.
Masalah muncul ketika musim panen tiba dan produksi meningkat.
“Kadang harga salak rendah. Bahkan ada kalanya pedagang tidak datang membeli. Akhirnya salak menumpuk dan membusuk,” kata Salma.
Kondisi itu membuat hasil kebun yang seharusnya menjadi sumber penghasilan justru tidak memberikan keuntungan berarti bagi warga.
Karena itu, Salma menilai pelatihan tersebut memberi pengetahuan baru bagi masyarakat. Tidak hanya tentang kandungan gizi salak, tetapi juga cara mengolahnya menjadi kudapan yang memiliki nilai jual.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu tentang gizi buah salak dan cara mengolahnya menjadi kudapan yang enak dan bergizi,” ujarnya.
Menurut Salma, peluang ekonomi dari salak tidak harus berhenti pada penjualan buah segar.
“Salak bisa meningkatkan penghasilan warga bukan hanya dengan menjualnya dalam keadaan segar. Buah ini bisa dijadikan kudapan yang bernilai lebih tinggi dan menjadi oleh-oleh khas dari Desa Kaballangan,” katanya.
Gagasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan hasil perkebunan tidak selalu selesai dengan meningkatkan produksi. Ketika panen melimpah, masyarakat membutuhkan cara agar hasil kebun tidak kehilangan nilai.
Pengolahan menjadi salah satu jalan.
Keripik dan berbagai produk olahan salak dapat menjadi bagian dari diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang usaha rumah tangga. Namun, peluang itu membutuhkan keberlanjutan, kualitas produk harus dijaga, proses produksi harus higienis, kemasan harus menarik, dan pemasaran harus terus dikembangkan.
Harmawati menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Riset, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi atas dukungan pendanaan program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Tahun 2026.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Makassar, para mahasiswa yang turut berkontribusi, serta kader Posyandu Desa Kaballangan yang menjadi mitra dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan.
“Penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada para kader Posyandu Desa Kaballangan yang telah mendukung dan berpartisipasi aktif dalam keberhasilan kegiatan PKM ini,” kata Harmawati.
Di Dusun Batri, salak dengan demikian mendapatkan kemungkinan hidup yang lain.
Ia tidak harus selalu berakhir di lapak pedagang atau membusuk ketika pembeli tak datang. Dengan pengetahuan, keterampilan, kemasan, dan pemasaran yang tepat, buah dari kebun warga itu dapat menempuh perjalanan baru, dari komoditas pertanian menjadi produk pangan bernilai tambah. Salak pun perlahan naik kelas. (rls/alf)










