OPINI–Setiap kali Isra Mi‘raj diperingati, ingatan kita sering diarahkan ke langit—pada perjalanan suci Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini merupakan pengalaman spiritual tertinggi yang tidak pernah dialami manusia sebelum dan sesudahnya. Namun, justru di titik inilah terdapat pesan penting yang kerap terlewat: Nabi tidak memilih menetap di langit, melainkan kembali ke bumi setelah menerima perintah salat.
Kepulangan Nabi dari langit itu bukan sekadar penutup kisah Isra Mi‘raj, melainkan inti pesan spiritualitas Islam. Iman sejati tidak berhenti pada pengalaman transenden, tetapi harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab nyata dalam kehidupan. Spiritualitas bukan pelarian dari realitas, melainkan kekuatan untuk mengelolanya dengan penuh kesadaran. Karena itu, kembali ke bumi berarti membawa amanah perbaikan, bukan pembiaran; membawa rahmat, bukan kerusakan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika kita melihat kondisi bumi hari ini. Krisis ekologis yang meluas menunjukkan bahwa manusia sering gagal mengelola amanah itu dengan baik. Banjir, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem bukan sekadar peristiwa alam yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian tanda rusaknya relasi manusia dengan lingkungannya. Tragedi demi tragedi, mulai dari tsunami Aceh 2004, likuefaksi Palu 2018, hingga banjir dan longsor yang berulang di Aceh dan Sumatra pada 2025, seharusnya cukup menjadi peringatan keras bagi kita semua.
Dalam skala yang lebih dekat, pesan ini juga relevan dengan kehidupan masyarakat di kota-kota pesisir seperti Parepare. Sebagai kota yang tumbuh di antara laut dan perbukitan, Parepare tidak sepenuhnya lepas dari persoalan lingkungan: genangan saat hujan lebat, tekanan terhadap ruang hijau, hingga persoalan sampah perkotaan. Meski tidak selalu hadir sebagai bencana besar, gejala-gejala ini menjadi penanda bahwa relasi manusia dengan alam perlu terus dibenahi sejak dari ruang hidup terdekat.
Pada titik inilah perspektif keimanan menjadi penting. Dalam pandangan Islam, krisis lingkungan bukan semata persoalan ilmiah atau teknis, melainkan juga persoalan iman. Alam bukan benda mati yang bebas dieksploitasi, tetapi ayat-ayat Tuhan yang terbentang luas. Setiap pohon, air, tanah, dan udara adalah tanda kebesaran Allah yang seharusnya dibaca dengan kesadaran dan rasa hormat. Karena itu, bumi diposisikan sebagai amanah, bukan warisan yang boleh dihabiskan sesuka hati, melainkan titipan yang harus dijaga keberlanjutannya.
Amanah tersebut diwujudkan melalui peran manusia sebagai khalifah fil ardh, pemimpin sekaligus penjaga di muka bumi. Peran ini menegaskan bahwa ibadah tidak pernah terpisah dari kepedulian ekologis. Salat, puasa, dan zikir seharusnya membentuk sikap hidup yang adil, termasuk adil terhadap alam. Amanah kekhalifahan menuntut keadilan ekologis: tidak rakus dalam mengambil, tidak serampangan dalam merusak, dan tidak abai terhadap dampak bagi generasi mendatang.
Prinsip ini bahkan tercermin dalam praktik ibadah yang paling sederhana. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw. menegur Sa‘ad yang berwudu secara berlebihan. Ketika ditanya apakah pemborosan juga berlaku dalam wudu, Nabi menjawab, “Ya, meskipun engkau berwudu di sungai yang mengalir.” Pesan ini sederhana tetapi mendalam: kesucian spiritual harus berjalan seiring dengan kesadaran ekologis.
Oleh karena itu, ekoteologi Islam tidak berhenti pada wacana atau jargon keagamaan. Ia menuntut kehadiran nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran ekologis justru dimulai dari hal-hal paling dekat: mengelola sampah, menjaga kebersihan lingkungan rumah dan masjid, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta merawat ruang hijau. Masjid-masjid di Parepare, sebagai pusat aktivitas keagamaan, memiliki potensi besar menjadi teladan dalam membangun budaya lingkungan yang bersih dan ramah.
Dari masjid pula, edukasi lingkungan dapat ditumbuhkan secara berkelanjutan. Ketika isu ekologis disampaikan dengan bahasa iman, pesan itu lebih mudah diterima dan dipraktikkan. Salat yang khusyuk semestinya melahirkan sikap hemat air, cinta kebersihan, dan keengganan merusak alam. Di situlah ekoteologi menemukan maknanya: ketika iman tidak berhenti di lisan, tetapi hadir dalam perilaku yang menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Pada akhirnya, peristiwa Isra Mi‘raj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual sejati tidak berhenti di langit, tetapi harus berdampak nyata di bumi. Spirit langit yang kita rayakan seharusnya menjelma menjadi aksi bumi: menjaga kebersihan kota, merawat alam pesisir, dan hidup lebih bijak. Menjadi khalifah berarti menjaga amanah, bukan menguasai bumi secara serakah. Karena itu, Isra Mi‘raj layak menjadi momentum pertobatan ekologis, berhenti merusak, mulai merawat, dan menghadirkan rahmat bagi semesta.
Selamat merayakan Isra Mi‘raj!







