• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 26 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Oleh: Ahmad Yasser Mansyur (Pusat Studi Psikologi Islam-Fakultas Psikologi UNM, Pembina Pesantren Hizbul Wathan Muhammadiyah Sul-Sel, dan Pengurus Asosiasi Psikologi Islam (API) Sul-Sel) 

Muhammad Tohir Editor: Muhammad Tohir
26 Mei 2026
di Opini

OPINI, PIJARNEWS.COM–Di tengah dunia yang semakin bising, manusia modern justru semakin akrab dengan kecemasan. Hidup berjalan begitu cepat, sementara tekanan hidup datang tanpa jeda. Harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan pekerjaan semakin kompetitif, dan ketidakpastian ekonomi membuat banyak orang hidup dalam kekhawatiran berkepanjangan. Di saat yang sama, media sosial menghadirkan standar kehidupan yang sering kali tidak realistis, memicu perasaan tertinggal, gagal, dan tidak cukup baik.

Tidak sedikit orang yang akhirnya hidup dalam kondisi lelah secara mental. Overthinking terhadap masa depan, burnout karena tuntutan pekerjaan, kesepian di tengah keramaian digital, hingga kecemasan yang perlahan menggerogoti ketenangan batin menjadi bagian dari realitas sehari-hari. World Health Organization bahkan menyebut gangguan kecemasan dan depresi sebagai salah satu tantangan kesehatan global yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Survei kesehatan mental pada kelompok usia produktif juga menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan tuntutan sosial menjadi faktor utama meningkatnya stres psikologis masyarakat modern.

Modernitas memang menawarkan kemudahan, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenteraman jiwa. Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan bahwa ketenangan sejati tidak hanya lahir dari kemapanan materi, tetapi juga dari kedekatan spiritual. Allah Swt. berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menunjukkan bahwa manusia sesungguhnya membutuhkan dimensi spiritual untuk menjaga keseimbangan mentalnya.

Dalam situasi seperti ini, manusia tidak hanya membutuhkan hiburan atau pelarian sesaat, tetapi juga ruang untuk memulihkan jiwanya. Menariknya, Islam telah menghadirkan nilai-nilai pemulihan mental dan spiritual itu melalui ritual-ritual ibadah yang sering kali dipahami sebatas kewajiban formal. Momentum Dzulhijjah—mulai dari Puasa Arafah, wukuf, Idul Qurban, hingga haji—sesungguhnya menyimpan pelajaran mendalam tentang bagaimana manusia merawat kesehatan mentalnya di tengah krisis kehidupan modern.

Puasa Arafah, misalnya, bukan hanya ibadah menahan lapar dan haus. Di tengah budaya instan yang membuat manusia terbiasa memenuhi semua keinginannya secara cepat, puasa mengajarkan kemampuan mengendalikan diri. Manusia modern hidup dalam ledakan distraksi: notifikasi media sosial, tuntutan konsumsi, hiburan tanpa batas, hingga dorongan untuk selalu terlihat sukses di hadapan orang lain. Akibatnya, banyak orang menjadi mudah impulsif, emosional, dan sulit merasa cukup.

Berita Terkait

Tak Ada Konten Tersedia

Dalam konteks psikologis, puasa melatih self-control atau kemampuan mengendalikan dorongan diri. Ketika seseorang mampu menahan lapar, haus, dan hawa nafsunya, ia sedang belajar bahwa dirinya tidak harus selalu mengikuti semua keinginan yang muncul. Dari sini, puasa menghadirkan ketenangan batin, kejernihan berpikir, dan kemampuan mengelola emosi. Puasa Arafah menjadi latihan spiritual agar manusia tidak diperbudak oleh nafsu, kecemasan, maupun tekanan hidup yang terus mengepung pikirannya.

Selain puasa, momentum wukuf di Arafah juga menyimpan makna psikologis yang sangat dalam. Wukuf bukan sekadar berkumpul di Padang Arafah, tetapi simbol berhentinya manusia dari seluruh hiruk pikuk dunia untuk kembali mengenali dirinya di hadapan Allah. Di era modern, manusia sering sibuk berlari mengejar target hidup tanpa pernah benar-benar berhenti untuk bertanya: untuk apa semua ini dijalani?

Krisis terbesar manusia modern mungkin bukan sekadar kelelahan fisik, melainkan kehilangan ruang untuk mendengarkan suara jiwanya sendiri. Banyak orang hidup dalam rutinitas yang padat, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal dirinya. Akibatnya, hidup terasa kosong meskipun secara materi terlihat cukup.

Wukuf mengajarkan pentingnya refleksi dan muhasabah. Dalam keheningan Arafah, manusia diingatkan tentang keterbatasannya, kesalahannya, harapannya, dan hubungannya dengan Tuhan. Di titik inilah spiritualitas bekerja sebagai proses healing. Manusia belajar menerima dirinya, berdamai dengan luka hidupnya, dan menemukan kembali makna keberadaannya.

Sementara itu, Idul Qurban mengajarkan pelajaran penting tentang pengorbanan ego. Dalam kehidupan modern, manusia sering terjebak dalam budaya individualisme dan narsisme. Media sosial membuat banyak orang berlomba menunjukkan pencapaian, kekayaan, dan citra diri terbaiknya. Tanpa disadari, manusia menjadi semakin sibuk membesarkan ego dan semakin jauh dari rasa empati terhadap sesama.

Padahal, banyak penelitian psikologi menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kebahagiaan pribadi, tetapi juga hubungan sosial yang sehat dan kemampuan berbagi dengan orang lain. Dalam konteks ini, qurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan simbol menyembelih keserakahan, kesombongan, dan cinta dunia yang berlebihan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa esensi qurban bukan terletak pada darah dan daging hewan yang disembelih, melainkan pada kualitas ketakwaan manusia. Allah Swt. berfirman, “Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian” (QS. Al-Hajj: 37). Ayat ini mengingatkan bahwa qurban sejatinya adalah proses penyucian jiwa dan pengendalian ego manusia.

Ketika seseorang berbagi daging qurban kepada sesama, sesungguhnya ia sedang membangun kembali nilai kemanusiaan yang mulai terkikis oleh budaya hidup individualistik. Empati, kepedulian sosial, dan rasa terhubung dengan orang lain merupakan bagian penting dari kesehatan mental manusia. Sebab manusia pada hakikatnya tidak bisa hidup sendiri.

Puncaknya adalah ibadah haji, yang tidak hanya menjadi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan transformasi psikospiritual manusia. Ihram mengajarkan kesederhanaan dan pelepasan identitas duniawi. Semua manusia memakai pakaian yang sama tanpa memandang status sosial, jabatan, atau kekayaan. Dalam thawaf, manusia belajar bahwa hidup seharusnya berpusat kepada Allah, bukan kepada ego dan ambisi dunia semata. Sementara sa’i mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan yang harus dijalani dengan harapan dan tawakal.

Seluruh rangkaian ibadah haji sesungguhnya merupakan proses rekonstruksi jiwa manusia. Ia mengajarkan kerendahan hati, kesabaran, penerimaan diri, pengendalian emosi, dan kedekatan spiritual kepada Tuhan. Nilai-nilai inilah yang justru semakin langka di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kompetitif, dan materialistik.

Rasulullah saw. bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim). Kekuatan yang dimaksud tentu bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan mental dan spiritual dalam menghadapi ujian kehidupan. Di tengah tekanan ekonomi, kompetisi sosial, dan krisis makna hidup yang semakin kompleks, manusia membutuhkan ketahanan batin agar tidak mudah rapuh menghadapi realitas kehidupan.

Karena itu, ritual-ritual Dzulhijjah tidak seharusnya dipahami hanya sebagai simbol keagamaan semata. Di dalamnya terdapat nilai-nilai psikologis yang sangat relevan bagi kehidupan manusia hari ini. Islam memandang kesehatan mental bukan sekadar bebas dari gangguan psikologis, tetapi juga tentang ketenangan hati, keseimbangan hidup, kebermaknaan, dan kedekatan spiritual dengan Tuhan.

Pada akhirnya, manusia modern mungkin tidak hanya membutuhkan kemajuan teknologi atau hiburan tanpa batas. Ia juga membutuhkan keheningan, pengendalian diri, makna hidup, dan ruang untuk kembali pulang kepada jiwanya sendiri. Dan melalui Puasa Arafah, wukuf, qurban, hingga haji, Islam sesungguhnya telah menghadirkan jalan spiritual untuk merawat mental manusia di tengah krisis kehidupan modern.

Terkait: ArafahWukufZulhijjah

TerkaitBerita

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

...

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Editor: Muhammad Tohir
26 Mei 2026

Diterima Wali Kota, Parepare Raih Penghargaan Nasional Pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional

Diterima Wali Kota, Parepare Raih Penghargaan Nasional Pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Pemkab Sidrap Paparkan Usulan Hibah Rekonstruksi Jembatan Botto-Bulcen ke BNPB RI

Pemkab Sidrap Paparkan Usulan Hibah Rekonstruksi Jembatan Botto-Bulcen ke BNPB RI

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Abrasi di Dusun Celallang, Bupati Pinrang Tinjau Lokasi

Abrasi di Dusun Celallang, Bupati Pinrang Tinjau Lokasi

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Jelang Idul Adha, Bupati Pinrang Pantau Harga di Pasar Sentral: Bahan Pokok Masih Stabil

Jelang Idul Adha, Bupati Pinrang Pantau Harga di Pasar Sentral: Bahan Pokok Masih Stabil

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan