SIDRAP, PIJARNEWS.COM – Desa Betao Riase di Kecamatan Pituriawa, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan (Sulsel), mendadak jadi magnet bagi para pencinta buah. Sudah satu bulan terakhir, desa ini memasuki musim panen raya si ‘Raja Buah’ alias durian.
Pantauan di lokasi pada Ahad (5/7/2026), iring-iringan kendaraan roda dua maupun roda empat tampak memadati jalanan desa. Suasana riuh layaknya konvoi kendaraan membuktikan betapa tingginya antusiasme warga dari berbagai daerah untuk berburu durian langsung dari pohonnya.
Para pengunjung yang datang umumnya berkelompok. Pola pembeliannya pun beragam, ada yang langsung menyerbu rumah warga, ada pula yang memesan sistem paket jauh-jauh hari.
“Ada yang pesan dulu, ada yang paket Rp 1 juta, Rp 2 juta, sampai Rp 3 juta. Itu sudah lengkap dengan gogos (nasi ketan). Nanti diantar ke lokasi tempat makan-makan. Umumnya mereka suka makan di pinggir sungai,” ujar Hj. Rasi salah seorang warga setempat.
Lonjakan pengunjung ini diakui langsung oleh Kepala Desa Betao Riase, Suardi Laupe. Hari libur akhir pekan, seperti Jumat, Sabtu, dan khususnya hari Ahad menjadi puncak kepadatan di desanya hingga memicu kemacetan di sejumlah titik.
“Kunjungan paling padat itu di hari Ahad (Minggu) karena orang kantoran libur. Kalau hari libur, bisa ratusan kendaraan yang masuk ke desa sampai membuat lorong-lorong tani macet,” ungkap Suardi kepada media.
Suardi menjelaskan bahwa Desa Betao Riase memiliki posisi yang sangat strategis untuk sektor perkebunan. Selain durian yang menjadi primadona, desa ini juga melimpah dengan buah rambutan dan langsat.
Menariknya, perputaran ekonomi di desa ini melonjak drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kuncinya ada pada perbaikan infrastruktur jalan yang mulai mulus.
“Tahun-tahun sebelumnya, orang berpikir dua kali mau ke sini karena jalanan banyak berlubang. Sekarang, alhamdulillah pengunjung naik tiga kali lipat dari tahun lalu karena akses jalan sudah bagus,” jelasnya.
Membludaknya wisatawan pencinta durian ini tentu membawa berkah luar biasa bagi dompet warga desa. Hasil bumi terbukti mampu mendongkrak perekonomian lokal secara signifikan.
“Kalau dirata-ratakan, penjual rumahan saja bisa meraih keuntungan (omzet) sampai Rp 5 juta per hari,” tutur Suardi.
Nilai tersebut belum termasuk pesanan yang masuk ke para pedagang besar atau mereka yang membuka lapak di spot-spot wisata tertentu.
Salah satu daya tarik utama yang membuat pengunjung betah berlama-lama di desa ini adalah sensasi menyantap durian di tepi sungai. Gemercik air yang jernih dipadu dengan udara pedesaan yang sejuk menjadi kombinasi yang sempurna.
“Ini salah satu jalur yang paling diminati karena di tepi sungai menyuguhkan kesejukan dan keindahan pemandangan,” imbuhnya.
Saat ini tercatat ada sekitar sembilan titik spot pinggir sungai di desa tersebut yang selalu dipadati oleh para penikmat durian. Melihat potensi yang begitu besar, pihak desa berharap ada pengembangan lebih lanjut untuk area wisata ini ke depan.
“Kami sangat berkeinginan bagaimana lokasi spot di pinggir sungai ini bisa dikembangkan lagi, supaya pengunjung bisa lebih santai makan durian sambil mandi-mandi di sungai,” pungkas Suardi.










