BANDUNG, PIJARNEWS.COM–Universitas Bosowa (UNIBOS) memperluas kontribusinya dalam pengembangan riset dan inovasi nasional melalui keterlibatan sebagai anggota Tim Pakar dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan dan Hilirisasi Teknologi RetinoScan yang diselenggarakan oleh Telkom University.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 6–7 November 2026 di Hotel Best Western Premier Bandung dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi dalam upaya mendukung pengembangan teknologi kesehatan berbasis kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Kolaborasi ini dikoordinasikan oleh Universitas Dipa (Undipa) sebagai Ketua Tim Pakar, bersama Universitas Bosowa, Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), dan Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Melalui forum tersebut, para akademisi dan pakar dari berbagai disiplin ilmu berkolaborasi untuk memberikan masukan terhadap penyempurnaan produk, penguatan validasi pasar, serta penyusunan strategi hilirisasi agar inovasi yang dikembangkan memiliki kesiapan untuk dimanfaatkan secara lebih luas.
Dalam kegiatan ini, UNIBOS diwakili oleh Prof. Dr. Firman Menne, S.E., M.Si., Ak., CA., yang berkontribusi melalui keahliannya di bidang akuntansi, keuangan, dan bisnis. Keterlibatannya difokuskan pada kajian kelayakan bisnis, analisis finansial, strategi komersialisasi, serta keberlanjutan model bisnis teknologi RetinoScan.
Tim pakar yang terlibat juga terdiri atas Dr. Ir. Rismayani, S.Kom., M.T., dari Universitas Dipa; Ir. Muhammad Faisal, Ph.D., dari Universitas Muhammadiyah Makassar; Dr. Ida I Dewa Ayu Yayati Wilyadewi dari Universitas Hindu Indonesia; serta Ikhsan Setiawan, S.H., M.H., dari unsur praktisi hukum.
Sementara itu, pengembangan teknologi RetinoScan dilakukan oleh tim inventor Telkom University yang diketuai oleh Dr. Eng. Murman Dwi Prasetia. Kehadiran para pakar dengan latar belakang keilmuan yang berbeda menjadi bagian penting dalam memastikan proses pengembangan teknologi tidak hanya memperhatikan aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kesiapan pasar, kelayakan ekonomi, serta aspek hukum yang berkaitan dengan implementasi produk.
RetinoScan merupakan inovasi perangkat skrining retina portabel berbasis Edge Artificial Intelligence (Edge AI) yang dikembangkan untuk mendukung deteksi dini retinopati diabetik, yaitu komplikasi diabetes yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Teknologi ini mengintegrasikan kamera fundus, perangkat NVIDIA Jetson Orin Nano Super, serta aplikasi mobile untuk melakukan analisis citra retina secara langsung tanpa bergantung pada koneksi internet.
RetinoScan juga dilengkapi teknologi Explainable AI berbasis Grad-CAM yang memungkinkan hasil analisis ditampilkan secara lebih informatif. Berdasarkan hasil uji validasi di Laboratorium Digital Twin Telkom University pada 29 Juni 2026, model AI RetinoScan Prototype v1.0 mencatat tingkat akurasi sebesar 98,39 persen dan mampu mengklasifikasikan tujuh tingkat keparahan retinopati diabetik.
Hasil pengujian tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan teknologi menuju Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 6–8, dengan tetap memerlukan tahapan validasi dan pengujian lanjutan sebelum dapat diterapkan secara lebih luas dalam pelayanan kesehatan.
Pelaksanaan FGD ini merupakan bagian dari tahapan validasi pasar dalam Program Hilirisasi Riset – Dorongan Teknologi yang bertujuan menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan pengguna dan peluang implementasi di masyarakat. Pembahasan diarahkan pada berbagai aspek pengembangan RetinoScan, mulai dari identifikasi kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan, penerimaan calon pengguna, kajian kesediaan membayar atau willingness to pay, hingga penyusunan model bisnis yang sesuai dengan karakteristik produk.
Selain itu, tim pakar turut memberikan masukan mengenai struktur biaya, keterjangkauan harga, skema pendapatan, layanan perangkat lunak, pemeliharaan perangkat, serta peluang pengembangan layanan digital berbasis cloud. Melalui proses tersebut, inovasi RetinoScan diharapkan tidak hanya berkembang dari sisi kemampuan teknologi, tetapi juga memiliki perencanaan bisnis dan strategi pemanfaatan yang mendukung keberlanjutan produk ketika memasuki tahap implementasi.
Prof. Dr. Firman Menne, S.E., M.Si., Ak., CA., dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa hilirisasi hasil penelitian membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dengan mempertemukan keunggulan teknologi, kebutuhan pengguna, serta pertimbangan ekonomi dan keberlanjutan finansial. Menurutnya, inovasi yang dihasilkan melalui kegiatan riset perlu memiliki arah pengembangan yang jelas agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Keberhasilan hilirisasi riset tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana inovasi tersebut mampu menjawab kebutuhan pengguna, memiliki model bisnis yang layak, serta dapat diimplementasikan secara berkelanjutan. Karena itu, kolaborasi antara pengembang teknologi dan tim pakar dari berbagai perguruan tinggi menjadi sangat penting untuk menjembatani hasil riset dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ungkapnya.
Pandangan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kontribusi keilmuan akuntansi, keuangan, dan bisnis dalam mendukung pengembangan inovasi lintas bidang, termasuk teknologi kesehatan yang membutuhkan pertimbangan komersialisasi sebelum dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Hasil diskusi bersama tim pakar selanjutnya akan menjadi bahan penyempurnaan produk dan penyusunan strategi hilirisasi RetinoScan, termasuk rencana implementasi terbatas melalui kerja sama dengan rumah sakit, puskesmas, dan klinik mata sebagai mitra uji coba. Tahapan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kesiapan teknologi, penerimaan pengguna, serta potensi pemanfaatannya dalam mendukung layanan deteksi dini gangguan kesehatan mata.
Bagi Universitas Bosowa, keterlibatan dalam kolaborasi bersama Telkom University, Undipa, Unismuh Makassar, dan UNHI menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus memperkuat kontribusi keilmuan dalam pengembangan inovasi nasional. Melalui sinergi lintas perguruan tinggi dan disiplin ilmu, UNIBOS terus mendorong peran aktif akademisi dalam mendukung hilirisasi hasil penelitian, sehingga pengembangan teknologi tidak hanya berhenti pada capaian laboratorium, tetapi juga memiliki peluang untuk memberikan nilai tambah dan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. (adv)












