• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 15 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

OPINI : Kemenangan di Tengah Krisis

Editor: Alfiansyah Anwar
23 Mei 2020
di Opini
OPINI : Kemenangan di Tengah Krisis

OPINI — Sebentar lagi bulan suci ramadhan akan pamit, tinggal menghitung jam dari tiap detik, kaum muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Hari yang dinanti-nanti oleh jutaan muslim sedunia setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan ramadhan.

Idul Fitri di Indonesia juga seringkali disebut hari lebaran, yang dikaitkan dengan kata kemenangan. Ada banyak penjelasan mengenai kemenangan Idul Fitri, khususnya di kalangan para ulama umumnya mereka mengatakan bahwa pada tanggal 1 Syawal, setelah satu bulan penuh berpuasa, menekan hawa nafsu, kaum muslim tak ubahnya bayi yang baru lahir polos dan suci. Sering juga dimaknai perumpamaan ulat yang bertransformasi menjadi kupu-kupu setelah sekian lama berpuasa di dalam kepompong. Sang ulat yang rakus dan buruk rupa, menjelma hewan yang cantik dan mempesona. Begitulah gambaran kaum muslim saat memperoleh kemenangan.

Pengertian di atas secara ruhiah individual bisa jadi benar meraih kemenangan. Namun dengan kondisi riil yang dihadapi kaum muslimin saat ini masih banyak yang menjerit karena kesulitan ekonomi, terlilit utang, tentu kemenangan yang sesungguhnya, adalah bagi mereka yang bisa menjaga kesucian diri (tazkiyah al-Nafs) yang terisolasi dengan problem material dan ancaman kesehatan akibat pandemi Covid-19.

Kebijakan pemerintah atas wabah covid 19 sejak bulan rajab sebulan sebelum ramadhan tiba, pemerintah sudah megeluarkan himbauan dan larangan berinteraksi dengan orang lain atau social distancing, stay at home, bahkan pemberlakuan PSBB di beberapa daerah yang tergolong zona merah demi memutus mata rantai penyebaran virus corona. Dari beberapa imbauan, larangan “shalat berjamaah dan shalat jumat di mesjid” paling banyak menuai protes dan perdebatan di kalangan kaum muslimin, dengan alasan masih banyak objek vital dan tempat umum yang terbuka ramai aktivitas seperti pasar dan mall, sementara shalat di mesjid hanya beberapa menit, tapi dilarang.

BeritaTerkait

Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

14 Juli 2026
Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

8 Juli 2026
Bertanya di Tengah Era Algoritma

Bertanya di Tengah Era Algoritma

24 Juni 2026
Nasab Ba‘alawi

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

15 Juni 2026

Pada tahun ini suasana ramadhan benar-benar berubah, lebih sunyi karena mesjid-mesjid ditutup. Tapi ini mengajarkan kepada kita tentang hakikat ramadhan untuk lebih berintrospeksi diri (muhasabah). Meski demikian, ummat islam masih telihat semangat solidaritas berbagi dalam situasi pandemi ini, pembagian zakat, infak, dan sedeqah juga lebih terarah dan menyeluruh terutama kepada korban dampak pandemi covid 19, artinya ladang untuk berbagi terbuka lebar.

Kondisi yang sangat kompleks ini, makin membuat ummat islam semakin terisolasi, yang tidak hanya masalah ibadah tapi juga persoalan ekonomi. Begitu banyak rute cobaan yang kita jalani hingga ramadhan ini akan berakhir.

Selanjutnya apakah ummat islam mendapatkan kemenangan di tengah krisis? Meski pertanyaan ini sederhana, tapi susah mendapat jawaban yang kokoh bila dikaitkan dengan persoalan material individual yang dihadapi kaum muslimin saat ini, kemenangan dalam hari raya Idul Fitri, yang harus digapai tidak boleh hanya berhenti pada ranah mental-individual, tapi juga secara material dalam kehidupan nyata pasca ramadhan.

Kemenangan yang hakiki adalah bagi mereka yang telah berjuang, berjihad dengan sungguh-sungguh selama ramadhan menahan hawa nafsu termasuk bersabar menghadapi ujian di tengah krisis dampak Covid-19.

Wallahu a’lam

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

Semoga Allah menerima puasa dan amal kita semua. Amiin (*) 

*Penulis: Sdr. Hamka, penulis adalah pemilik usaha Sinar Agung.

Terkait: Idul Fitriramadhan

BeritaTerkait

Lebaran di Negeri Sakura, Haru Perantau Sidrap Jadi Imam Salat Id di Jepang

Lebaran di Negeri Sakura, Haru Perantau Sidrap Jadi Imam Salat Id di Jepang

Editor: Tohir Muhammad
22 Maret 2026

...

Bupati Pinrang: Idul Fitri Bukan Sekadar Perayaan, tapi Momentum Pererat Kebersamaan

Bupati Pinrang: Idul Fitri Bukan Sekadar Perayaan, tapi Momentum Pererat Kebersamaan

Editor: Tohir Muhammad
22 Maret 2026

...

Rayakan Idul Fitri di Lapangan Andi Makkasau, Wali Kota Parepare Paparkan Capaian

Editor: Tohir Muhammad
21 Maret 2026

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi