• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 13 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Anak Anda Egois, Ajari Ia Mallongga

Abdillah MS Editor: Abdillah MS
7 April 2019
di Budaya dan Sastra, Opini

OPINI, PIJARNEWS.COM — Semuanya masih terekam dalam ingatan, dan terpatri begitu kuat, bagaimana dulu saya menghabiskan masa kecil di kampung halaman. Bahkan nyaris, kelezatan  masakan ibu saya abaikan, karena ingin bermain usai jam sekolah. Begitupun ajakan untuk mengaji di surau atau “perintah” tidur siang, kerap kami tak patuhi, akibat godaan bermain dengan teman sebaya.

Menjadi peserta dalam sebuah permainan tradisional, seperti Malongga (Berjalan dengan bambu), Maggoli (Bermain kelereng), Makkacubbu (Petak Umpet), Mappacamali mali (Bermain di arus sungai saat banjir), ma’temba temba (main perang perangan) adalah kebanggaan. Meski itu tanpa pengakuan, tanpa piala, tanpa sertifikat yang berstempel nasional, maupun internasional. Tapi, kami bahagia dan bangga.

Permainan-permainan itu memang dibingkai dengan persaingan, namun itu sehat. Saat permainan usai, semuanya kembali dalam tawa ria. Tak ada dendam ataupun amarah. Sebab esok harinya, lawan bermain kami, menjadi teman kami dalam permainan lainnya.

Uniknya, saat menentukan kelompok bermain, tak ada yang mengatur atau rekayasa dan tendensi. Siapa memilih siapa. Mengalir begitu saja. Lalu semuanya tenggelam dalam irama permainan. Lalu bubar serentak, saat adzan mengalun dari bilik surau.

Kini, jenis permainan itu sudah jarang ditemui. Bahkan terkesan sudah hilang. Tak lagi ada riuh anak-anak bermain di pelataran masjid, atau teriakan bocah lincah, di bawah kolong rumah kayu, maupun di bantaran sungai.

Berita Terkait

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Jika direnungi lebih jauh, permainan permainan tradisional di atas, memang tak membutuhkan sisi kognitif dalam porsi besar. Lebih dominan sisi psikomotrik, dan afektif. Lebih mengutamakan sikap dan skill atau nilai dan kemampuan. Dan lebih mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang memiliki tenggang rasa.

Maka tak heran, karakter mereka dengan konsep bermain permainan tradisional, masih mengutamakan nilai sipakainge. Seperti, saat salah seorang teman mereka terjatuh dan terluka saat bermain. Mereka tak egois. Bahkan kerap permainan usai begitu saja, saat salah seorang rekan bermain atau “lawan” main mereka, mengalami insiden tertentu.

Itu adalah bentuk kepedulian. Karena semuanya tidak fokus pada hasil permainan. Lebih mengindahkan kebersamaan (proses), dibanding hasil akhir. Dan lagi lagi, itu adalah bentuk keprihatinan.

Berbeda dengan konsep permainan “Game” khususnya di ponsel cerdas saat ini. Bisa bermain dengan berbagai fitur permainan, meskipun sendiri. Tak butuh orang lain. Tak perlu bersosialisasi.

Rata rata permainan lebih menonjolkan hasil akhir. Lebih menekankan hasil ketimbang proses. Tak ada tenggang rasa, ataupun menolong.

Kini semuanya terganti, dengan permainan mengandalkan tekhnologi. Dan menjadi penyebab anak anak saat ini, lebih peduli dengan kecanggihan tablet, dan android miliknya (up to date), ketimbang memperhatikan lingkungan sosialnya.

Maka tak heran, jika anak anak itu kelak akan tumbuh sebagai pribadi yang tidak acuh dengan sekitarnya. Bermasa bodoh dengan lingkungan sosialnya. Egois dengan kondisi tetangganya.

Ironisnya, semua itu seolah didukung dengan sikap orang tua masa kini. Bahkan menjadi tren, orang tua saat ini, baru menganggap  prestasi, jika si anak sudah sudah mampu menyodorkan lembaran kertas (sertifikat), dari berbagai even.

Bukan saat mereka mampu memberikan pertolongan kepada sesama hamba, atau makhluk. Saya khawatir, menolong itu tak lagi dianggap, karena tak bersertifikat. Dan saya lebih takut lagi, jika itu menjadi kebiasaan “ habitus”.

Orang tua juga sepertinya lebih mengiyakan, saat anaknya merengek agar tanggal kelahirannya (ulang tahun), diperingati dengan meriah. Ketimbang mengajari anaknya, untuk bersosialisasi dan mengulurkan tangan bagi kaum marginal, atau kaum yang tersisih oleh kebijakan memihak.

Kejadian di atas mengingatkan saya dengan teori habitus yang diperkenalkan oleh Bourdieu. Bahwa kebiasaan “Struktur mental atau kognitif” yang digunakan actor untuk menghadapi kehidupan sosial. Dimana kebiasaan merekalah yang akan menjadi frame, dan digunakan untuk merasakan memahami, menyadari dunia sosialnya.  

Jika sejak kecil anak anak kita tak pernah diajarkan tolong menolong, tak diajarkan kepedulian kepada sesama, khususnya dalam dunia bermain, maka kelak mereka akan menjadi pribadi pribadi dan penerus bangsa yang egois. Tak peduli dengan ketimpangan ketimpangan sosial.

Maka akan bijak wahai para orang tua, jika anda memperkenalkan kepada anak anak akan permainan tradisional, seperti Malongga (Berjalan dengan bambu), Maggoli (bermain kelereng), Makkacubbu (Petak Umpet), Mappacamali mali (Bermain di arus sungai saat banjir), Ma’temba temba (main perang perangan). Karena disitu ada nilai tenggang rasa, ada nilai tolong menolong, dan tentu mereka dilatih untuk peduli kepada sesama. (*)

Penulis: Akhwan Ali

Mahasiswa (S3) Sosiologi Universitas Negeri Makassar

Terkait: Akhwan AliAnakEgoisMahasiswa S3MallonggaOpiniPermainan TradisionalUniverstas Negeri Makassar

TerkaitBerita

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
4 Mei 2026

...

Berita Terkini

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Jawab Keluhan Warga, Wali Kota Parepare Turun Langsung Pantau Penanganan Drainase

Jawab Keluhan Warga, Wali Kota Parepare Turun Langsung Pantau Penanganan Drainase

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Siap Digelar, Diikuti 500 Atlet dari Dalam dan Luar Sulsel

Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Siap Digelar, Diikuti 500 Atlet dari Dalam dan Luar Sulsel

Editor: Muhammad Tohir
12 Mei 2026

ISEI Mamuju Punya Ketua Baru, Wahyu Maulid Adha Siap Perkuat Kolaborasi Ekonomi

ISEI Mamuju Punya Ketua Baru, Wahyu Maulid Adha Siap Perkuat Kolaborasi Ekonomi

Editor: Muhammad Tohir
12 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan