• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Budaya dan Sastra

Anak Anda Egois, Ajari Ia Mallongga

Editor: Abdillah MS
7 April 2019
di Budaya dan Sastra, Opini
Anak Anda Egois, Ajari Ia Mallongga

OPINI, PIJARNEWS.COM — Semuanya masih terekam dalam ingatan, dan terpatri begitu kuat, bagaimana dulu saya menghabiskan masa kecil di kampung halaman. Bahkan nyaris, kelezatan  masakan ibu saya abaikan, karena ingin bermain usai jam sekolah. Begitupun ajakan untuk mengaji di surau atau “perintah” tidur siang, kerap kami tak patuhi, akibat godaan bermain dengan teman sebaya.

Menjadi peserta dalam sebuah permainan tradisional, seperti Malongga (Berjalan dengan bambu), Maggoli (Bermain kelereng), Makkacubbu (Petak Umpet), Mappacamali mali (Bermain di arus sungai saat banjir), ma’temba temba (main perang perangan) adalah kebanggaan. Meski itu tanpa pengakuan, tanpa piala, tanpa sertifikat yang berstempel nasional, maupun internasional. Tapi, kami bahagia dan bangga.

Permainan-permainan itu memang dibingkai dengan persaingan, namun itu sehat. Saat permainan usai, semuanya kembali dalam tawa ria. Tak ada dendam ataupun amarah. Sebab esok harinya, lawan bermain kami, menjadi teman kami dalam permainan lainnya.

Uniknya, saat menentukan kelompok bermain, tak ada yang mengatur atau rekayasa dan tendensi. Siapa memilih siapa. Mengalir begitu saja. Lalu semuanya tenggelam dalam irama permainan. Lalu bubar serentak, saat adzan mengalun dari bilik surau.

BeritaTerkait

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

24 September 2026
Festival Budaya Gau Maraja Digelar 28 September, Terbuka untuk Publik dan Gratis

Festival Budaya Gau Maraja Digelar 28 September, Terbuka untuk Publik dan Gratis

21 September 2026
Senyum Di Balik Truk Batu Bara

Senyum Di Balik Truk Batu Bara

20 September 2026
Moderasi Beragama di Ruang Digital: Menjaga Perbedaan di Tengah Derasnya Informasi

Moderasi Beragama di Ruang Digital: Menjaga Perbedaan di Tengah Derasnya Informasi

16 September 2026

Kini, jenis permainan itu sudah jarang ditemui. Bahkan terkesan sudah hilang. Tak lagi ada riuh anak-anak bermain di pelataran masjid, atau teriakan bocah lincah, di bawah kolong rumah kayu, maupun di bantaran sungai.

Jika direnungi lebih jauh, permainan permainan tradisional di atas, memang tak membutuhkan sisi kognitif dalam porsi besar. Lebih dominan sisi psikomotrik, dan afektif. Lebih mengutamakan sikap dan skill atau nilai dan kemampuan. Dan lebih mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang memiliki tenggang rasa.

Maka tak heran, karakter mereka dengan konsep bermain permainan tradisional, masih mengutamakan nilai sipakainge. Seperti, saat salah seorang teman mereka terjatuh dan terluka saat bermain. Mereka tak egois. Bahkan kerap permainan usai begitu saja, saat salah seorang rekan bermain atau “lawan” main mereka, mengalami insiden tertentu.

Itu adalah bentuk kepedulian. Karena semuanya tidak fokus pada hasil permainan. Lebih mengindahkan kebersamaan (proses), dibanding hasil akhir. Dan lagi lagi, itu adalah bentuk keprihatinan.

Berbeda dengan konsep permainan “Game” khususnya di ponsel cerdas saat ini. Bisa bermain dengan berbagai fitur permainan, meskipun sendiri. Tak butuh orang lain. Tak perlu bersosialisasi.

Rata rata permainan lebih menonjolkan hasil akhir. Lebih menekankan hasil ketimbang proses. Tak ada tenggang rasa, ataupun menolong.

Kini semuanya terganti, dengan permainan mengandalkan tekhnologi. Dan menjadi penyebab anak anak saat ini, lebih peduli dengan kecanggihan tablet, dan android miliknya (up to date), ketimbang memperhatikan lingkungan sosialnya.

Maka tak heran, jika anak anak itu kelak akan tumbuh sebagai pribadi yang tidak acuh dengan sekitarnya. Bermasa bodoh dengan lingkungan sosialnya. Egois dengan kondisi tetangganya.

Ironisnya, semua itu seolah didukung dengan sikap orang tua masa kini. Bahkan menjadi tren, orang tua saat ini, baru menganggap  prestasi, jika si anak sudah sudah mampu menyodorkan lembaran kertas (sertifikat), dari berbagai even.

Bukan saat mereka mampu memberikan pertolongan kepada sesama hamba, atau makhluk. Saya khawatir, menolong itu tak lagi dianggap, karena tak bersertifikat. Dan saya lebih takut lagi, jika itu menjadi kebiasaan “ habitus”.

Orang tua juga sepertinya lebih mengiyakan, saat anaknya merengek agar tanggal kelahirannya (ulang tahun), diperingati dengan meriah. Ketimbang mengajari anaknya, untuk bersosialisasi dan mengulurkan tangan bagi kaum marginal, atau kaum yang tersisih oleh kebijakan memihak.

Kejadian di atas mengingatkan saya dengan teori habitus yang diperkenalkan oleh Bourdieu. Bahwa kebiasaan “Struktur mental atau kognitif” yang digunakan actor untuk menghadapi kehidupan sosial. Dimana kebiasaan merekalah yang akan menjadi frame, dan digunakan untuk merasakan memahami, menyadari dunia sosialnya.  

Jika sejak kecil anak anak kita tak pernah diajarkan tolong menolong, tak diajarkan kepedulian kepada sesama, khususnya dalam dunia bermain, maka kelak mereka akan menjadi pribadi pribadi dan penerus bangsa yang egois. Tak peduli dengan ketimpangan ketimpangan sosial.

Maka akan bijak wahai para orang tua, jika anda memperkenalkan kepada anak anak akan permainan tradisional, seperti Malongga (Berjalan dengan bambu), Maggoli (bermain kelereng), Makkacubbu (Petak Umpet), Mappacamali mali (Bermain di arus sungai saat banjir), Ma’temba temba (main perang perangan). Karena disitu ada nilai tenggang rasa, ada nilai tolong menolong, dan tentu mereka dilatih untuk peduli kepada sesama. (*)

Penulis: Akhwan Ali

Mahasiswa (S3) Sosiologi Universitas Negeri Makassar

Terkait: Akhwan AliAnakEgoisMahasiswa S3MallonggaOpiniPermainan TradisionalUniverstas Negeri Makassar

BeritaTerkait

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

Editor: Tim Redaksi
24 September 2026

...

Senyum Di Balik Truk Batu Bara

Senyum Di Balik Truk Batu Bara

Editor: Tim Redaksi
20 September 2026

...

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
29 Agustus 2026

...

Berita Populer

  • Festival Budaya Gau Maraja Digelar 28 September, Terbuka untuk Publik dan Gratis

    Festival Budaya Gau Maraja Digelar 28 September, Terbuka untuk Publik dan Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bone BerAmal FC Juara Piala Gubernur Sulsel 2026, Tekuk Sidrap United Lewat Adu Penalti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawali Parepare Jawab Pandangan Fraksi DPRD soal Perubahan APBD 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masjid Al-Hijrah dan Rumah Tahfidz Muhammadiyah Akan Dibangun di Manisa, Butuhkan Anggaran Rp905 Juta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi