• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 15 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Nasional

Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

Oleh: Alfiansyah Anwar

Editor: Alfiansyah Anwar
14 Juli 2026
di Nasional, Opini
Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

Ada kota yang membuat orang sibuk memotret gedung-gedungnya. Ada kota yang dikenang karena kulinernya. Ada pula kota yang memikat karena panorama alamnya.

Palu memberikan kesan yang berbeda.

Kota di pesisir Teluk Palu, Sulawesi Tengah, ini membuat saya beberapa kali memperlambat langkah. Bukan sekadar untuk menikmati bentangan laut dan pegunungan yang mengelilinginya, tetapi untuk mencari sesuatu yang justru sulit ditemukan: sampah.

Selama lima hari, 7–11 Juli 2026, saya menyusuri sejumlah ruas jalan di ibu kota Sulawesi Tengah itu. Kehadiran saya di Palu sebenarnya untuk menjalankan tugas kehumasan dari IAIN Parepare meliput Pekan Olahraga, Riset, dan Orientasi Seni Indonesia Timur (Poros Intim) IV di UIN Datokarama Palu.

Namun, di sela perpindahan dari arena pertandingan, ruang presentasi riset, hingga berbagai agenda kegiatan, ada satu hal yang terus menarik perhatian: wajah kota yang bersih.

Jalan-jalan protokol tampak terawat. Lorong-lorong permukiman warga terlihat rapi. Drainase di sejumlah titik tidak dipenuhi sampah plastik. Di depan rumah-rumah warga hampir tidak terlihat tumpukan sampah yang mengganggu pemandangan.
Palu seperti sedang memperlihatkan sebuah kebiasaan.
Bukan sekadar program.
Tetapi budaya.

BeritaTerkait

Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

8 Juli 2026
Bertanya di Tengah Era Algoritma

Bertanya di Tengah Era Algoritma

24 Juni 2026
Nasab Ba‘alawi

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

15 Juni 2026
Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

13 Juni 2026

3. Palu, Kota yang Mengubah Kebersihan Menjadi Identitas

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari berapa banyak penghargaan yang tersimpan di ruang kerja pemerintah. Penghargaan seperti Piala Adipura memang menjadi simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan, tetapi ukuran paling penting adalah ketika kebersihan telah menjadi kesadaran yang hidup di tengah masyarakat.
Kota Palu pernah merasakan penghargaan tersebut. Berdasarkan informasi yang berkembang, Palu meraih penghargaan Adipura pada 2023 dan 2024. Penghargaan itu menjadi apresiasi atas upaya pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Namun pada 2025, Palu belum kembali meraih Adipura dan hanya masuk kategori sebagai kota menuju bersih.

Bagi sebuah kota yang sedang membangun kembali wajahnya setelah bencana besar 2018, capaian tersebut bukan akhir dari perjalanan.
Justru menjadi pengingat.
Kebersihan bukan perlombaan sesaat.
Ia adalah pekerjaan panjang yang membutuhkan ketekunan.
Kota yang bersih bukan lahir ketika penilaian datang.
Ia lahir ketika tidak ada kamera yang mengawasi, tetapi warga tetap memilih membuang sampah pada tempatnya.
Di situlah letak makna budaya.
Budaya tidak dibangun dalam sehari.
Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Satu rumah menjaga halaman.
Satu warga menjaga lorong.
Satu pedagang menjaga tempat usahanya.
Satu komunitas menjaga ruang publik.
Dari tindakan-tindakan kecil itulah wajah sebuah kota dibentuk.
Palu dan Masa Depan Kota Wisata
Palu memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kota tujuan wisata di kawasan timur Indonesia.
Teluk Palu yang membentang indah, gugusan pegunungan yang mengelilingi kota, serta jejak sejarah kebangkitan masyarakat setelah bencana adalah kekuatan yang tidak dimiliki semua daerah.
Namun keindahan alam membutuhkan pasangan yang tidak kalah penting: kebersihan.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat panorama.
Mereka datang untuk merasakan suasana.
Mereka ingin berjalan di ruang publik yang nyaman.
Mereka ingin menikmati pantai tanpa gangguan sampah.
Mereka ingin melihat masyarakat yang ramah dan peduli terhadap lingkungan.
Karena itu, menjaga kebersihan bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga investasi masa depan.
Kota yang bersih akan menciptakan rasa nyaman.
Rasa nyaman akan melahirkan kepercayaan.
Dan kepercayaan akan membuka peluang ekonomi.
Jika Palu terus menjaga kebiasaan baik ini, bukan tidak mungkin suatu hari orang datang bukan hanya karena ingin melihat keindahan alamnya, tetapi juga ingin menyaksikan bagaimana sebuah kota berhasil membangun budaya bersih dari kesadaran warganya.

Dari Palu Kita Belajar

Perjalanan ke Palu dalam rangka meliput Poros Intim IV di UIN Datokarama Palu akhirnya memberikan pelajaran yang lebih luas dari sekadar berita olahraga, riset, dan seni.
Saya datang membawa kamera, catatan, dan tugas jurnalistik.
Namun saya pulang membawa sebuah refleksi.
Bahwa kebangkitan sebuah kota tidak selalu dimulai dari bangunan besar.
Kadang ia dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Dari warga yang tidak membuang sampah sembarangan.
Dari petugas yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Dari pemerintah yang berani membuat aturan.
Dari media yang terus mengingatkan.
Dari tokoh agama yang menyampaikan pesan moral.
Dari masyarakat yang merasa kota ini adalah rumah bersama.
Palu mengajarkan bahwa hukum tidak cukup hanya tertulis di atas kertas. Ia harus dikomunikasikan agar dipahami. Ia harus diterapkan agar dihormati. Dan ia harus diterima agar berubah menjadi budaya.
Komunikasi memberi arah.
Hukum memberi batas.
Kesadaran masyarakat memberi kehidupan.
Ketiganya bertemu dalam satu tujuan: menciptakan ruang hidup yang lebih baik.
Ada sebuah pameo sederhana yang patut direnungkan:
“Jika tidak mampu membersihkan, jangan mengotori.”
Kalimat itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan peradaban.
Sebab menjaga kebersihan bukan hanya tentang membuang sampah pada tempatnya.
Ia tentang menghargai orang lain.
Ia tentang mencintai lingkungan.
Ia tentang mewariskan kota yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kota yang indah bukan hanya kota yang memiliki gedung megah atau jalan yang lebar.
Kota yang indah adalah kota yang warganya memiliki hati untuk merawatnya.
Palu sedang menunjukkan itu.
Di bawah cahaya malam Teluk Palu, di antara deretan lampu kota dan bayangan pegunungan yang mengelilinginya, ada sebuah pesan yang perlahan terbaca:
Bahwa kota yang pernah terluka pun mampu bangkit.
Bahwa kota yang pernah hancur pun mampu mempercantik diri.
Dan bahwa sebuah peradaban besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil: menjaga kebersihan.
Sebab pada akhirnya, kebersihan sebuah kota bukan hanya terlihat dari jalan yang bebas sampah, tetapi dari hati warganya yang merasa memiliki.
Jika Palu mampu mengubah kebersihan menjadi budaya, kapan kota-kota lain mulai menulis kisah kebangkitan yang sama? (*)

Sebelumnya Hukum sebagai Rekayasa Sosial: Mengapa Sanksi Tetap Dibutuhkan
Selanjutnya
Terkait: Dinas KebersihanKota Palu

BeritaTerkait

Sebegini Hasil Koin PEKAT untuk Bayar Petugas Kebersihan yang Mogok di Parepare

Sebegini Hasil Koin PEKAT untuk Bayar Petugas Kebersihan yang Mogok di Parepare

Editor: Alfiansyah Anwar
11 Desember 2019

...

Kapolres Pinrang Makan Bareng dengan Tukang Sapu Jalanan

Kapolres Pinrang Makan Bareng dengan Tukang Sapu Jalanan

Editor: Alfiansyah Anwar
17 Desember 2018

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi