PAREPARE, PIJARNEWS.COM — Pernyataan Ketua Panitia Musyawarah Daerah (Musda) VI Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kota Parepare, Dr H Ibrahim Fattah yang menyebut bahwa pengurus ICMI tidak mesti berasal dari kalangan sarjana menuai tanggapan dari internal organisasi.
Pengurus ICMI Parepare, Dr. Suherman, MM menilai pernyataan tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru secara kelembagaan. Ia menegaskan bahwa meskipun dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) ICMI tidak secara eksplisit mensyaratkan gelar akademik bagi pengurus, namun secara historis dan fungsional, ICMI dikenal sebagai organisasi para cendekia.
“ICMI sejak awal berdirinya memang dikenal sebagai organisasi yang bergerak di bidang keilmuan, keahlian, kepakaran, dan teknologi. Jadi, narasi bahwa pengurus tidak mesti sarjana perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak terkesan mendistorsi jati diri organisasi,” ujar Wakil Ketua Karang Taruna Parepare ini.
Sebelumnya, panitia Musda VI ICMI Parepare menyampaikan bahwa konsep “cendekia” yang diusung oleh almarhum BJ Habibie tidak semata-mata diukur dari gelar akademik, melainkan dari kepedulian terhadap persoalan umat dan lingkungan sosial.
Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar inklusivitas dalam struktur Organisasi Satuan (Orsat), yang tidak hanya berbasis kampus tetapi juga berbasis kecamatan. Dalam mekanisme Musda, baik Orsat kampus maupun Orsat kecamatan memiliki hak yang sama dalam mengusulkan, memilih, dan dipilih sebagai calon ketua ICMI tingkat daerah.
Namun demikian, Suherman mengingatkan bahwa inklusivitas tidak boleh diartikan sebagai pengaburan identitas ICMI sebagai wadah cendekiawan muslim.
“Inklusivitas itu penting, tetapi karakter ICMI sebagai organisasi berbasis intelektual juga harus tetap dijaga. Jangan sampai publik memahami seolah-olah aspek keilmuan tidak lagi menjadi fondasi utama,” tegas mantan pengurus KNPI ini.
Ia juga menambahkan bahwa kapasitas, integritas, serta kontribusi nyata di bidang keilmuan dan sosial tetap harus menjadi pertimbangan dalam menentukan kepemimpinan ICMI ke depan. (*)
Editor : Alfiansyah Anwar












