• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Budaya dan Sastra

Esai: Aksara Diatas Tahta

Editor: Alfiansyah Anwar
5 Agustus 2017
di Budaya dan Sastra, Opini

oleh : Saifuddin al Mughniy

Kata “aksara” seringkali kita dengar, kadang kata ini dilekatkan pada seseorang yang tidak tau membaca atau buta huruf sehingga disematkan kalimat “buta aksara”. Padahal makna “aksara” itu bukan hanya dilekatkan pada seseorang saja yang kebetulan buta baca tulis saja, tetapi sebenarnya “sksara” juga mengandung makna atau dimbol, identitas, lsmbsng, yang bida berbentuk patung, huruf, lukisan, tulisan, prasasti. Jadi makna aksara tidak berfiri sendiri tetapi lebih mencakup hal-hal yang berkaitan dengan makna dan simbol-simbol terhafap obyek tertentu.

Tahta lebih dipersonifikasikan sebagai puncak peraihan kekuasaan seseorang. Tahta juga mengandung konotasi sebagai tempat, posisi seseorang dalam jabatan tertentu. Raja misalnya, begitu pula kekuasaan. Semua berada diposisi “ketahtaan” yakni berada di posisi tertinggi. Karenanya, bsgaimana hubungannya antara “aksara” dengan “tahta” ?

Secara sederhana, hubungannya demikian sederhana. Tahta dipersepsikan pada dimensi politik untuk tujuan kekuasaan. Aksara adalah narasi bagi keberlangsungan sebush politik. Aksara bukan semata huruf dan simbol, tetapi lebih pada aspek komunikasi, aspek menjelaskan makna-makna dalam kehidupan berkebangsaan, termasuk penjelasan empat pilar berbangsa.

BeritaTerkait

Kiprah Santri di Pentas Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

21 Oktober 2026
Tak Kenal Lelah, Kakek 70 Tahun di Parepare Tetap Kayuh Becak demi Nafkah Keluarga

Tak Kenal Lelah, Kakek 70 Tahun di Parepare Tetap Kayuh Becak demi Nafkah Keluarga

21 Oktober 2026
Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

20 Oktober 2026
Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

13 Oktober 2026

Pada aspek tertentu “aksara” begitu sangat dibutuhkan, bukan hanya saat setelah merebut tahta. Contoh misalnya Gazali Riadi berpasangan dengan Ahmat, maka simbol aksaranya menjadi GR-AMAT, Pahruddin Dede-Muhammad Taufiq Irpoun menjadi PD-Minta Ampun, dan seterusnya. Itu juga adalah narasi pendek dalam komunikasi politik.

John F. Kennedy, pernah bilang, kalau politik itu kotor maka ‘puisi’ akan membersihkannya. Klu politik itu bengkok maka “sastra” akan meluruskannya. Ini yang disebut Aksara bermakna, politik itu indah dan kesejukan, bahasa adalah pengantar untuk menjelaskan keindahan itu. Aksara begitu berarti dalam komunikasi politik dan bangunan tahta bukan hanya sederetan huruf-huruf mati yang tanpa arti dan makna.

Peng-artikulasian makna demokrasi, politik, hukum, ekonomi dan lingkungan hanya mampu dijelaskan dengan kekuatan aksara. Baligho, banner, spanduk adalah bahasa politik yang didaras oleh aksara. Aksara sebagai alat pembebasan, fonem, kata, bunyi, dan kalimat adalah manifestasi dari kekuatan aksara diatas tahta. Aksara yang baik adalah yang menepis “The political Decay”, politik yang menghadirkan senyawa demokrasi yang santun dan manusiawi.

Karena itu tidak sedikit pemimpin jatuh karena kehilangan kecerdasan beraksarsnya, kontrol komunikasi lisannya tak bisa ditahan, berakibat pada munculnya polemik hingga kejatuhan karena ambruk diujung kata-kata.

Maka jadilah pemimpin yang meletakkan kata-kata diatas kepemimpinannya. Sebab sksara yang baik afalah cermin dari pemimpin yang filosofis penuh kebijaksanaan dan cinta. (*)

Terkait: EsaiOpini

Berita Terkait

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Editor: Tim Redaksi
20 Oktober 2026

...

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Editor: Tim Redaksi
13 Oktober 2026

...

Negara Menjadi Perisai Hakiki, Generasi Terlindungi

Negara Menjadi Perisai Hakiki, Generasi Terlindungi

Editor: Tim Redaksi
8 Oktober 2026

...

Berita Populer

  • Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Musyda Tarjih, Muhammadiyah Makassar Tegaskan Ustaz AI Tak Bisa Gantikan Ulama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiprah Santri di Pentas Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kenal Lelah, Kakek 70 Tahun di Parepare Tetap Kayuh Becak demi Nafkah Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi