• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, 20 Juni, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Esai; Mimbar dan Keterasingan

Alfiansyah Anwar Editor: Alfiansyah Anwar
21 September 2017
di Budaya dan Sastra, Opini

oleh : Saifuddin al Mughniy*

Kalimat tersebut diatas dengan memandang secara literer tentu kita akan menjumpai, dua kata yang berbeda baik secara leksikal maupun gramatikal. Namun kalau keduanya ditarik dalam realitas empiris sepertinya begitu mudah menemukan esensi perbedaan diantara keduanya, tetapi memiliki ikatan yang begitu kuat dalam dimensi tertentu.

Paul Ricoeur (interpretasi theory),yang disebutnya sebagai “dialektika peristiwa dan makna”. Nah, dari tarikan makna tersebut maka mimbar secara harfiah sebagai tempat, sarana, medium, bagi seseorang berpidato, berkhutbah, untuk menyampaikan sesuatu kepada khalayak. Dalam perspektif “academos” ada yang disebut “mimbar akademik”, dimaknai dengan pemahaman bahwa mimbar adalah sarana ekspresi kebebasan bagi seorang cerdik pandai (kaum pelajar, mahasiswa) menyampaiksn gagasannya, bisa fslsm bentuk orasi, tulisan dan demonstratif. Dan secara ekstrim ada yang menyebutnya kebebasan mimbar akademik.

Sementara makna keterasingan, dalam sebagian kalangan menyebutnya sebagai bentuk perilaku sosial masyarakat, karena “kesalahan” seseorang terasing dari lingkungannya. Bahkan perilaku individu yang kurang percaya diri dengan kehidupannya sehingga mengasingkan diri dari lingkungannya. Terasing bisa juga disebut sebagai rasa “tertutup” dari orang lain.

Keterasingan oleh Marxian disebutnya “alienasi”. Yakni suatu kondisi masyarakat tertentu teralienasi karena pengaruh kuat dari lingkungan eksternal. Seperti kemajuan saintek, daya tangkap masyarakat yang lemah menyebabkan ia terpinggirkan (teralienasi). Dalam kehidupan serba kompleks kebebasan dan keterasingan kerap kali kita temukan dalam waktu yang bersamaan.

Berita Terkait

Sang Vespa, Si Saksi Perjuangan

ESAI: Komunikasi Digital sebagai Pembawa Harapan bagi Generasi Z

IKN Sebagai Smart City dengan Konsep Forest City Apa Kaitannya untuk Indonesia Emas 2045?

Gubernur dan Pisang Bawa Siswi SMAN 8 Pinrang Ini Juara 1 Lomba Esai Diknas Provinsi

Kebebasan cendrung dipengaruhi oleh idealisme yang fanatik, para pejuang yang fanatisme pada gagasannya seringkali mengalami keterasingan bila “penganut idealisme” surut dan terjebak pada kapitalisasi kekuasaan politik dan ekonomi. Seseorang yang berprinsip idealis akan memilih jalan keterasingan dari jebakan “hedonisme’, Plato menyebutnya perburuan kebahagiaan yang disebut “eudemonisme”.

Karenanya, era sekarang adalah era sensitivisme, ketersinggungan, perasa, yang terkadang membuat pemangku jabatan “mengalienasi’ individu atau kelompok. Mungkin kita bisa melihat berbagai poster, pamflet, banner, spanduk, yang bertuliskan perlawanan. Dalam memaknai kontekstual tidak semata emosional, dendam, amarah, tetapi ada makna ketidakadilan didalamnya.

Dibanyak negara aksi demonstratif begitu dibuka, sebab mereka sadar bahwa “peradaban dan demokrasi” dapat dibangun dengan memberi ruang ekspektasi bagi warga negara, sebab negara bukanlah “penjara kemanusiaan”, tetapi negara adalah subkultur masyarakat dimana mereka hidup mengembangkan diri dan melahirkan generasi selanjutnya.

Karena itu, kebebesan tanpa keterasingan adalah kemerdekaan yang tertulis di mimbar-mimbar kemanusiaan. Itulah kekuatan manusia untuk menentukan jalan masa depan baik untuk dirinya maupun.bangsanya.**

Terkait: Esai

TerkaitBerita

Nasab Ba‘alawi

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

Editor: Tim Redaksi
15 Juni 2026

...

Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

Editor: Tim Redaksi
13 Juni 2026

...

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

...

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Editor: Muhammad Tohir
26 Mei 2026

...

Berita Terkini

Ingin Tebus Motor dengan Curi Emas

Ingin Tebus Motor dengan Curi Emas

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Evaluasi RSUD Arifin Nu’mang, Sekda Jelaskan Fungsi Pengawas

Evaluasi RSUD Arifin Nu’mang, Sekda Jelaskan Fungsi Pengawas

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Temui Kepala BNN RI, Wali Kota Parepare Bahas Percepatan Pembentukan BNN Kota

Temui Kepala BNN RI, Wali Kota Parepare Bahas Percepatan Pembentukan BNN Kota

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Sekda Pinrang Hadiri Pengukuhan Kepala Perwakilan BPKP Sulsel, Dorong Penguatan Sinergi Pengawasan

Sekda Pinrang Hadiri Pengukuhan Kepala Perwakilan BPKP Sulsel, Dorong Penguatan Sinergi Pengawasan

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Bupati Sidrap Jadi Responden Sensus Ekonomi 2026, Ajak Warga Beri Data Akurat

Bupati Sidrap Jadi Responden Sensus Ekonomi 2026, Ajak Warga Beri Data Akurat

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan