• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 24 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Jeans dalam Tradisi Lingkungan Akademik

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
15 Oktober 2025
di Opini

Oleh : Hartinah Sanusi*)

Berada di tengah riuh pusat kota, menyaksikan orang-orang berlalu-lalang dengan ritme masing-masing, selalu memberikan kenikmatan tersendiri. Sore itu, saya duduk di sudut tenang sebuah kafe mungil, tak jauh dari pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Di depan secangkir kopi yang mulai mendingin, saya akhirnya memberanikan diri menulis, tentang sesuatu yang sebenarnya sederhana, bahkan terkesan sepele. Ide ini muncul dari obrolan ringan bersama beberapa rekan dosen beberapa waktu silam, soal dosen yang mengenakan bahan jeans (denim) pada saat mengajar. Sejak saat itu, tanpa sadar saya jadi sering memperhatikan gaya berpakaian orang-orang, terutama di lingkungan kampus. Memikirkannya, dan menemukan apa yang awalnya tampak remeh, ternyata menyimpan banyak lapisan makna yang layak digali.

Di dunia akademik, pakaian bukan sekadar pelindung tubuh atau penanda cuaca. Ia adalah simbol. Toga dan jubah akademik kita warisi dari abad pertengahan, dari biara dan universitas Eropa kuno yang percaya bahwa pengetahuan harus dibungkus dengan ritual. Bahkan hari ini, ketika tradisi sudah mencair, sisa-sisa formalitas itu masih hidup dalam cara dosen berpakaian: kemeja atau atasan putih, batik di hari-hari atau kegiatan tertentu, blazer atau stelan jas untuk seminar, atau setidaknya celana dan rok bahan selain denim. Aturan semacam ini sering kali didasarkan pada interpretasi tentang kepantasan dan profesionalitas. Bagi perguruan tinggi Islam, aturan berpakaian bagi dosen dan mahasiswa tentu saja disesuaikan dengan nilai-nilai Islam.

Jeans: Sebuah Anomali?
Karena itulah saya tertarik membicarakannya. Ada apa dengan jeans, kenapa harus membatasi pemakaian bahan yang satu ini. Larangan atas jeans mungkin bukan represi terang-terangan, tapi ia menegaskan siapa yang berhak menentukan simbol kepatutan dalam ruang akademik. Ia menciptakan batas: mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang suci dan mana yang profan, bahkan dalam urusan sepele seperti bahan celana.

Tapi bukankah dunia akademik seharusnya justru menjadi ruang untuk menguji batas-batas itu?
Barangkali, inilah ironi yang tak pernah selesai dalam dunia pendidikan tinggi: kita mengajarkan kebebasan berpikir, tapi tubuh kita sendiri dibatasi oleh simbol-simbol yang tak boleh menyimpang. Kita bicara tentang keterbukaan, tapi tak bisamemilih bahan celana atau pun rok.

Berita Terkait

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Jeansmemangtidaklahirdari dunia akademik. Ia berasal dari dunia kerja kasar: tambang, peternakan, jalanan. Tapi siapa sangka, bahan yang awalnya diciptakan untuk menahan kikisan kerasnya dunia manual itu, pelan-pelan menyusup ke ruang-ruang diskusi filsafat, seni, bahkan teologi. Banyak akademisi, terutama di dunia Baratmengadopsi jeans bukan sebagai simbol kemalasan, tapi justru sebagai ekspresi keterbukaan dan egalitarianisme.

Tidak sedikit dosen pengajar yang santai mengenakan jeans sambil duduk berdiskusi bersama mahasiswanya,namun tak mengurangi sedikit pun ketajaman kritiknya terhadap berbagai persoalan di masyarakat. Di ruang akademik, intelektualitas bukan dinilai dari lebar kerah atau licinnya kain celana, tapi dari keberanian mempertanyakan dan integritas berpikir.

Namun, di sejumlah kampus Islam di Indonesia, hal semacam itu bisa dianggap “tidak pantas”. Jeans, entah sejak kapan, berubah menjadi simbol “ketidaksiapan mengajar”. Ia dianggap terlalu santai, terlalu kasual, terlalu tidak berwibawa. Seolah kewibawaan hanya bisa dibangun dari lipatan celana bahan dan kemeja berkerah.

Saya tidak sedang mengajak semua dosen untuk pakai ripped jeans atau hoodie ke kelas. Sama sekali tidak. Tapi kita perlu bertanya ulang: apa yang sebenarnya sedang kita jaga dengan melarang jeans? profesionalitas? wibawa? Atau citra normatif yang dibentuk dari tafsir budaya atas kepantasan?

Akademisi dan Tafsir Kepantasan
Jeans, pada asal-usulnya, bukanlah symbol kekuasaan, melainkan symbol kerja. Diciptakan untuk para buruhtambang di Amerika Serikatabad ke-19, celana denim mewujudkan keandalan, ketahanan, dan keterjangkauan. Tapi seiring waktu, ia berubah menjadi simbol pembangkangan. Dari Marlon Brando hingga James Dean, jeans menjadi lambang perlawananterhadap norma. Tahun 60-an, kaum hippie dan aktivis mengenakannya sebagai simbol solidaritas kelas bawah dan penolakan terhadap budaya mapan.

Maka, saat seorang dosen masuk kelas dengan jeans, yang tampak sepele itu sebenarnya bisa dibaca sebagai gesture simbolik, entah disadari atau tidak. Ia bukan sekadar memilih kenyamanan, tapi juga sedang memainkan ulang peran simbolik antara otoritas dan keseharian.

Barangkali di sinilah yang menarik. Di satu sisi, jeans bias dimaknai sebagai bentuk perlawanan halus terhadap dunia akademik yang kadang terlalu kaku, terlalu penuh pretensi. Tapi di sisi lain, kita tahu bahwa resistensi simbolik semacam ini tak luput dari jebakan kooptasi. Celana yang dulunya radikal kini dijual di butik-butik mewah. Dosen-dosen yang memakai jeans tetap menulis dalam gaya akademik yang tetap keren. Apakah jeans masih bisa melawan, atau justru sudah menjadi bagian dari institusi yang dulu ia tentang?
Gramsci pernah menyebut bagaimana kekuasaan bekerja bukan hanya lewat represi, tapi juga lewat kooptasi simbolik, mengambil simbol resistensi, melunakkannya, dan menjadikannya bagian dari dominasi. Di beberapa kampus lain, jeans, dalam konteks ini, mungkin sudah menjadi jubah baru akademisi: cukup kasual untuk tampil “dekat dengan mahasiswa”, tapi juga cukup diterima untuk tetap diundang ke seminar internasional.

Saya tidak sedang membela jeans sebagai simbol mutlak kebebasan. Tapi saya ingin mengingatkan bahwa ketika institusi mulai mengatur apa yang boleh dikenakan oleh mereka yang berpikir, kita perlu berhenti sejenak, dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang diatur? Tubuh kita, atau cara kita berpikir?
Mengenakan jeans ke kelas bukan hanya soal kenyamanan. Mungkin itu adalah cara kecil untuk mempertahankan ruang otonomi di tengah formalisme yang terus tumbuh. Karena terkadang, menjadi manusia biasa, dengan celana denim, tawa yang spontan, dan pemikiran yang belum selesai, adalah bentuk paling jujur dari menjadi seorang dosen pengajar. Terkadang, itu saja sudah cukup.

Pakaian dan Nilai-Nilai Islam
Pertanyaan soal bagaimana Islam mengatur cara berpakaian sering terdengar sederhana, tapi kenyataannya jauh lebih rumit dari yang terlihat di permukaan. Saya mencoba menelusuri sejumlah referensi, dan satu hal yang cukup jelas: Islam memang punya prinsip-prinsip dasar soal berpakaian, tapi bagaimana prinsip itu diterapkan sangat bergantung pada konteks sosial, budaya, bahkan politik tempat ia ditafsirkan.
Secara umum, ada dua prinsip utama yang sering dijadikan pegangan. Pertama, prinsip ḥayā’, yang bisa dimaknai sebagai kesopanan, kepantasan, atau rasa malu yang terpuji. Kedua, prinsip tasyabbuh, yaitu larangan meniru gaya hidup yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Kedua prinsip ini tidak berdiri sendiri, tapi saling terkait dan sering muncul dalam diskusi tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim menampilkan diri lewat pakaian.

Prinsip ḥayā’ misalnya, lebih dari sekadar aturan teknis tentang menutup aurat. Ia berbicara tentang sikap batin: bagaimana seseorang membawa dirinya dengan hormat dan rendah hati di hadapan orang lain. Hadis Nabi yang terkenal menyebutkan: “Al-ḥayā’ min al-īmān”, kesopanan adalah bagian dari iman (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, cara kita berpakaian bukan cuma soal gaya atau kebiasaan, tapi mencerminkan kedalaman iman dan kepekaan spiritual.

Pandangan ini juga dikuatkan oleh pemikiran para ulama seperti Imam Al-Ghazali. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, ia menekankan bahwa pakaian seharusnya mencerminkan kesederhanaan, menjaga kehormatan diri, dan tidak berlebihan dalam berhias (tabarruj). Pakaian, kata Al-Ghazali, punya fungsi ganda: sebagai penutup aurat dan sebagai simbol ketakwaan.

Di sisi lain, ada juga prinsip tasyabbuh bi al-kuffār, larangan meniru gaya hidup orang-orang non-Muslim. Dalam konteks globalisasi dan budaya populer, prinsip ini sering dijadikan alasan kehati-hatian terhadap model berpakaian yang dianggap “asing” atau terlalu kebarat-baratan. Hadis yang biasa dikutip dalam hal ini berbunyi: “Man tashabbaha bi qawmin fahuwa minhum”, barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka (HR. Abu Dawud). Tapi seperti banyak ajaran lainnya, tafsir terhadap hadis ini tidak tunggal. Apa yang dianggap “meniru” sangat bergantung pada cara pandang dan konteks zamannya.

Tafsir yang Lentur, Tradisi yang Tumbuh
Barangkali kita terlalu sering mengira bahwa menjaga wibawa institusi itu berarti menertibkan penampilan, bukan memperkuat isi. Padahal, sejarah Islam penuh dengan kisah para ulama yang tampilsederhana, berpakaian seadanya, tapi ilmunya menjulang. Wibawa, dalam Islam, tidak dating dari tekstur kain, tapi dari akhlak dan keluasan ilmu.

Saya tidak sedang mengglorifikasi jeans. Ia hanya bahan. Tapi bahan ini menyimpan cerita tentang relasi antara tubuh, otoritas, dan tafsir sosial. Ketika institusi melarangnya tanpa alasan yang terbuka untuk diperdebatkan, kita sedang menyaksikan bagaimana simbol-simbol kecil bisa berubah menjadi benteng konservatisme yang rapuh. Sebuah pelarangan yang takmenjelaskandirinyasendiribiasanya menyembunyikan ketakutan yang belum sempat dibahas.

Pada akhirnya, perkara pakaian, termasuk soal jeans di ruang akademik, bukan hanya soal kain, tapisoalbagaimanakitamenafsirkannilai, identitas, dan otoritas. Islam, dengan prinsip-prinsipdasarnya yang menekankan kesopanan dan kejujuran batin, sebenarnya menawarkan ruang yang luas bagi tafsir yang kontekstual dan bijak. Dunia akademik pun idealnya menjadi ruang tempat makna-makna itu diuji, diperbincangkan, bukan dibakukan secara kaku. Sebab yang membentukwibawa seorang dosen bukan celana yang ia pakai, tapi pikiran yang ia ajukan dan integritas yang ia hidupkan.

Jeans, dalam semua kesederhanaannya, bisa saja menjadi simbol dari kebebasan berpikir dan keberanian untuk tampil otentik, dua hal yang semestinya menjadi jantung dari tradisi akademik itu sendiri. Ia bias jadi bukan cuma soal gaya. Ia adalah ajakan untuk meninjau ulang: Apakah berpikir kritis mensyaratkan pakaian formal?

Kadang, sebuah pertanyaan besar bisa dimulai dari hal yang sangat sepele. Sehelai jeans, misalnya. Saya menutup laptop dengan helaan napas pendek, menyeruput sisa kopi terakhir, lega. Ide tulisan ini akhirnya terbang juga, lepas, bebas. Sesepele dan selega ini.

*)Penulis adalah Pemerhati, Peneliti bidang kajian Komunikasi dan Jurnalisme, Lingkungan, Gender, dan Budaya, sekaligus Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Email: tina.sanusi@uin-alauddin.ac.id

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Momen Ramadan, PSI Parepare Tebar Ratusan Takjil

Editor: Muhammad Tohir
17 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

BeritaTerkini

Wali Kota Ungkap Munculnya Ide Pertemuan Saudagar di Parepare

Editor: Muhammad Tohir
24 Maret 2026

Lebaran di Negeri Sakura, Haru Perantau Sidrap Jadi Imam Salat Id di Jepang

Lebaran di Negeri Sakura, Haru Perantau Sidrap Jadi Imam Salat Id di Jepang

Editor: Muhammad Tohir
22 Maret 2026

Rayakan Idul Fitri di Lapangan Andi Makkasau, Wali Kota Parepare Paparkan Capaian

Editor: Muhammad Tohir
21 Maret 2026

Setelah Puluhan Tahun, Takbir Kembali Menggema di Stadion Ganggawa

Setelah Puluhan Tahun, Takbir Kembali Menggema di Stadion Ganggawa

Editor: Muhammad Tohir
21 Maret 2026

Perkuat Sinergi, Bosowa Peduli dan Pemkot Makassar Salurkan 1.000 Paket Sembako bagi Petugas Layanan Publik di Karebosi

Perkuat Sinergi, Bosowa Peduli dan Pemkot Makassar Salurkan 1.000 Paket Sembako bagi Petugas Layanan Publik di Karebosi

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
19 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan