• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, 23 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

“Kemenag Berdampak” atau Sekadar Slogan? Mendesak Reposisi Pengabdian di Kampus Keagamaan

Oleh : Muhammad Ali Rusdi Bedong (Dosen IAIN Parepare)

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
30 April 2026
di Opini
Muhammad Ali Rusdi Bedong

Muhammad Ali Rusdi Bedong

OPINI — Tagline “Kemenag Berdampak” yang diusung oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sejatinya bukan sekadar jargon administratif. Ia adalah janji moral bahwa seluruh kebijakan, program, dan terutama ekosistem pendidikan di bawahnya harus melahirkan dampak nyata bagi masyarakat. Namun di titik inilah pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah dampak itu benar-benar sedang dibangun, atau baru sebatas retorika yang indah di atas kertas?

Jika kita menengok ke perguruan tinggi keagamaan, ada satu titik lemah yang sulit dibantah: pengabdian kepada masyarakat (PKM) belum diposisikan sebagai pusat gravitasi keilmuan. Ia masih dianggap aktivitas tambahan, bukan jantung dari Tri Dharma. Padahal, jika “Kemenag Berdampak” ingin diwujudkan secara konkret, maka ruang paling strategisnya justru ada di sini di interaksi langsung antara kampus dan masyarakat.

Tanpa reposisi serius terhadap PKM, tagline itu berisiko kehilangan maknanya. Sebab dampak tidak lahir dari dokumen, melainkan dari keterlibatan. Ia tidak tumbuh dari angka sitasi, tetapi dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat. Ketika kampus lebih sibuk mengejar publikasi dibandingkan menyelesaikan problem sosial di sekitarnya, maka yang lahir adalah paradoks: ilmu berkembang, tetapi realitas tetap tertinggal.

Perguruan tinggi di bawah Kemenag sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor model akademik yang berbeda dari kampus di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Bukan sekadar berbeda dalam label keagamaan, tetapi dalam orientasi praksis ilmu yang hadir, menyapa, dan menyelesaikan persoalan umat. Namun peluang ini tidak akan pernah terwujud jika struktur penilaian akademik masih menempatkan PKM di posisi marjinal.

Akibatnya, kita terus menyaksikan ironi yang sama. Banyak riset berhenti di jurnal, banyak konsep berhenti di seminar, dan banyak pakar berhenti pada wacana. Sementara itu, masyarakat di sekitar kampus masih bergulat dengan problem pendidikan, ekonomi, dan sosial yang belum tersentuh secara serius oleh keilmuan yang ada.
Di sinilah urgensi reposisi itu menjadi tidak bisa ditawar lagi. Jika “Kemenag Berdampak” ingin menjadi kenyataan, maka kebijakan afirmatif harus dihadirkan: PKM diberi bobot utama dalam penilaian kinerja dosen, diintegrasikan secara sistemik dengan riset, dan bahkan dijadikan jalur strategis untuk mencapai jabatan akademik tertinggi, termasuk Guru Besar. Tanpa langkah berani ini, dampak yang diharapkan hanya akan menjadi narasi, bukan realitas.

Berita Terkait

UMPAR Peroleh Dana Hibah, Dukung Dua Skema Riset Strategis

Tasming Hamid Pimpin Upacara HAB ke-80 Kemenag Parepare, Tekankan Kerukunan dan Adaptasi Teknologi

UNHAS dan UMPAR Kembangkan Sistem Pemantauan Perairan Berbasis IoT di Pinrang

UMPAR Dukung Pemberdayaan PKK Maritengngae Melalui Teknologi Aquaponik dan Microgreens

Kita perlu jujur: tidak mungkin berbicara tentang dampak jika sistemnya sendiri tidak memberi ruang bagi lahirnya dampak. Tidak mungkin mengharapkan perubahan sosial jika kerja-kerja sosial tidak dihargai secara layak. Dan tidak mungkin menjadikan kampus sebagai agen transformasi jika ia terus terjebak dalam logika administratif yang kaku.

Lebih jauh lagi, kekosongan peran kampus dalam pengabdian ini juga membuka ruang lain yang tidak kalah problematis. Ketika akademisi tidak hadir secara aktif di tengah masyarakat, ruang ceramah dan pencerahan keagamaan sering kali justru didominasi oleh mereka yang belum memiliki kedalaman keilmuan yang memadai. Akibatnya, tidak sedikit narasi keagamaan yang berkembang tanpa landasan metodologi yang kuat, bahkan berpotensi menyesatkan umat. Di titik ini, absennya kampus bukan lagi sekadar masalah akademik, tetapi telah menjadi persoalan sosial-keagamaan yang serius.

Karena itu, menguatkan pengabdian kepada masyarakat bukan hanya soal meningkatkan kinerja institusi, tetapi juga soal menjaga kualitas pemahaman keagamaan di tengah umat. Kampus harus kembali mengambil peran strategisnya: hadir sebagai rujukan, membimbing dengan ilmu, dan menerangi dengan otoritas keilmuan yang bertanggung jawab. Jika tidak, maka dampak yang lahir bukanlah pencerahan, melainkan kebingungan yang terus berulang di tengah masyarakat.

Akhirnya, “Kemenag Berdampak” bukan soal seberapa sering ia diucapkan, tetapi seberapa jauh ia diwujudkan. Dan itu hanya mungkin terjadi jika kampus sebagai pusat produksi dan distribusi ilmu berani keluar dari zona nyaman, turun ke masyarakat, dan menjadikan pengabdian sebagai inti dari keberadaannya. Jika tidak, maka kita harus berani mengatakan: yang berdampak bukan kebijakannya, melainkan ironi yang ditinggalkannya. (*)

Editor : Alfiansyah Anwar

Terkait: BerdampakKemenagKemenag BerdampakPKMRiset

TerkaitBerita

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

...

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Imigrasi Parepare dan Timpora Periksa Empat TKA di PT UPC Sidrap

Imigrasi Parepare dan Timpora Periksa Empat TKA di PT UPC Sidrap

Editor: Muhammad Tohir
22 Mei 2026

Prodi Teknik Sipil ITH Edukasi Warga Ujung Pengolahan Sampah Plastik Jadi Paving Block

Prodi Teknik Sipil ITH Edukasi Warga Ujung Pengolahan Sampah Plastik Jadi Paving Block

Editor: Muhammad Tohir
22 Mei 2026

Pemkab Sidrap Monitoring Harga Jelang Iduladha

Pemkab Sidrap Monitoring Harga Jelang Iduladha

Editor: Muhammad Tohir
22 Mei 2026

Imigrasi Perkuat Pengawasan WNA di Sidrap, TIMPORA 2026 Dorong Sinergi hingga Tingkat Desa

Imigrasi Perkuat Pengawasan WNA di Sidrap, TIMPORA 2026 Dorong Sinergi hingga Tingkat Desa

Editor: Muhammad Tohir
22 Mei 2026

Bahas Pengelolaan Keuangan, UMMA Maros, Unhas dan PLUT Maros Berkolaborasi dalam Pengabdian Masyarakat di Desa Ampekale

Bahas Pengelolaan Keuangan, UMMA Maros, Unhas dan PLUT Maros Berkolaborasi dalam Pengabdian Masyarakat di Desa Ampekale

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
21 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan