• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, 25 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Diskriminasi Pelayanan BPJS dalam Perspektif Kode Etik ASN dan Etika Kesehatan

Oleh: Tengku Raisa dan Rossa Tiara (Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang)

Editor: Tohir Muhammad
9 Januari 2026
di Opini

OPINI–Aparatur pemerintahan merupakan tulang punggung penyelenggaraan negara. Keberhasilan atau kegagalan suatu pemerintahan dalam melayani masyarakat sangat bergantung pada kualitas moral dan etika aparatur yang menjalankan roda birokrasi. Oleh karena itu, pembahasan mengenai kewajiban aparatur pemerintahan tidak dapat dilepaskan dari perspektif etika pemerintahan, yang menempatkan nilai moral sebagai fondasi utama dalam setiap tindakan dan keputusan publik.

Dalam perspektif etika pemerintahan, kewajiban aparatur tidak hanya bersifat administratif atau formal sebagaimana tertuang dalam peraturan perundang-undangan, tetapi juga bersifat moral. Aparatur pemerintah berkewajiban menjalankan tugas dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan integritas. Etika pemerintahan menuntut agar setiap aparatur menyadari bahwa jabatan yang diembannya adalah amanah, bukan sekadar sumber kekuasaan atau keuntungan pribadi.

Salah satu kewajiban utama aparatur pemerintahan adalah memberikan pelayanan publik yang adil dan tidak diskriminatif. Dalam praktiknya, masih sering dijumpai pelayanan yang dipengaruhi oleh relasi kekuasaan, kedekatan personal, atau kepentingan tertentu. Dari sudut pandang etika pemerintahan, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius karena mencederai prinsip keadilan dan kesetaraan warga negara. Aparatur pemerintah seharusnya menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun golongan, serta memperlakukan seluruh masyarakat secara setara di hadapan hukum dan pelayanan negara.

Selain itu, aparatur pemerintahan memiliki kewajiban untuk bersikap profesional dan kompeten dalam menjalankan tugasnya. Etika pemerintahan mengajarkan bahwa ketidakmampuan, kelalaian, atau sikap abai terhadap tugas merupakan bentuk ketidakbertanggungjawaban moral. Aparatur yang etis dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memahami regulasi, serta bekerja secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pemerintahan yang baik. Profesionalisme bukan hanya tuntutan kinerja, tetapi juga kewajiban etis terhadap masyarakat yang dilayani.

BeritaTerkait

Manajer KDKMP,  Penggerak Ruang Publik Ekonomi Desa

Manajer KDKMP, Penggerak Ruang Publik Ekonomi Desa

24 Juli 2026
Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

24 Juli 2026
Politik Energi dalam Islam

Politik Energi dalam Islam

16 Juli 2026
Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

14 Juli 2026

Kewajiban berikutnya yang tidak kalah penting adalah menjaga integritas dan menjauhi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dalam perspektif etika pemerintahan, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan publik. Aparatur pemerintah yang beretika harus mampu menahan diri dari penyalahgunaan wewenang, meskipun memiliki peluang dan kekuasaan. Integritas aparatur menjadi kunci dalam membangun pemerintahan yang bersih dan dipercaya oleh masyarakat.

Etika pemerintahan juga menekankan kewajiban aparatur untuk bersikap transparan dan akuntabel. Setiap kebijakan, keputusan, dan penggunaan anggaran publik harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan administratif. Aparatur pemerintah tidak boleh menutup-nutupi informasi publik yang seharusnya diketahui masyarakat, karena transparansi merupakan bentuk penghormatan terhadap hak warga negara sekaligus cerminan etika demokratis dalam pemerintahan.

Pada akhirnya, kewajiban aparatur pemerintahan dalam perspektif etika pemerintahan bermuara pada upaya mewujudkan pemerintahan yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Etika pemerintahan berfungsi sebagai kompas moral agar aparatur tidak tersesat dalam kekuasaan dan rutinitas birokrasi. Tanpa etika, kewajiban aparatur hanya akan menjadi aturan kosong; sebaliknya, dengan etika yang kuat, kewajiban tersebut dapat dijalankan secara bermakna dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Terkait: OpiniPemerintahan

BeritaTerkait

Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
24 Juli 2026

...

Politik Energi dalam Islam

Politik Energi dalam Islam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 Juli 2026

...

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Tohir Muhammad
21 Mei 2026

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi