PANGKEP, PIJARNEWS.COM–Pembelajaran bahasa Mandarin di Universitas Bosowa terus berkembang melampaui ruang kelas. Melalui Mandarin Camp 2026, Program Studi D4 Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional (BMKBP) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sastra (FIPS) Universitas Bosowa menghadirkan pengalaman belajar berbasis kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, pengabdian masyarakat, dan kepedulian lingkungan. Berlangsung pada Jumat-Ahad (3–5/7/2026) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tabo-Tabo, Kabupaten Pangkep.
Kegiatan ini turut berkolaborasi dengan Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah VI Kementerian Kehutanan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jeneberang Walanae, serta Pemerintah Desa Tabo-Tabo, menghadirkan pembelajaran yang terintegrasi antara kompetensi global dan aksi nyata di tengah masyarakat.
Mandarin Camp 2026 mendapat dukungan penuh dari jajaran Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sastra Universitas Bosowa. Kegiatan ini berada di bawah pembinaan Dekan FIPS Universitas Bosowa Dr. Andi Hamsiah, M.Pd. dan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kerja Sama, dan Pengembangan Usaha Andi Irwandi, S.Pd., M.Pd. Sementara itu, komite pengarah terdiri atas Ketua Program Studi D4 Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Annisa Syauqina Kadar, S.Pd., M.Ed., Dr. Andi Hamzah Fansury, S.Pd., M.Pd., Sri Khaerani Rahman, S.S., M.B.A., Muthia Mutmainnah Darmuh, S.Pd., M.Ed., Winda Ayu Utami R., S.Pd., M.Ed., Yunita Tetta Dendo, S.S., M.TCSOL., dan Andika Pratama Yudha, B.S.
Ketua Program Studi D4 Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Bosowa, Annisa Syauqina Kadar, S.Pd., M.Ed., menjelaskan bahwa Mandarin Camp dirancang sebagai implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang menghubungkan kemampuan akademik dengan kebutuhan dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya kami dorong untuk menguasai bahasa Mandarin, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, kepedulian sosial, dan kesadaran terhadap isu keberlanjutan. Mandarin Camp menjadi ruang belajar yang mengintegrasikan seluruh kompetensi tersebut dalam pengalaman nyata,” ujarnya.
Mengusung tiga pilar utama, yakni Leadership Training, Cross-Cultural Activity, dan Community Service, Mandarin Camp membekali mahasiswa dengan kemampuan public speaking, kepemimpinan, manajemen konflik, kerja sama tim, hingga penguatan wawasan budaya Tiongkok. Pembelajaran tersebut kemudian diimplementasikan melalui berbagai aktivitas lapangan yang menantang kemampuan mahasiswa dalam beradaptasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan berbagai persoalan secara kolektif.
Rangkaian kegiatan diawali di kampus melalui sesi pelatihan yang menghadirkan materi Public Speaking, Leadership, Manajemen Konflik, dan Desain Proyek Kreatif. Selanjutnya peserta mengikuti outdoor camp di KHDTK Tabo-Tabo yang diisi dengan kegiatan pembangunan kerja sama tim, permainan kolaboratif, latihan pementasan budaya, malam keakraban, pertunjukan seni bertema budaya Tiongkok, hingga refleksi bersama.
Salah satu agenda yang menjadi pembeda Mandarin Camp 2026 adalah pelaksanaan Community Service yang melibatkan masyarakat sekitar. Mahasiswa memberikan edukasi dasar bahasa Mandarin kepada masyarakat sebagai bentuk implementasi ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya dalam situasi nyata.
Tidak hanya itu, Mandarin Camp tahun ini juga menghadirkan aksi nyata pelestarian lingkungan melalui penanaman bibit yang dilaksanakan bersama civitas akademika Universitas Bosowa, Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah VI Kementerian Kehutanan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jeneberang Walanae, serta Pemerintah Desa Tabo-Tabo di kawasan KHDTK Tabo-Tabo Kabupaten Pangkep. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung upaya konservasi hutan sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan kepada generasi muda.
Wakil Dekan III FIPS Universitas Bosowa, Andi Irwandi, S.Pd., M.Pd., menilai bahwa kegiatan ini menjadi contoh implementasi pembelajaran yang mampu menghubungkan kompetensi akademik dengan pengabdian kepada masyarakat.
“Mahasiswa hari ini dituntut tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui Mandarin Camp, mereka belajar memimpin, berkomunikasi lintas budaya, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat secara langsung,” jelasnya.
Kolaborasi bersama Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah VI Kementerian Kehutanan, BPDAS Jeneberang Walanae, dan Pemerintah Desa Tabo-Tabo juga memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Kehadiran para mitra tersebut memperkuat nilai edukasi kegiatan sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa dapat dipadukan dengan isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan.
Selama pelaksanaan kegiatan, suasana kebersamaan terlihat kuat melalui berbagai aktivitas kolaboratif, mulai dari diskusi kelompok, team building, pentas seni, hingga malam api unggun yang mempererat hubungan antarmahasiswa lintas angkatan. Pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran yang membangun solidaritas, kemampuan berkomunikasi, serta kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi tantangan global.
Ketua panitia Mandarin Camp 2026 menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus karakter kepemimpinan.
“Mandarin Camp kami rancang sebagai pengalaman belajar yang utuh. Mahasiswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar memimpin, bekerja sama, mengabdi kepada masyarakat, dan berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Nilai-nilai inilah yang kami harapkan akan menjadi bekal mereka ketika memasuki dunia profesional,” ungkapnya.
Melalui Mandarin Camp 2026, Program Studi D4 Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Bosowa kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap tantangan global. Kolaborasi dengan Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah VI Kementerian Kehutanan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jeneberang Walanae, dan Pemerintah Desa Tabo-Tabo, serta dukungan dari Oronamin C sebagai Official Vitamin C Drink dan Honda One HEART sebagai Official Snacks, menjadi bukti bahwa sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih komprehensif. Melalui pendekatan tersebut, Universitas Bosowa terus mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki perspektif global, jiwa kepemimpinan, kepedulian terhadap lingkungan, serta tanggung jawab sosial yang kuat. (adv)










