
Praktisi Pendidikan IAIN Parepare
Idul Fitri sebagaimana yang dikenal adalah Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu ‘id’ yang berarti kembali dan ‘Fitrah’ yang secara sederhana adalah kesucian. Ide dasarnya adalah kembali kepada Fitrah. Kata kembali meniscayakan suatu kondisi dimana yang kembali pada sesuatu itu artinya pernah ada di sana, tetapi mungkin satu dan lain hal bergeser pada posisi lain. Dengan demikian orang yang beridul fitri adalah orang yang kembali pada suatu kondisi di mana kondisi tersebut pernah dia ada di sana. Terdapat hadis nabi yang sangat masyhur di kalangan umat Islam, khususnya dari latar belakang Pendidikan Islam bahwa manusia diciptakan dalam keadaan Fitrah. (Kullu Mauludin Yuwladu alal fitrati, fa abawahu Yuhawwidanihi auw Yunassiranihi/ Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani). Untuk memperjelas makna ini maka kita harus melanjutkan pada menyelami kata Fitrah sebagai sesuatu tujuan dalam proses kembali. Fitrah secara sederhana sangat popular dengan arti putih bersih. Selain itu fitrah juga diartikan kejadian, atau penciptaan. Esensi Fitrah secara lebih kongkrit dapat ditemukan dalam Q.S. Arrum:30 ; Faaqim Wajhaka Liddini hanifan, Fitratalallahi allati Fatarasnnnasa alaiha, la tabdila li khalqillahi, dzalika addinul Qayyim walakinna aktsarannasi la Yak lamun (maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif fitrah yang telah jadikan manusia di dalamnya, tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah, itulah agama yang kokoh, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Fitrah dalam ayat ini ternyata adalah Din al-hanif, yaitu agama yang lurus, agama yang kokoh, agama yang manusiawi. Agama hanif adalah agama yang menjunjung fitrah manusia. Agama yang tidak menempatkan Tuhan sebagai diktator yang sepenuhnya egois, tetapi Tuhan yang sangat pengertian menjadikan kemaslahatan manusia di atas segala-galanya. Oleh karenanya fleksibilitas yang kenyal menjadi ciri khas agama hanif sebagai fitrah manusia ini. Salah seorang ulama Moderen dari India di abad XIX lalu Sayyid Ahmad Khan bahkan dengan tegas mengatakan Din hanif dan Fitrah Manusia adalah ibarat saudara kembar, keduanya memiliki kecenderungan yang sama. Keduanya tidak akan pernah saling mengkhianati satu sama lain. Secara institusional umat Islam meyakini bahwa agama hanif itu saat ini direpretansikan oleh Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., yang sesungguhnya. Sebuah agama yang hanif secara filosofis memiliki 5 ciri pokok sebagaimana juga kebutuhan manusia sejati yaitu 1. Adanya sandaran pokok keyakinan yang jelas dan pasti, 2. Adanya sistem dan instrumen yang memungkinkan terjalinnya hubungan langsung dengan sandaran keyakinan yang jelas dan pasti tersebut, 3. Adanya sistem pengendalian diri, 4. Adanya tuntunan hubungan horizontal dengan sesama makhluk, manusia dan 5. Adanya orientasi dalam menjalani hidup dengan segala latar, aspek dan misteri serta konsekuensinya. Tuntutan ini terjawab dalam ajaran Islam yang bisa dilihat pada rukun Islam yang lima. Oleh karena itu kembali kepada Fitrah sesungguhnya adalah kembali kepada Islam sejati. Jika dirinci berdasarkan rukun Islam maka kembali kepada Fitrah adalah kembali kepada minimal 5 poin secara teks dan konteksnya yaitu Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji.
Poin kedua yang penting kita tadabburi tentang hari raya Idul Fitri adalah rangkaian proses kehadirannya. Idul Fitri hadir bukan tiba-tiba, tetapi didahului oleh rangkaian proses yang terinterkoneksi satu sama lain. Kehadiran idul fitri didahului oleh proses amaliah Ramadhan dengan segala paketnya. Di sana ada Puasa, Qiyaamullail, Tadarrus, I’tiqaf, Lailatul Qadar dan Zakat Fitrah. Ini semua adalah paket tak terpisahkan sebagai latar hadirnya Idul Fitri. Pagelaran Hari raya Idul Fitri adalah ‘Antiklimaks’ nya. Oleh karena itu nilai-nilai idul fitri tidak terpisahkan dari latar proses tersebut. Dengan kata lain kristalisasi dari nilai-nilai yang dibentuk oleh rangkaian latar belakang itu isi dari Idul Fitri.
Puasa sebagai paket rangkaian idul fitri bertujuan mengantarkan pelakunya menjadi insan yang taqwa, yaitu insan yang memiliki hubungan harmonis dua arah yaitu arah vertikal kepada Allah sang Khaliq dan arah horizontal sesama makhluk Allah.
Qiyamullail mengasah taqarrub kepada Allah. Dengan kondisi taqarrub kepada Allah akan mengalirkan sifat-sifat Allah kepada manusia sebagai aktualisasi potensi kedekatan dengan Allah berupa al-Asma al-Husnah. Tadarrus mengasah dan memperluas wawasan, mengasah kecermatan dan membuka terus kemungkinan sesuatu yang terkandung dalam sesuatu yang dibaca, walau yang dibaca itu terus berulang-ulang yakni al-Quran. I’tiqaf mengasah ketajaman spiritual sehingga semakin mengenali diri sendiri dan Pencipta serta segenap ciptaan-Nya dengan segala maknanya yang tiada habis terurai dari waktu ke waktu. Zakat mengasah kecerdasan sosial-spiritual, berupa kepekaan dan kepedulian, simpati dan empati dan mengikis egoisme.
Berangkat dari pemahaman 2 hal tentang idul fitri di atas mengantarkan kita pada kesimpulan pesan yang ingin disampaikan Idul Fitri jika dikaitkan dengan kondisi pandemi Covid 19 yang masih mewabah bahkan dikhawatirkan perayaan idul fitri akan menjadi klaster baru penyebaran virus ini. Untuk itu pesan-pesan imaginer dari Hari Raya Idul Fitri dalam menghadapi pandemi covid agar tidak terjadi apa yang menjadi kekhawatiran pemerintah dan ahli di bidang epidemi. Pesan-pesan pokok yang harus diaktualisasikan tersebut adalah :
1. Kembalilah kepada Fitrah, dalam konteks penaganan pandemi ini dapat diartikan kembali kepada sesuatu yang benar, hati nurani, kepentingan dan kebaikan bersama, kembali mengendalikan ego sektoral kita, apakah individu atau kelompok tertentu. Kembalilah kepada perenungan dalam rangka introspeksi segala sepak terjang kita selama ini di tengah pandemi covid-19 apakah sudah berkontribusi positif walau dalam skala sempit dalam pencegahan pandemi covid-19 ini.
2. Wujudkan taqwa, aktualisasi pesan ini dengan menage pada salah satu substansi taqwa yaitu keharmonisan. Oleh karena itu, bangunlah keharmonisan dalam kesadaran, sikap dan perilaku yang harmonis secara ril dalam hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan harmonis horizontal kepada sesama makhluk Allah. Dalam konteks pandemi covid 19 keharmonisan multi arah secara lebih rill adalah pilihan terbaik. Jalinan harmonis antara Umara dan Ulama perlu semakin dioptimalkan. Rakyat dan pemerintah perlu harmonisasi dan bahu membahu dalam penanganan Pandemi covid 19. Sesama elemen rakyat perlu harmonisasi, perbedaan pendapat sangat niscaya tetapi yang harus dikedepankan adalah kemaslahatan global secara bersama. Hal ini tentunya akan terwujud dengan adanya pengendalian diri semua pihak. Kepada virus corona sikap dan kesadaran harmonis perlu dibangun. Wujud nyata dari sikap dan kesadaran harmonis dengan virus corona adalah ‘jangan ada takut berlebihan terhadap virus corona, tetapi jangan juga berani apalagi meremehkannya, karena dalam kasus pandemi Covid-19 tetap bekerja sunnatullah yang jika diabaikan, ia akan bertindak tanpa pandang bulu.
In uridu illa al-islah mastataktu, wa ma taufiqi illa bi Allah wa ilaihi unib. Wa Allahu ‘a‘lam bi al-shawab. Wassalam. (*)
















