• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 22 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Kesehatan

OPINI : Cegah Epidemi dengan Bijak

Editor: Alfiansyah Anwar
19 Maret 2020
di Kesehatan
Sirajuddin

Oleh : Sirajuddin, Pustakawan IAIN Parepare

OPINI – Kepedulian menjadi langkah bijak melawan epidemi, kepedulian yang menyeruak mengisi ruang publik saat ini yang wajib kita sederhanakan dalam bentuk self-protect atau melindungi diri sendiri, yang berarti melindungi orang lain, menjadi analisa yang saya tuangkan dalam opini ini.

Beberapa hari ini pasca berita nasional pandemi SARS-CoV-2 (yang menyebabkan penyakit bernama Coronavirus Disease 2019 yang dikenal dengan COVID-19) sudah membunuh 5 orang Indonesia meskipun ada 9 orang yang sembuh dari Covid 19 ini, namun fakta lain bahwa Indonesia dengan 5,20 % meninggal menempatkan Indonesia berada dipuncak kedua setelah Italia dengan persentasi kematian 7,169 % (Sumber : Analis John Hopkins University & Medicine, Senin 16 Maret 2020).

Coronavirus Diseas 2019 adalah nama panjang dari Covid-19 yang menurut para ahli di John Hopkins bahwa sekarang ada 81.191 kasus di seluruh dunia dan 2.768 kematian, ini membawa beberapa fakta yang mengisi ruang kegelisahan kita yang kemundian tiba-tiba membuat kita jadi literat, proaktif, kreatif dan dan cenderung sabar.

Fakta pertama, epidemi yang menyebar dan sekarang menjadi pandemi global ini membawa kita untuk disiplin menjaga diri dan kesehatan, mencuci tangan, membersihkan badan dan lingkungan yang sebelumnya jauh dari perhatian kita.

BeritaTerkait

Wali Kota Parepare Tegaskan Faskes Dilarang Tolak Pasien JKN Nonaktif Sementara

18 Februari 2026

Satu Tahun Program Makan Bergizi Gratis: Antara Cita-cita Mulia dan “Bom Waktu” Penyakit

10 Januari 2026
Pelantikan Pengurus IDI, Bupati Pinrang Minta Layanan Jadi Prioritas

Pelantikan Pengurus IDI, Bupati Pinrang Minta Layanan Jadi Prioritas

12 Oktober 2025

Cegah DBD, Anggota DPRD Sidrap Turun Langsung Lakukan Fogging di Massepe

25 Juni 2025

Kedua, pandemi global ini mengajarkan kita saling tetap menjaga silaturrahim, menjaga pertemanan dan ikatan kekeluargaan meskipun tanpa, berpagut, bersentuhan, cipika cipiki (cium pipi) dan bahkan kita diajari menjaga jarak dengan orang lain (social distancing) yang diimbau WHO, ini seolah olah membawa kehidupan kita dalam budaya yang apik.

Ketiga, pandemi global ini mengantar kita menjadi banyak tahu (literarate) dengan banyak membaca berita dan menambah wawasan bagaimana cara terbaik terhindar Covid-19 yang  mematikan ini, kita akan mensearching dan menshare di media sosial segala hal yang berhubungan dengan pandemi global ini.

Keempat, mengisi libur 14 hari yang direkomendasikan oleh pemerintah pusat dan daerah adalah langkah ringan mengikuti lockdown yang sudah diterapkan oleh beberapa negara, seketika kita menjadi insan yang harus melek tehknologi (high tech) dengan banyak mencari cara untuk tetap bekerja dari rumah dengan menggunakan media teknologi (teleworking), seperti mengajar dan urusan kantor.

Kelima, seketika kita terkena panyakit homesickness menganggap rumahlah tempat terbaik yang sebelumnya hal ini tidak pernah sama sekali dalam benak kita, quality time atau me time istilah kalangan milenial yang terbaik saat ini adalah di rumah.

Keenam, meningkatnya pemahaman agama terutama di tengah pandemi global ini kita faham adanya kelonggaran untuk tidak ke masjid yang didasari oleh kebiasaan Rasulullah dan para sahabat ketika menghadapi kondisi sulit untuk berjamaah di masjid, yang menarik di beberapa Negara Islam di Timur Tengah mengubah bunyi seruan azan untuk sholat di rumah masing-masing yang disesuaikan dengan ragam bahasa mereka.

Zaman ini akan menjadi catatan sejarah dan kita tidak tahu kapan epidemi ini terhenti dan pandemi global itu hilang beserta penyakit Covid-19 ini berakhir, namun kepedulian dan kesabaran akan membawa kita mampu melewati masa-masa sulit melawan pandemi Coronavirus Disease 2019 ini. (*)

Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

Terkait: Covid-19Virus coronaVirus Covid-19

BeritaTerkait

Covid-19 Berlalu, Warga Tanete Ini Masih Hidup Dalam Pilu

Covid-19 Berlalu, Warga Tanete Ini Masih Hidup Dalam Pilu

Editor: Tohir Muhammad
26 April 2024

...

Pandemi Covid-19 Masih Ada, Muncul Varian Arcturus

Pandemi Covid-19 Masih Ada, Muncul Varian Arcturus

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
19 April 2023

...

Tahan Laju Kenaikan Covid-19, Pemerintah Kembali Memperpanjang PPKM Level 1 di Seluruh Wilayah Indonesia

Tahan Laju Kenaikan Covid-19, Pemerintah Kembali Memperpanjang PPKM Level 1 di Seluruh Wilayah Indonesia

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
8 November 2022

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi