• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, 21 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Manajemen Keuangan Keluarga (Bagian 1)

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
6 Juni 2020
di Opini
Tamsil Hadi

Oleh : Tamsil Hadi, MM

1. Kebahagiaan

Penting memiliki perspektif yang jernih tentang kebahagiaan sebelum merancang keuangan keluarga. Jika keliru maka akan berdampak buruk pada pola yang akan kita lakukan, mulai dari perencanaan sampai dengan pengendaliannya. Perencanaan kita akan lebih banyak didorong oleh obsesi dan dorongan hasrat memiliki. Langkah-langkah yang akan kita ambil tidak lagi mandiri, tapi justru lebih dikendalikan oleh hal-hal diluar diri kita. Kenapa? Karena kita telah membangun perspektif bahwa kebahagiaan itu sudah termonopoli.

Kebahagiaan itu hanyalah milik orang kaya yang bergelimang harta. Kebahagiaan itu hanya ada ketika kita sudah bisa memiliki apapun yang kita inginkan. Kebahagiaan itu hanyalah bisa dirasakan ketika mampu membeli barang branded terkenal yang diproduksi secara limited edition. Bangunan perspektif seperti ini telah mengabaikan kenyataan bahwa kebahagiaan itu pada dasarnya bisa hadir pada banyak ruang, bisa didesain sendiri oleh masing-masing orang, dan tidak bertahta hanya pada satu keadaan saja.

Betul dengan harta melimpah orang memang bisa meraih kebahagiaan namun juga sangat mungkin dilanda risau berlebihan akibat hartanya. Banyak orang fakir akan berkata kebahagiaan itu ada pada kekayaan. Namun oleh kelompok lain seperti mereka yang sakit akan berkata kebahagiaan itu ada pada kesehatan. Pendosa berkata kebahagiaan itu ada pada pertobatan. Perindu berkata kebahagiaan itu ada pada pertemuan. Akhirnya cobalah bertanya kepada orang kaya yang sedang mules dan kebelet, apakah kebahagiaan itu ada dikamar kecil atau pada kendaraan mewah? Bisa diprediksi bahwa orang kaya tadi akan menemukan kebahagiaan itu tempatnya dikamar kecil, bukan dikendaraan mewahnya.

Jadi kebahagiaan ternyata itu bukanlah barang langka. Kebahagiaan itu bisa dihadirkan sendiri dan tidak harus tergantung pada penilaian orang lain. Kebahagiaan itu dapat diproduksi secara massal sehingga persediaannya melimpah ruah dan bertebaran dimana-mana.

Berita Terkait

Pemkab Sidrap dan BNI Perkuat Kerjasama

Dosen dan Mahasiswa ITH Latih Ibu-Ibu PKK Lanrisang Kelola Keuangan Rumah Tangga

Edukasi Keuangan, Pj Tim Penggerak PKK Parepare Apresiasi OJK Sulselbar

Diterima Pj Wali Kota, Pemkot Parepare Kembali Raih WTP

Jika kita sudah melihat dari perspektif seperti ini, maka keuangan keluarga yang kita kelola nantinya bisa mengalir sesuai dengan saluran yang kita rancang sendiri. Bukan dikendalikan oleh ambisi memiliki materi secara berlebihan dengan alasan ingin berbahagia dengannya. Kita tutup bahasan ini dengan merenungi perspektif Ibnu Khaldun yang berpendapat “bahagia itu ialah tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan kemanusiaan” atau dari ungkapan penuh jiwa dari seorang Imam Al-Ghazali yang mengatakan “bahagia dan kelezatan yang sejati, ialah bilamana mengingat Allah”.

Mari buang jauh-jauh perspektif yang bias tentang kebahagiaan jika anda ingin mengelola keuangan keluarga dengan lebih bijak.

Laman 2 dari 6
sebelumnya123...6Selanjutnya
Terkait: KeuanganManajemen

TerkaitBerita

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

...

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

Kaprodi IP UMS Rappang Raih Doktor Cumlaude di UMY, Tuntaskan Studi 2,9 Tahun dengan 7 Publikasi Scopus

Kaprodi IP UMS Rappang Raih Doktor Cumlaude di UMY, Tuntaskan Studi 2,9 Tahun dengan 7 Publikasi Scopus

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

Bupati Sidrap ke Siswa SMPN 1 Watang Pulu: Pendidikan adalah Jalan Meraih Kesuksesan

Bupati Sidrap ke Siswa SMPN 1 Watang Pulu: Pendidikan adalah Jalan Meraih Kesuksesan

Editor: Muhammad Tohir
20 Mei 2026

Jelang Idul Adha, Wabup Pinrang Pimpin Rapat TPID Antisipasi Lonjakan Harga Bahan Pokok

Jelang Idul Adha, Wabup Pinrang Pimpin Rapat TPID Antisipasi Lonjakan Harga Bahan Pokok

Editor: Muhammad Tohir
20 Mei 2026

Pimpin Upacara Harkitnas ke-118, Wali Kota Parepare Tekankan Kedaulatan Digital

Pimpin Upacara Harkitnas ke-118, Wali Kota Parepare Tekankan Kedaulatan Digital

Editor: Muhammad Tohir
20 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan