• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 2 Juni, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini: Politik Sebagai Perjudian

Alfiansyah Anwar Editor: Alfiansyah Anwar
1 Oktober 2017
di Opini

Oleh Aswar Hasan

PIJAR OPINI — Sutan Syahrir tokoh Sosialis Radikal yang pernah menjadi Perdana Menteri Negara RI di Zaman Orde Lama Dalam sistem Kabinet Parlementer pernah berkata bahwa: Politik bukanlah sekadar perhitungan, melainkan bertindak etis, berbuat dan bersikap moral tinggi. Para pemimpin haruslah menjadi pahlawan laksana para nabi.”

Pertanyaannya kemudian, apakah pemikiran politik sebagaimana Syahrir kemukakan itu ada secara jamak diamalkan sekarang ini? jawabnya hampir pasti tidak ada yang sepakat secara bulat setuju dengan Syahrir. Kenyataannya, politik saat ini lebih dipahami sebagai sebuah kontestasi yang sarat perhitungan.

Praktik politik saat ini justru sarat dengan berbagai perhitungan yang penuh aroma spekulasi sebagaimana halnya sebuah perjudian yang mengejar sejumlah kemungkinan dalam ketidakpastian. Maka definisi politik sebagai seni mengubah ketidakmungkinan menjadi hal yang mungkin semakin mendapat legitimasi sosial tanpa moral.

Politik, khususnya dalam kontestasi Pilkada, telah sarat dimuati pragmatisme yang diwarnai hitung-hitungan melalui mekanisme survei popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas. Berbagai tingkatan posisi tersebut telah dimotori dan didesain dengan merekayasanya melalui kekuatan isi tas (uang). Ada yang awalnya tidak dikenal dan tidak diterima, tetapi karena adanya jasa konsultan politik dengan berbagai saran perlakuan tindakan di lapangan berdasarkan hasil survei pemetaan, maka dalam jangka tidak terlalu lama posisi calon bisa disulap menjadi populer dan disenangi. Itu karena ada uang yang bisa menggerakkan elemen-elemen penentunya.

Berita Terkait

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Dapat disimpulkan, bahwa praktik politik masa kini hampir pasti tidak bisa dimenangkan tanpa digerakkan dengan uang, dan uang itu juga harus didayagunakan dan diperlakukan seperti halnya memainkan dadu di atas meja judi. Harus berani mengambil keputusan berdasarkan hitung-hitungan spekulatif. Tidak ada teman sejati dalam perjudian. Yang ada hanya teman dalam persekongkolan untuk menang. Komitmen untuk berteman tidak lagi bisa diperpegangi. Idealisme telah tergusur oleh pragmatisme. Menghalalkan segala cara untuk menang, semakin mendapatkan momentumnya. Inilah masa dimana politik sebagai seni dan idealisme serta ilmu pengetahuan dan etika mencapai puncak krisisnya.

Akhirnya kata demokrasi yang asal kelahirannya dari rakyat untuk rakyat justru menjadikan rakyat sebagai korban utamanya yang terparah. Rakyat tertipu dalam buaian para politisi dan terexploitasi untuk kepentingan syahwat para elite politik. Rakyat yang seharusnya bisa mendikte menurut rumus demokrasi, justru menjadi pihak yang didikte. Rakyat begitu sulit bersatu untuk memperjuangkan kepentingannya. Namun di sisi lain rakyat begitu mudah dipersatukan melalui Event Politik demi kepentingan para politisi. Rakyat semakin mudah dibentuk dalam politik kepentingan, di sisi lain, rakyat juga mudah saling membentak diantara mereka sendiri, demi memenuhi kehendak patron politiknya. Rakyat terkotak berdasarkan kotak-kotak para politisi yang bermain cari hidup di tengah rakyat.

Demikianlah situasi politik kita akhir-akhir ini. Sebuah potret buram demokrasi kita, akibat transformasi politik yang salah arah dan gagal. Demokrasi tersandera oleh para bandar, bandit dan badut politik. Nyaris tidak ada pesta demokrasi Pilkada tanpa ada bandar yang bermain di belakangnya, lalu menjadi seru dan serius menegangkan oleh ulah para bandit. Namun, kita pun terpaksa tertawa, karena juga ada badutnya. sampai kapan wajah dan tingkah politik kita terus begini?

Wallahu A’lam Bishawwab. (*)

Terkait: Azwar HasanOpiniPolitik

TerkaitBerita

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

...

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Editor: Muhammad Tohir
26 Mei 2026

...

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

...

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Berita Terkini

Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Tasming Hamid Ajak Warga Perkuat Persatuan

Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Tasming Hamid Ajak Warga Perkuat Persatuan

Editor: Muhammad Tohir
1 Juni 2026

Meski Belum Rampung, Warga Desa Benteng Senang Jalan Indoapping-Rajang Balla Kini Diperbaiki

Meski Belum Rampung, Warga Desa Benteng Senang Jalan Indoapping-Rajang Balla Kini Diperbaiki

Editor: Muhammad Tohir
31 Mei 2026

Misi Dakwah Kurban di Enam Pelosok Negeri, KDP Jangkau Daerah Muallaf hingga Pedalaman NTT

Misi Dakwah Kurban di Enam Pelosok Negeri, KDP Jangkau Daerah Muallaf hingga Pedalaman NTT

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

Gebyar Anniversary KMKB ke-25, Pererat Solidaritas dan Perkuat Semangat Pelestarian Budaya Daerah

Gebyar Anniversary KMKB ke-25, Pererat Solidaritas dan Perkuat Semangat Pelestarian Budaya Daerah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan