• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 24 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini: Polusi Citra di Tahun Politik

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
22 September 2018
di Opini

Mengaktualkan roh demokrasi yaitu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat merupakan hal wajib dilakukan sebagai warga negara yang menganut sistem kenegaraan tersebut. Makanya pada tahapannya kemudian, kita punya hak untuk menentukan arah gerak politik kita, entah itu dengan jalan memilih atau yang menjadi pilihan artinya menjadi aktor politik.

Demokrasi memang memberikan ruang terbuka lebar untuk untuk berekspresi, menyampaikan pendapat, mempoles diri agar menjadi pilihan masyarakat, merebut tahta dan kuasa kemudian mengelola dan membuat kebijakan. Karena dalam merebut kuasa kita membutuhkan dukungan politik yang konstitusional berupa suara rakyat dari bilik suara, maka beramai-ramailah para calon pemimpin dan wakil kita mempoles dirinya untuk dikatakan “layak” pilih di mata masyarakat.

Ruang publik, media sosial serta carut marut kehidupan masyarakat di jadikan “lahan perjuangan” oleh para politikus untuk saling berebut simpati, empati dan dukungan untuk memuluskan niatnya menduduki kursi empuk tersebut.

Tidak aneh rasanya, ketika menjelang pesta demokrasi lima tahunan tersebut kita menjumpai atribut-atribut kampanye dimana-mana. Mulai dari yang paling kecil seperti, stiker, panflet, hingga yang paling besar seperti spanduk dan baliho, pemandangan seperti ini yang menghiasi posisi-posisi strategis di kota-kota yang sebenarnya telah menghilangkan estetika tata kota itu sendiri. Kita lebih banyak menjumpai foto para politikus beserta visi misinya yang katanya “merakyat” dibandingkan dengan informasi dan agenda sosial kemasyarakatan sebuah kota. Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang menjadi prasyarat asri dan nyamannya sebuah kota, justru tenggelam oleh poster, spanduk, serta bendera yang sedang menjadi kontestan pemilu tersebut.

Kalau dulu kita mengenal polusi hanya sebatas asap dan udara akibat gas pembuangan kendaraan ataupun kebakaran hutan, saat ini kita mengalami hal yang dinamakan “polusi citra” akibat semrawutnya atribut kampanye disekitar kita. Polusi udara atau asap dan polusi citra tersebut sama-sama penyakit, kalau polusi udara mengakibatkan sesak nafas maka polusi cita berimplikasi pada sakitnya mental kitai karena sering menelan citra-citra palsu berupa gambar dan suara. Itu semua dilakukan sebagai ajang tampil diri di panggun politik demi merebut suara calon pemilih. Karena para politikus ini beranggapan bahwa jalan satu-satunya yang paling cepat dan memiliki cost politic (biaya politik) yang rendah untuk mendapatkan simpati masyarakat yang berujung pada memberikan suaka politiknya kepadanya ialah dengan memanfaatkan ruang publik untuk memasang wajah-wajah mereka beserta segudang visi-misinya

Berita Terkait

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Berbagai ragam ekspresi mereka yang menempel diruang publik kita, menjadi keunikan tersendiri dalam kompetisi merebut suaka politik tersebut. Ada calon yang memoles dirinya menjadi agamais, memakai peci dan membajak ayat-ayat agama, tapi dalam kehidupannya sehari-harinya hanya memakan hak orang lain yang justru menjadi pantangan agama. Ada juga yang sok nasional, semisal memajang bendera disertai tagline “Indonesia Satu, NKRI harga mati atau tagline nasionalisme yang lain, sementara dia berbisnis hanya menguntungkan diri sendiri dan keluarganya saja. Pertanyaannya adalah apakah ini di kategorikan nasionalis?, Tentu tidak, sangat jauh dari itu.

Panggung politik kita saat ini saat ini sebagian besar dipenuhi citra (gambaran palsu) oleh aktor politik, selain sebagai klaim semata hal tersebut juga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Mereka dengan gagahnya memasang visi-misi yang menjual-jual atas nama rakyat, peduli kaum pinggiran, pengentasan kemiskinan, mensejahterakan kaum bawah sementara fakta dilapangan, hal tersebut hanya pepesan kosong belaka karena mereka seakan “amnesia berjamaah” terhadap rintihan masyarakat kecil yang telah memilihnya.

Atribut kampanye etisnya dipenuhi dengan pesan politik yang mendidik, membangun, dan menggambarkan visi dan misi, bukan klaim politik. Jadi mulai dari sekarang, ketika kita punya niatan mengadu nasib di panggung politik, ataukah mendapati aktor politik yang punya niatan seperti itu, entah itu keluarga, sahabat ataupun senior kita, seharusnya kita harus punya kesadaran kolektif bahwa kampanye politik dijadikan sebagai medium pendidikan politik yang massif yang mengedukasi pandangan politik masyarakat awam agar mereka merasa tak sia-sia mengamanahkan harapan dan cita-cita luhur mereka kepada kita.

Meluruskan pandangan kita bersama, bahwa menjadi aktor politik untuk meraih kuasa tak semudah hanya dengan memproduksi alat peraga kampanye saja karena posisi di parlemen maupun di pemerintahan merupakan tanggungjawab sosial bukan agenda politik dan bisnis pribadi atau golongan karena kita menduduki posisi tersebut tidak kita peroleh hanya dengan bermodalkan hal itu, tapi posisi tersebut kita dapatkan dari suara sah rakyat yang memilih kita. Maka seyogyanya kita harus Melakukan pelampauan Political will dari keinginan individu menjadi pengaktualan aspirasi masyarakat

Dan yang terakhir untuk membangun citra yang real di masyarakat bukan semudah dengan memesan martabak, pesan langsung jadi seperti bahasa senior saya hehehe. Harus ada proses bermasyarakat, terjun langsung diakar rumput, mendengar denyut nadi dan keringat masyarakat miskin. Itu semua membutuhkan tenaga dan gagasan yang brilian, bukan sebatas tagline yang menempel di spanduk, dan tentunya tidak dalam waktu singkat sebatas lima tahun saja. karena kesejahteraan masyarakat bukan hanya 5 tahun tapi berlanjut sampai anak cucu kita.

Penulis:
Bahrum Pena

 

Terkait: Bahrum PenaOpini

TerkaitBerita

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Momen Ramadan, PSI Parepare Tebar Ratusan Takjil

Editor: Muhammad Tohir
17 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

BeritaTerkini

Lebaran di Negeri Sakura, Haru Perantau Sidrap Jadi Imam Salat Id di Jepang

Lebaran di Negeri Sakura, Haru Perantau Sidrap Jadi Imam Salat Id di Jepang

Editor: Muhammad Tohir
22 Maret 2026

Rayakan Idul Fitri di Lapangan Andi Makkasau, Wali Kota Parepare Paparkan Capaian

Editor: Muhammad Tohir
21 Maret 2026

Setelah Puluhan Tahun, Takbir Kembali Menggema di Stadion Ganggawa

Setelah Puluhan Tahun, Takbir Kembali Menggema di Stadion Ganggawa

Editor: Muhammad Tohir
21 Maret 2026

Perkuat Sinergi, Bosowa Peduli dan Pemkot Makassar Salurkan 1.000 Paket Sembako bagi Petugas Layanan Publik di Karebosi

Perkuat Sinergi, Bosowa Peduli dan Pemkot Makassar Salurkan 1.000 Paket Sembako bagi Petugas Layanan Publik di Karebosi

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
19 Maret 2026

NasDem Sulsel Perkuat Konsolidasi di Dapil 2, Syaharuddin Alrif: Jaga Kepercayaan Rakyat

NasDem Sulsel Perkuat Konsolidasi di Dapil 2, Syaharuddin Alrif: Jaga Kepercayaan Rakyat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
19 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan