• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, 21 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini: Sekolah dan Kejayaan yang Hilang

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
6 Februari 2019
di Opini

OPINI, PIJARNEWS.COM — Beberapa waktu yang lalu, penulis bertemu dengan seorang anak yang putus sekolah. Sewaktu penulis bertanya kenapa adek tidak sekolah. Dia menjawab bahwa sekolah tidak menjamin kesuksesan, bos tempatnya bekerja sebagai buruh hanyalah tamatan SD, namun sekarang mampu mempekerjakan puluhan sarjana. Bahkan, kakaknya yang serjana justru hari ini belum bekerja.

Anak ini hanyalah salah satu diantara puluhan anak yang bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik penggilingan roti dipinggiran Kota Makassar. Mereka semua tidak bersekolah, dan menganggap sekolah hanya membuang-buang waktu dan uang. Lebih baik sejak dini bekerja dan berharap suatu saat bisa bernasib seperti Menteri Susi yang hanya tamatan SMP namun bisa menjadi Menteri.

Sebagai anak-anak, apa yang mereka sampaikan tentu diluar kesadaran mereka sendiri. Ibarat seekor burung Beo, mereka hanya mengulang-ulangi apa yang mereka dengar dari orang tua, keluarga, tetangga dan teman sebaya dilingkungan mereka.

Mengutip Lacan, anak ini hanyalah cermin yang memantulkan setiap bayang yang mereka serap dari lingkungannya.
Sangat sulit membayangkan seorang anak yang memiliki hak untuk belajar dan diajar memiliki konsep diri yang ditanamkan kepada mereka, bahwa sekolah saat ini tidak menjamin kesuksesan dimasa depan. Dengan mengambil contoh langsung kepada realitas seorang pejabat tinggi di Negeri ini bisa sangat sukses namun hanya berbekal ijasah SMP.

Dengan paradigma seperti ini, maka wajar saja jika program pendidikan gratis yang menjadi “jualan” andalan pemerintah gagal terlaksana di tingkat masyarakat kelas bawah. Pendidikan atau sekolah gratis justru hanya dinikmati oleh masyarakat kelas menengah. Nampaknya, aparat pemerintah harus lebih sering turun langsung ke masyarakat untuk mengukur kesuksesan program pendidikan gratisnya.

Berita Terkait

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Sebagai pemerhati masyarakat tentu perubahan paradigma masyarakat terkait pendidikan ini harus diperhatikan. Karena jika konsep tentang pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang telah mengakar kuat dalam alam bawah sadar seorang anak, maka motivasi anak tersebut untuk bersekolah akan hilang sama sekali seperti yang terjadi terhadap anak yang disebut diatas.

Nampaknya, Penjelasan Sigmound Freud mengenai Konsep Fiksasi menjadi relevan untuk didikusikan. Freud Mengatakan bahwa Fiksasi adalah hambatan kejiwaan yang dialami oleh seseorang ketika dia sangat mengingikan sesuatu, tapi tidak bisa dipenuhi. Ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi stress, depresi yang berujung pada kegilaan. Namun, manusia memiliki mekanisme pertahanan diri yang dapat mencegah dari kegilaan. Yaitu melahirkan sejumlah konsep-konsep baru yang menjadi antithesis dari keinginanan yang tidak dapat terpenuhi tersebut.

“Sekolah tidak menjamin kesuksesan” merupakan gagasan baru yang lahir dari ketidak mampuan sesorang untuk mengakses dunia pendidikan itu sendiri. Ketidak mampuan mengakses tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor. Dan faktor utama biasanya adalah terkendala biaya. Orang-orang yang tidak dapat mengakses pendidikan pun harus terpinggirkan dalam arti fisik maupun dalam arti dalam kehidupan sosial.

Berangkat dari penjelasan ini, maka kecendrungan untuk menyalahkan korban (blame the victim) seperti mengatakan bahwa orang miskin itu karena malas baik malas bekerja maupun malas disekolah harus ditiadakan. Karena pada dasarnya, konsep mereka tentang pendidikan tidak memberikan kesuksesan adalah gagasan yang lahir dari kondisi mereka atas ketidak mampuan mengakses sarana pendidikan itu sendiri.

Penulis.
Andi Faisal Mortheza.
Peneliti Muda Yayasan Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (YKMP) Sulsel.

Terkait: Andi FaisalOpiniSekolah dan Kejayaan yang Hilang

TerkaitBerita

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Momen Ramadan, PSI Parepare Tebar Ratusan Takjil

Editor: Muhammad Tohir
17 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

BeritaTerkini

Perkuat Sinergi, Bosowa Peduli dan Pemkot Makassar Salurkan 1.000 Paket Sembako bagi Petugas Layanan Publik di Karebosi

Perkuat Sinergi, Bosowa Peduli dan Pemkot Makassar Salurkan 1.000 Paket Sembako bagi Petugas Layanan Publik di Karebosi

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
19 Maret 2026

NasDem Sulsel Perkuat Konsolidasi di Dapil 2, Syaharuddin Alrif: Jaga Kepercayaan Rakyat

NasDem Sulsel Perkuat Konsolidasi di Dapil 2, Syaharuddin Alrif: Jaga Kepercayaan Rakyat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
19 Maret 2026

Aliran Sungai Pekkabata–Lampa Tersumbat Sampah

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

KAHMI Parepare Bukber, Berbagi hingga Diskusi

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

Safari Ramadan Hari ke-27, Tasming Hamid Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan