• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 22 April, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini: Sekolah dan Kejayaan yang Hilang

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
6 Februari 2019
di Opini

OPINI, PIJARNEWS.COM — Beberapa waktu yang lalu, penulis bertemu dengan seorang anak yang putus sekolah. Sewaktu penulis bertanya kenapa adek tidak sekolah. Dia menjawab bahwa sekolah tidak menjamin kesuksesan, bos tempatnya bekerja sebagai buruh hanyalah tamatan SD, namun sekarang mampu mempekerjakan puluhan sarjana. Bahkan, kakaknya yang serjana justru hari ini belum bekerja.

Anak ini hanyalah salah satu diantara puluhan anak yang bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik penggilingan roti dipinggiran Kota Makassar. Mereka semua tidak bersekolah, dan menganggap sekolah hanya membuang-buang waktu dan uang. Lebih baik sejak dini bekerja dan berharap suatu saat bisa bernasib seperti Menteri Susi yang hanya tamatan SMP namun bisa menjadi Menteri.

Sebagai anak-anak, apa yang mereka sampaikan tentu diluar kesadaran mereka sendiri. Ibarat seekor burung Beo, mereka hanya mengulang-ulangi apa yang mereka dengar dari orang tua, keluarga, tetangga dan teman sebaya dilingkungan mereka.

Mengutip Lacan, anak ini hanyalah cermin yang memantulkan setiap bayang yang mereka serap dari lingkungannya.
Sangat sulit membayangkan seorang anak yang memiliki hak untuk belajar dan diajar memiliki konsep diri yang ditanamkan kepada mereka, bahwa sekolah saat ini tidak menjamin kesuksesan dimasa depan. Dengan mengambil contoh langsung kepada realitas seorang pejabat tinggi di Negeri ini bisa sangat sukses namun hanya berbekal ijasah SMP.

Dengan paradigma seperti ini, maka wajar saja jika program pendidikan gratis yang menjadi “jualan” andalan pemerintah gagal terlaksana di tingkat masyarakat kelas bawah. Pendidikan atau sekolah gratis justru hanya dinikmati oleh masyarakat kelas menengah. Nampaknya, aparat pemerintah harus lebih sering turun langsung ke masyarakat untuk mengukur kesuksesan program pendidikan gratisnya.

Berita Terkait

Judol Menghilangkan Nyawa

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Sebagai pemerhati masyarakat tentu perubahan paradigma masyarakat terkait pendidikan ini harus diperhatikan. Karena jika konsep tentang pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang telah mengakar kuat dalam alam bawah sadar seorang anak, maka motivasi anak tersebut untuk bersekolah akan hilang sama sekali seperti yang terjadi terhadap anak yang disebut diatas.

Nampaknya, Penjelasan Sigmound Freud mengenai Konsep Fiksasi menjadi relevan untuk didikusikan. Freud Mengatakan bahwa Fiksasi adalah hambatan kejiwaan yang dialami oleh seseorang ketika dia sangat mengingikan sesuatu, tapi tidak bisa dipenuhi. Ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi stress, depresi yang berujung pada kegilaan. Namun, manusia memiliki mekanisme pertahanan diri yang dapat mencegah dari kegilaan. Yaitu melahirkan sejumlah konsep-konsep baru yang menjadi antithesis dari keinginanan yang tidak dapat terpenuhi tersebut.

“Sekolah tidak menjamin kesuksesan” merupakan gagasan baru yang lahir dari ketidak mampuan sesorang untuk mengakses dunia pendidikan itu sendiri. Ketidak mampuan mengakses tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor. Dan faktor utama biasanya adalah terkendala biaya. Orang-orang yang tidak dapat mengakses pendidikan pun harus terpinggirkan dalam arti fisik maupun dalam arti dalam kehidupan sosial.

Berangkat dari penjelasan ini, maka kecendrungan untuk menyalahkan korban (blame the victim) seperti mengatakan bahwa orang miskin itu karena malas baik malas bekerja maupun malas disekolah harus ditiadakan. Karena pada dasarnya, konsep mereka tentang pendidikan tidak memberikan kesuksesan adalah gagasan yang lahir dari kondisi mereka atas ketidak mampuan mengakses sarana pendidikan itu sendiri.

Penulis.
Andi Faisal Mortheza.
Peneliti Muda Yayasan Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (YKMP) Sulsel.

Terkait: Andi FaisalOpiniSekolah dan Kejayaan yang Hilang

TerkaitBerita

Judol Menghilangkan Nyawa

Judol Menghilangkan Nyawa

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 April 2026

...

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
13 April 2026

...

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 April 2026

...

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Pastikan Korban Tertangani, Tasming Hamid Temui Korban Kebakaran di Lumpue

Pastikan Korban Tertangani, Tasming Hamid Temui Korban Kebakaran di Lumpue

Editor: Muhammad Tohir
22 April 2026

Penandatanganan rekomendasi LKPJ TA 2025, Wali Kota Apresiasi Kinerja DPRD Parepare

Penandatanganan rekomendasi LKPJ TA 2025, Wali Kota Apresiasi Kinerja DPRD Parepare

Editor: Muhammad Tohir
22 April 2026

Dorong Literasi Akademik, Dosen Sumbangkan Karya Ilmiah ke Perpustakaan Kampus IAIN Parepare

Dorong Literasi Akademik, Dosen Sumbangkan Karya Ilmiah ke Perpustakaan Kampus IAIN Parepare

Editor: Muhammad Tohir
21 April 2026

PLN UP3 Pinrang Peringati Hari Kartini 2026, Tegaskan Komitmen Emansipasi

PLN UP3 Pinrang Peringati Hari Kartini 2026, Tegaskan Komitmen Emansipasi

Editor: Muhammad Tohir
21 April 2026

Wali Kota Parepare Dukung Musda VI ICMI, Jadi Momentum Perkuat Persatuan Ormas Islam

Wali Kota Parepare Dukung Musda VI ICMI, Jadi Momentum Perkuat Persatuan Ormas Islam

Editor: Muhammad Tohir
21 April 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan