• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 3 April, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Pendidikan yang Menindas

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 April 2025
di Opini
Nurul Fitra

Nurul Fitra

Oleh: Nurul Fitra (Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Parepare)

Mengapa lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi ruang tumbuh justru berubah menjadi sumber tekanan ?  Mengapa proses belajar terasa seperti beban, bukan sebagai jalan mencapai tujuan. Realita pendidikan saat ini menunjukkan wajah yang memprihatinkan dari tunas-tunas bangsa  terhadap peraturan pendidikan yang kaku dan mencekam. Namun, alih-alih ditindaklanjuti dan diupayakan solusinya  justru  dinormalisasikan dengan dalih pendidik sudah mengupayakan yang terbaik, mirisnya peserta didik  ditindas dengan dalih adab diatas ilmu, muncul pertanyaan fundamental ataukah memang pada dasarnya pendidikan di Indonesia adalah penjara yang berkedok ilmu ?

Pendidikan yang seharusnya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter dan kreativitas peserta didik  justru membungkam kebebasan berpikir dan mematikan potensi peserta didik itu sendiri. Sebagaimana dalam penerapannya peserta didik didorong untuk mengejar angka bukan makna dari proses pembelajaran, begitupun mahasiswa  dijanjikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang  maksimal asal mengikuti prosedur pembelajaran sesuai arahan dosen di ruang belajar. Ini menandakan pendidikan saat ini  sakit namun dipaksa sehat.

Pendidikan di Indonesia sedang berada dalam situasi darurat moral. Disatu sisi, masih banyak pendidik yang bertindak seenaknya menghukum peserta didik  secara fisik, merendahkan secara verbal bahkan melakukan kekerasan yang seharusnya tidak terjadi di ruang belajar. Di sisi lain, peserta didik mulai kehilangan rasa hormat dan  mempertontonkan sikap apatisnya terhadap proses pembelajaran.

Laporan data kasus kekerasan di Lembaga Pendidikan  tahun 2024 oleh jaringan pemantau pendidikan Indonesia (JPPI) menyorot naiknya kasus kekerasan di lembaga pendidikan. JPPI mencatat ada 573 kasus kekesaran di lembaga pendidikan. Sebelumnya pada tahun 2020, JPPI mencatat terjadi 91 kasus kekerasan di lembaga pendidikan. Angka tersebut naik menjadi 124 kasus pada  tahun 2021, seakan tak ada habisnya  pada tahun 2022 ada  194 kasus, dan 285 kasus pada tahun 2023.

Berita Terkait

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Relasi antara pendidik dan peserta didik tidak lagi dibangun atas dasar kasih sayang dan kepercayaan, melainkan atas dasar dominasi, ketakutan, dan pelampiasan kuasa. Pendidik berhak memukul karena merasa superior, pendidik terlalu dibebani dengan sistem yang mencekam akhirnya melampiaskan perasaan emosionalnya kepada peserta didik, adapula peserta didik yang  merasa bebas, mereka tumbuh dan melawan otoritas secara kasar. Ketika ruang belajar berubah menjadi ruang ketegangan dan kekuasaan, maka pendidikan telah gagal menjalankan misinya.

Pendidikan kehilangan esensinya. Pendidikan tidak lagi membebaskan tetapi menekan, pendidikan tidak lagi menjadi wadah membina tetapi mencederai. Menindas artinya memperlakukan manusia tanpa empati dan rasa kemanusiaan. Lembaga pendidikan  akan menjadi ladang konflik bukan lagi tempat pembentukan karakter.

Padahal hakikat pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. KH Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, telah menegaskan bahwa pendidikan  adalah “tuntunan di dalam hidup tumbuh kembangnya anak-anak, bukan penindasan dan pemaksaan”. Dalam konteks ini pendidikan seharusnya tidak fokus pada pencapaian akademik, melainkan pada pengembangan kepribadian, empati dan nilai-nilai kemanusiaan.  Lembaga pendidikan  seharusnya menjadi tempat yang merdeka  dimana peserta didik  bebas  bertanya tanpa takut salah, berargumen tanpa takut dibungkam. Namun realitanya gambaran pendidikan kita saat ini menerapkan sistem yang kaku dan tekanan administratif telah mengikis esensi dari pendidikan itu sendiri.

Sudah terlalu lama pendidikan hanya jadi panggung eksperimen dan ajang ganti-ganti kebijakan tanpa arah. Pergantian kurikulum yang tidak ada habisnya adalah ironi besar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bukannya  membawa perubahan ke arah yang lebih baik, justru memperlihatkan betapa tidak konsistennya arah pendidikan bangsa ini. Setiap pergantian pemimpin sepertinya menjadi hal yang wajib untuk disusul kurikulum yang baru. Seolah pendidikan hanyalah proyek jangka pendek yang bisa kapan saja diatur oleh siapa yang memiliki kedudukan. Oleh karena itu  sudah sangat jelas bahwa saat ini lembaga pendidikan melahirkan kecemasan bukan lagi harapan.

Pendidik dan peserta didik  dipaksa mengikuti kebijakan yang berubah-ubah tanpa diberikan ruang untuk menyesuaikan diri secara manusiawi, mereka dituntut untuk selalu siap  menghadapi sistem baru, mirisnya kegagalan  implementasi kerap dibebankan  kepada pendidik dan pihak lembaga pendidikan, bukan pada pembuat kebijakan yang tidak berpijak pada realitas. Pemerintah harus berhenti menjadikan pendidikan sebagai proyek kebijakan yang terus berubah demi citra dan mulai memprioritaskan pendampingan nyata kepada pendidik secara menyeluruh.

Dengan sadar saya mengatakan bahwa pendidikan bukan ladang uji coba, dan peserta didik  bukan boneka kurikulum. Selama pihak pemerintah hanya sibuk membuat aturan tanpa turun kelapangan, maka rintihan air mata dalam dunia pendidikan  tidak akan terselesaikan justu akan semakin memprihatinkan.

Sebagaimana dalam buku pendidikan kaum tertindas, Paulo Freire menekankan  bahwa “ kaum tertindaslah yang mampu memahami makna penindasan yang mengerikan, karena  merekalah yang menanggung dan mengalami beban penindasan tersebut dan merekalah yang lebih memahami keharusan pembebasan.”  Selaras dengan itu dalam buku Pendidikan kaum tertindas pun dijelaskan bahwa  “pendidikan dapat menjadi alat pembebasan atau penindasan, tergantung bagaimana pendidikan dirancang dam diterapkan”.

Semoga pendidikan di Indonesia benar-benar diupayakan sesuai perintah konstitusi mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar wacana di atas kertas semata. Pendidikan seharusnya menjadi jantung bangsa bukan beban politik lima tahunan. Sebab pendidikan bukan urusan tersier namun pendidikan adalah keperluan  primer  dan pendidikan adalah kunci utama yang akan menentukan arah bangsa kedepannya. Jika pendidikan terus dibiarkan menindas maka jangan heran jika masa depan negeri ini akan tumbuh dalam luka bukan ilmu. Maka harapan kita bukan lagi sekedar butuh perhatian tetapi kesadaran yang serius bahwa masa depan negeri ini ditentukan oleh ruang-ruang kelas hari ini. (*)

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Pastikan Fisik Prima, Personel Brimob Parepare Genjot Tes Kesamaptaan

Pastikan Fisik Prima, Personel Brimob Parepare Genjot Tes Kesamaptaan

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 April 2026

Cegah Kamacetan, Polisi Jaga SPBU Sawitto Pinrang

Cegah Kamacetan, Polisi Jaga SPBU Sawitto Pinrang

Editor: Muhammad Tohir
2 April 2026

10 Siswa SMAN 5 Parepare Lulus di Kampus Bergengsi di China

10 Siswa SMAN 5 Parepare Lulus di Kampus Bergengsi di China

Editor: Muhammad Tohir
2 April 2026

Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Bakal Hadir di Sidrap

Editor: Muhammad Tohir
2 April 2026

Perkuat Sinergi, Pemkab Pinrang Gandeng BPS Siapkan Data Akurat Jelang Sensus Ekonomi

Editor: Muhammad Tohir
2 April 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan