• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, 8 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Rahmah El Yunusiyah: Perempuan Minang yang Bikin Mesir Kagum

Oleh : Muhammad Haramain

Muhammad Tohir Editor: Muhammad Tohir
11 November 2025
di Opini

OPINI–RAHMAH, tiga suku kata yang sederhana, tapi di dalamnya tersimpan energi yang luar biasa. Baru saja. Tepat 10 November 2025. Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya. Rahmah El Yunusiyah.

Jujur, saya baru tahu detailnya belakangan. Dan langsung kaget. Bukan kaget karena baru, tapi kaget karena kenapa baru sekarang?
Namanya memang sudah masyhur di Padang Panjang. Tentu saja. Dia pendiri Diniyah Putri. Sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia. Didirikan tahun 1923.

Tahun 1923! Indonesia belum merdeka. Kartini sudah tiada. Tapi di tengah kebekuan itu, Rahmah sudah berani bikin terobosan yang nyeleneh.
Bayangkan. Perempuan di Minangkabau awal abad ke-20. Itu zaman yang super konservatif. Perempuan biasanya hanya mengaji di surau, diajari yang itu-itu saja.

Tapi Rahmah nekat. Dia tidak puas dengan sistem koedukasi yang campur laki-laki dan perempuan. Ia bilang, perempuan butuh ilmunya sendiri. Ilmu praktis, agama mendalam.

Berita Terkait

Rahmah El Yunusiyah: Perempuan Minang yang Bikin Mesir Kagum

Pahlawan Zaman Now: Kepahlawanan sebagai Tindakan Bermakna di Era Digital

Direktur RSUD Andi Makkasau Terima TP2GP Kemensos Verifikasi Gelar Pahlawan Andi Makkasau

Hormati Jasa Pahlawan, Momen HBI ke 72 Kanim Parepare Gelar Upacara Tabur Bunga

Dia datangi ulama-ulama Minangkabau. Minta diajari agama secara privat. Sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan perempuan saat itu. Ini mindset disruption namanya. Jauh sebelum istilah disruption itu populer.
Dia tidak mau cuma jadi pelengkap.

Lalu lahirlah Diniyah Putri. Sekolah yang fokus mencetak pemimpin perempuan. Bukan cuma pintar mengaji, tapi juga tahu cara mengurus rumah tangga, mengelola hidup, bahkan berpolitik.

Pikirannya melompat jauh ke depan. Sampai melompati batas negara.
Tahun 1955. Imam Besar Al-Azhar dari Mesir datang ke Diniyah Putri. Abdurrahman Taj namanya. Dia penasaran. Ada apa di Padang Panjang ini?

Setelah melihat langsung, dia terkesima. Kagum sekali. Sampai-sampai, Al-Azhar yang segede itu, yang sudah ratusan tahun, akhirnya terinspirasi. Mereka kemudian membuka Kulliyatul Banat. Fakultas khusus untuk perempuan.
Hanya karena terinspirasi Diniyah Putri yang kecil di Padang Panjang itu.

Dua tahun kemudian, giliran Rahmah yang ke Kairo. Kunjungan balasan. Di sana, Al-Azhar memberinya gelar kehormatan: Syekhah.

Belum pernah ada perempuan yang dapat gelar itu sebelumnya! Seorang perempuan dari Padang Panjang, Sumatera, mendapat gelar tertinggi dari Universitas Islam paling tua dan paling bergengsi di dunia.
Ini bukan main-main. Ini pengakuan kelas dunia.

Tapi Rahmah bukan hanya guru. Dia pejuang yang nyata.
Saat revolusi, dia tidak pegang senapan. Tidak naik tank. Dia kerahkan muridnya untuk tugas yang tak kalah penting: Logistik.

Penyedia perbekalan. Makanan, obat-obatan, sampai membantu pengadaan senjata untuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dia memastikan perut tentara kenyang, luka-luka diobati. Itu sama pentingnya dengan peluru.

Perang itu bukan cuma di garis depan. Perang itu juga di dapur, di apotek sederhana, di balik layar.

Tentu saja Belanda gerah. Mereka tidak suka perempuan cerdas dan militan. Apa yang terjadi? Rahmah ditangkap. Dijebloskan ke penjara. 7 Januari 1949.
Rahmah tahu betul risiko perjuangannya. Tapi dia jalan terus. All out.

Setelah merdeka, dia sempat jadi anggota DPR dari Masyumi. Tapi jiwa pejuangnya memanggil lagi. Ketika PRRI bergejolak, dia memilih ikut bergerilya. Keluar dari parlemen, masuk hutan. Membela idealismenya.

Pahlawan itu bukan soal pangkat. Bukan soal seberapa banyak monumennya. Tapi soal seberapa besar legacy-nya.

Rahmah El Yunusiyah meninggalkan Diniyah Putri. Sebuah institusi yang membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri sejajar, bahkan menginspirasi peradaban Islam dunia.

Dia mengubah mindset. Dia melawan arus. Dia tidak cuma menunggu. Dia menciptakan.

Gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Prabowo hari ini, 10 November 2025, memang sudah sepantasnya. Gelar itu menegaskan: Perempuan Minang ini, yang bikin Mesir pun kagum, adalah salah satu tiang bangsa kita.

Rahmah adalah pelajaran penting bagi perempuan masa kini. Bahwa revolusi sejati dimulai dari pendidikan. Dimulai dari dapur, dari surau, dan dari seorang perempuan yang berani bilang: “Saya tidak puas. Saya akan bikin yang lebih baik.(*)

Terkait: MinangPahlawanRahmah El Yunusiah

TerkaitBerita

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
27 Februari 2026

...

Ramadan 1447H

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pemkot Parepare Lepas 1.000 Paket Sembako Pasar Murah Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
3 Maret 2026

Brimob Parepare Ajak 200 Anak Yatim Buka Puasa Bersama dan Doa untuk Negeri

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

BeritaTerkini

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

Wali Kota Parepare dan Kapolres Jajal Lapangan Padel Royal Metro Sky

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Resmikan Masjid Anas Bin Malik dan SIT An Naas, Tasming Hamid Ajak Masyarakat Makmurkan Masjid

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Lelaki Berbadik di Pinrang Nyaris Bentrok, Aksi Heroik Danpos Watang Sawitto Tuai Pujian

Lelaki Berbadik di Pinrang Nyaris Bentrok, Aksi Heroik Danpos Watang Sawitto Tuai Pujian

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
7 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan