• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, 11 April, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Rahmah El Yunusiyah: Perempuan Minang yang Bikin Mesir Kagum

Oleh : Muhammad Haramain

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
11 November 2025
di Opini

RAHMAH. Tiga suku kata yang sederhana, tapi di dalamnya tersimpan energi yang luar biasa.

Baru saja. Tepat 10 November 2025. Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya. Rahmah El Yunusiyah.

Jujur, saya baru tahu detailnya belakangan. Dan langsung kaget. Bukan kaget karena baru, tapi kaget karena kenapa baru sekarang?

Namanya memang sudah masyhur di Padang Panjang. Tentu saja. Dia pendiri Diniyah Putri. Sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia. Didirikan tahun 1923.

Tahun 1923! Indonesia belum merdeka. Kartini sudah tiada. Tapi di tengah kebekuan itu, Rahmah sudah berani bikin terobosan yang nyeleneh.

Berita Terkait

Rahmah El Yunusiyah: Perempuan Minang yang Bikin Mesir Kagum

Pahlawan Zaman Now: Kepahlawanan sebagai Tindakan Bermakna di Era Digital

Prabowo Wacanakan Penjara Khusus Bagi Koruptor di Pulau Terpencil

Dikritik Kabinet Merah Putih Gemuk, Prabowo: Diisi Banyak Orang Hebat

Bayangkan. Perempuan di Minangkabau awal abad ke-20. Itu zaman yang super konservatif. Perempuan biasanya hanya mengaji di surau, diajari yang itu-itu saja.

Tapi Rahmah nekat. Dia tidak puas dengan sistem koedukasi yang campur laki-laki dan perempuan. Ia bilang, perempuan butuh ilmunya sendiri. Ilmu praktis, agama mendalam.

Dia datangi ulama-ulama Minangkabau. Minta diajari agama secara privat. Sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan perempuan saat itu. Ini mindset disruption namanya. Jauh sebelum istilah disruption itu populer.
Dia tidak mau cuma jadi pelengkap.

Lalu lahirlah Diniyah Putri. Sekolah yang fokus mencetak pemimpin perempuan. Bukan cuma pintar mengaji, tapi juga tahu cara mengurus rumah tangga, mengelola hidup, bahkan berpolitik.

Pikirannya melompat jauh ke depan. Sampai melompati batas negara.
Tahun 1955. Imam Besar Al-Azhar dari Mesir datang ke Diniyah Putri. Abdurrahman Taj namanya. Dia penasaran. Ada apa di Padang Panjang ini?

Setelah melihat langsung, dia terkesima. Kagum sekali. Sampai-sampai, Al-Azhar yang segede itu, yang sudah ratusan tahun, akhirnya terinspirasi. Mereka kemudian membuka Kulliyatul Banat. Fakultas khusus untuk perempuan.
Hanya karena terinspirasi Diniyah Putri yang kecil di Padang Panjang itu.

Dua tahun kemudian, giliran Rahmah yang ke Kairo. Kunjungan balasan. Di sana, Al-Azhar memberinya gelar kehormatan: Syekhah.

Belum pernah ada perempuan yang dapat gelar itu sebelumnya! Seorang perempuan dari Padang Panjang, Sumatera, mendapat gelar tertinggi dari Universitas Islam paling tua dan paling bergengsi di dunia.
Ini bukan main-main. Ini pengakuan kelas dunia.

Tapi Rahmah bukan hanya guru. Dia pejuang yang nyata.
Saat revolusi, dia tidak pegang senapan. Tidak naik tank. Dia kerahkan muridnya untuk tugas yang tak kalah penting: Logistik.

Penyedia perbekalan. Makanan, obat-obatan, sampai membantu pengadaan senjata untuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dia memastikan perut tentara kenyang, luka-luka diobati. Itu sama pentingnya dengan peluru.

Perang itu bukan cuma di garis depan. Perang itu juga di dapur, di apotek sederhana, di balik layar.

Tentu saja Belanda gerah. Mereka tidak suka perempuan cerdas dan militan. Apa yang terjadi? Rahmah ditangkap. Dijebloskan ke penjara. 7 Januari 1949.
Rahmah tahu betul risiko perjuangannya. Tapi dia jalan terus. All out.

Setelah merdeka, dia sempat jadi anggota DPR dari Masyumi. Tapi jiwa pejuangnya memanggil lagi. Ketika PRRI bergejolak, dia memilih ikut bergerilya. Keluar dari parlemen, masuk hutan. Membela idealismenya.

Pahlawan itu bukan soal pangkat. Bukan soal seberapa banyak monumennya. Tapi soal seberapa besar legacy-nya.

Rahmah El Yunusiyah meninggalkan Diniyah Putri. Sebuah institusi yang membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri sejajar, bahkan menginspirasi peradaban Islam dunia.

Dia mengubah mindset. Dia melawan arus. Dia tidak cuma menunggu. Dia menciptakan.

Gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Prabowo hari ini, 10 November 2025, memang sudah sepantasnya. Gelar itu menegaskan: Perempuan Minang ini, yang bikin Mesir pun kagum, adalah salah satu tiang bangsa kita.

Rahmah adalah pelajaran penting bagi perempuan masa kini. Bahwa revolusi sejati dimulai dari pendidikan. Dimulai dari dapur, dari surau, dan dari seorang perempuan yang berani bilang: “Saya tidak puas. Saya akan bikin yang lebih baik.”

Hebat. (*)

Terkait: PahlawanPrabowo Subianto

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Harga Plastik Melonjak 50 Persen, Keuntungan Pedagang Minuman di Pinrang Menipis

Editor: Muhammad Tohir
10 April 2026

Punya Bakat Dangdut? Catat Syarat dan Jadwal Audisi Dangdut Academy Indosiar di Sidrap

Editor: Muhammad Tohir
10 April 2026

Perketat Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah, Pemkab Sidrap Bakal Bentuk Tim

Editor: Muhammad Tohir
10 April 2026

Polres Parepare Sosialisasikan Call Center 110 ke Rumah Warga

Editor: Muhammad Tohir
8 April 2026

162 Siswa SMPN 9 Parepare Ikuti TKA, Sekolah Pastikan Mental dan Teknis Siap

Editor: Muhammad Tohir
8 April 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan