• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, 9 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Refleksi 1 Muharram 1447 H : Belajar dari Hijrah: Membumikan Nilai Kesabaran, Strategi, dan Optimisme Dalam Kehidupan

Oleh: Dr. H. Muhammad saleh, M.Ag. (Dosen IAIN Parepare, Wakil Ketua DPW BKPRMI SUL-SEL, Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Parepare)

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
27 Juni 2025
di Opini
OPINI : Piala Dunia, Islam, Maroko, Ibu

Oleh : HM Saleh (Dosen IAIN Parepare)

OPINI: Tiap kali bulan Muharram tiba, kita diingatkan pada satu peristiwa besar yang menjadi tonggak perubahan dalam sejarah Islam, yaitu peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah ke Madinah. Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi pelajaran hidup yang relevan sampai hari ini.

Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah SAW memulai dakwah Islam di Kota Makkah dengan penuh tantangan. Selama lebih dari sepuluh tahun, beliau bersama para sahabat menghadapi tekanan, hinaan, hingga siksaan dari kaum Quraisy. Namun, Rasulullah SAW tidak pernah menyerah. Ketika situasi semakin sulit dan ancaman keselamatan semakin nyata, Allah SWT memberikan jalan keluar melalui hijrah ke Madinah.
Hijrah ini bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain.

Lebih dari itu, hijrah adalah perpindahan menuju kondisi yang lebih baik. Dari situasi penuh penindasan menuju suasana yang lebih aman untuk menegakkan nilai-nilai keadilan, persatuan, dan kemajuan umat. Di Madinah, Rasulullah SAW membangun peradaban yang bukan hanya kuat secara spiritual, tetapi juga kokoh dalam aspek sosial, politik, dan ekonomi. Dari peristiwa besar itulah, tahun hijriyah ditetapkan.

Menariknya, tahun hijriyah baru disahkan sekitar 17 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Saat itu, umat Islam sudah semakin luas wilayahnya, administrasi pemerintahan makin kompleks, sehingga perlu penanggalan resmi untuk mengatur urusan umat. Setelah berdiskusi dengan para sahabat, Umar bin Khattab menetapkan peristiwa hijrah Nabi SAW sebagai patokan penanggalan Islam. Ini menunjukkan bahwa hijrah memiliki makna yang sangat besar, bukan hanya perpindahan geografis, tetapi simbol perubahan, perjuangan, dan pembangunan peradaban.

Berita Terkait

Sinergi Pemkot–BKPRMI Parepare Meriahkan 1 Muharram 1447 H

ICMI Parepare Gaungkan Muhasabah dan Ukhuwah di Pawai 1 Muharram

Memaknai Hijrah di Era Digital: Tantangan bagi Umat Islam

Rayakan Tahun Baru Islam, BKPRMI Pinrang Pawai Ta’aruf, Tahun Ini Dinilai Paling Ramai

Lalu, apa makna hijrah yang bisa kita ambil untuk kehidupan hari ini, khususnya di era modern yang serba cepat dan penuh tantangan? Di sinilah pentingnya kita membumikan nilai-nilai hijrah dalam kehidupan sehari-hari, terutama tiga hal utama: kesabaran, strategi, dan optimisme.

Pertama, Kesabaran sebagai Pondasi Utama

Kisah hijrah tidak mungkin terjadi tanpa kesabaran luar biasa dari Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka bersabar atas hinaan, boikot ekonomi, hingga ancaman nyawa. Bahkan sebelum hijrah, banyak sahabat yang sudah lebih dulu hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia) untuk mencari perlindungan. Semua itu membutuhkan kesabaran hati dan keteguhan iman.

Dalam konteks hari ini, masyarakat Indonesia juga sedang menghadapi banyak ujian, mulai dari krisis ekonomi global, dampak pandemi, hingga tantangan sosial seperti perpecahan dan intoleransi. Kesabaran bukan berarti diam atau pasrah, melainkan tetap teguh dalam prinsip sambil terus berusaha mencari solusi.
Bukan hal mudah, tapi jika kita memiliki kesabaran kolektif, saling mendukung antarwarga, berkomunikasi baik dengan pemerintah, serta bersikap dewasa menghadapi perbedaan, maka Parepare akan terus melangkah ke arah yang lebih baik. Ingat, Rasulullah SAW bersabda: “Dan ketahuilah, bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, jalan keluar itu bersama kesulitan, dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (HR. Tirmidzi, no. 2516, Hasan Sahih) Jadi, mari kita rawat kesabaran, tetap berusaha, dan terus optimis. Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW akhirnya membawa kemenangan besar.

Kedua, Strategi yang Matang untuk Menghadapi Tantangan

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari tindakan spontan tanpa perencanaan. Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu mengedepankan strategi cerdas dalam setiap langkah dakwahnya. Saat beliau memutuskan untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah, proses itu bukan semata-mata karena desakan situasi, melainkan hasil perhitungan matang yang melibatkan aspek keselamatan, dukungan politik, dan jaminan keberlangsungan misi dakwah Islam.

Rasulullah SAW bersama sahabat terdekatnya, Abu Bakar As-Shiddiq RA, menyusun strategi perjalanan yang tidak biasa. Mereka memilih jalur yang jarang dilalui, bersembunyi di Gua Tsur selama beberapa hari untuk mengelabui musuh, dan bahkan menggunakan jasa seorang pemandu jalan non-Muslim yang terpercaya. Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW juga telah melakukan diplomasi jauh hari, membangun komunikasi dengan suku-suku Aus dan Khazraj, yang kemudian bersepakat dalam Bai’at Aqabah untuk menjamin keselamatan beliau dan para sahabat.

Semua itu adalah contoh nyata bahwa keberhasilan besar tidak cukup hanya dengan semangat atau niat baik, tetapi harus dibarengi dengan strategi yang matang dan perhitungan yang realistis. Masyarakat Parepare juga bisa belajar dari strategi hijrah Rasulullah SAW dalam skala yang lebih kecil, seperti dalam mengelola usaha, keluarga, maupun aktivitas sosial. Tidak cukup hanya berdoa dan berharap, tetapi harus ada analisis situasi, perencanaan yang tepat, serta evaluasi berkelanjutan. Ini adalah wujud ikhtiar yang rasional sebagaimana diajarkan dalam Islam. Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk berikhtiar dengan penuh perhitungan: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal: 60) Jika strategi Rasulullah SAW dalam hijrah mampu mengubah wajah dunia Islam, maka strategi bersama kita di Parepare juga mampu mengubah wajah kota ini menjadi lebih baik di masa depan

Ketiga, Optimisme sebagai Kunci Masa Depan

Di tengah gelapnya situasi Makkah saat itu, Rasulullah SAW tetap memelihara keyakinan bahwa masa depan Islam akan cerah. Padahal, kondisi umat Islam ketika itu begitu memprihatinkan—terpinggirkan, dihina, bahkan nyawa mereka terancam. Namun, Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan rasa putus asa menguasai dirinya. Justru di saat yang paling sulit itulah beliau menanamkan optimisme kepada para sahabat.

Salah satu contoh nyata optimisme Rasulullah SAW adalah ketika beliau bersembunyi bersama Abu Bakar As-Shiddiq di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah. Saat pasukan Quraisy nyaris menemukan mereka, Abu Bakar merasa cemas, tetapi Rasulullah SAW dengan tenang berkata: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40). Ucapan ini bukan sekadar menenangkan hati, tetapi menunjukkan optimisme tingkat tinggi bahwa pertolongan Allah selalu hadir di saat kita berusaha dan bertawakal.
Bahkan, jauh sebelum hijrah, Rasulullah SAW sudah memberi kabar gembira kepada sahabat-sahabatnya bahwa Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia, walau saat itu jumlah umat Islam bisa dihitung dengan jari. Benar saja, peristiwa hijrah menjadi awal kejayaan Islam yang kemudian meluas dari Madinah ke seluruh Jazirah Arab, bahkan hingga ke Asia, Afrika, dan Eropa.

Dalam kehidupan kita hari ini, semangat optimisme itu masih sangat relevan. Terutama di tengah situasi yang penuh tantangan seperti saat ini. Banyak masyarakat yang pesimis karena menghadapi tekanan ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, atau kesulitan dalam kehidupan rumah tangga. Di Parepare pun, sebagaimana kota-kota lainnya, kita dihadapkan pada berbagai ujian sosial dan ekonomi.
Belajar dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW, kita tidak boleh larut dalam keputusasaan. Optimisme adalah bahan bakar yang mendorong kita terus melangkah, meskipun jalan terasa berat. Optimisme itu pula yang menjadi kunci kesuksesan Parepare sebagai kota yang terus berkembang. Tentu saja, optimisme yang diajarkan Islam bukan sekadar mimpi tanpa usaha. Optimisme harus berjalan seiring dengan ikhtiar nyata.

Rasulullah SAW sendiri selalu menggabungkan optimisme dengan strategi cerdas dan perencanaan matang. Inilah yang harus kita teladani.
Allah SWT berfirman: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. Al-Insyirah: 5-6). Ayat ini menegaskan bahwa kesulitan yang kita hadapi bukan akhir segalanya, melainkan awal dari kemudahan yang akan datang, asalkan kita tetap sabar, berusaha, dan optimis. Mari kita jaga optimisme dalam hati dan pikiran. Jangan biarkan tantangan membuat kita berhenti bermimpi. Dengan semangat hijrah, kesabaran yang kuat, strategi yang matang, dan optimisme yang kokoh, Parepare akan terus melangkah menjadi kota yang kita banggakan.

Keempat, Hijrah di Zaman Sekarang: Bukan Sekadar Perpindahan

Saat ini kita tidak lagi dihadapkan pada situasi hijrah fisik seperti yang dialami Rasulullah SAW bersama para sahabat, yaitu berpindah dari Makkah ke Madinah karena tekanan dan ancaman terhadap keselamatan jiwa dan keyakinan. Namun, makna hijrah dalam konteks spiritual, moral, sosial, dan peradaban tetap sangat relevan, bahkan semakin penting di era modern ini, khususnya di tengah tantangan global dan derasnya arus informasi digital.

Hijrah di zaman sekarang adalah proses perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Rasulullah SAW sendiri telah mengingatkan bahwa inti dari hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah SWT. Dalam sebuah hadis beliau bersabda: “Seorang Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, hijrah harus dimaknai sebagai transformasi diri secara menyeluruh, mulai dari pola pikir, perilaku, hingga kontribusi sosial.

1. Hijrah Pribadi: Dari Malas ke Semangat Belajar
Di era serba cepat ini, siapa yang lambat belajar akan tertinggal. Sayangnya, tidak sedikit di antara kita yang masih terjebak dalam zona nyaman, malas untuk meningkatkan kapasitas diri. Padahal, perubahan zaman menuntut kita untuk terus belajar, mengasah keterampilan, dan memperluas wawasan. Hijrah dari malas menuju semangat belajar adalah langkah konkret yang dapat kita lakukan. Terlebih di Parepare, sebagai kota yang memiliki semangat Terbaik, Sejahtera, dan Maju, peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah kunci utama untuk mengejar ketertinggalan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

2. Hijrah Finansial: Dari Boros ke Budaya Hemat
Hijrah juga harus menyentuh aspek keuangan. Banyak orang terjebak dalam gaya hidup konsumtif, menghamburkan pendapatan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, sehingga ketika ada kebutuhan mendesak atau peluang investasi, mereka tidak siap. perlu Gerakan untuk mendorong budaya hijrah ke arah keuangan yang lebih sehat. Masyarakat diajak untuk lebih bijak mengatur pengeluaran, memperbanyak tabungan, dan mulai membangun usaha produktif. Inilah bagian dari hijrah menuju kesejahteraan yang sesungguhnya.

3. Hijrah Sosial: Dari Intoleransi ke Saling Menghargai
Tantangan lain di masyarakat modern adalah meningkatnya intoleransi, baik karena perbedaan agama, suku, maupun pandangan politik. Konflik dan perpecahan kerap kali dipicu oleh kurangnya sikap saling memahami. Hijrah sosial berarti berpindah dari perilaku mudah menyalahkan, mudah tersulut emosi, ke budaya dialog, saling menghormati, dan membangun solidaritas antarwarga. Spirit hijrah Rasulullah SAW yang mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah harus menjadi inspirasi dalam merawat harmoni sosial di Parepare.

4. Hijrah Kebangsaan: Dari Perpecahan ke Persatuan
Indonesia sebagai negara besar dengan segala keragamannya tidak luput dari potensi perpecahan. Dalam skala lokal Parepare, kita pun tidak boleh lengah terhadap potensi konflik sosial akibat perbedaan pilihan politik, ekonomi, atau kepentingan lainnya. Hijrah yang hakiki adalah bergerak meninggalkan perpecahan menuju persatuan, meninggalkan prasangka menuju kepercayaan, meninggalkan ego sektoral menuju kerja sama. Dengan cara ini, Parepare dapat menjadi kota yang semakin kuat, solid, dan siap menghadapi masa depan.

5. Hijrah Digital: Bijak di Era Teknologi
Tantangan besar lain di era sekarang adalah arus informasi digital yang deras, bahkan seringkali liar. Banyak orang terjebak dalam penyebaran hoaks, ujaran kebencian, konten negatif, dan kecanduan media sosial tanpa arah. Inilah saatnya kita berhijrah secara digital, yaitu berpindah dari penggunaan teknologi yang merusak ke pemanfaatan teknologi yang membangun. Kita manfaatkan media sosial untuk dakwah, edukasi, promosi UMKM, dan menyebarkan semangat positif di tengah masyarakat Parepare.

Kelima, Menjadikan Tahun Baru Islam Sebagai Titik Evaluasi

1 Muharram bukan sekadar seremoni tahunan atau peringatan kosong. Tahun Baru Islam adalah momen penting untuk mengevaluasi diri. Apa saja kekurangan kita di tahun lalu? Sudah sejauh mana kita memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas ibadah, dan berkontribusi untuk masyarakat? Layaknya Rasulullah SAW yang berhijrah untuk kebaikan umat, kita pun harus berhijrah dalam skala pribadi dan sosial.

Tahun Baru Islam seharusnya menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan, usia kita semakin berkurang, dan kesempatan memperbaiki diri semakin sempit. Tidak jarang kita terlalu sibuk dengan rutinitas dunia, hingga melupakan bahwa hidup ini adalah perjalanan singkat menuju akhirat.
Oleh sebab itu, 1 Muharram dapat kita jadikan sebagai alarm spiritual untuk bangun dari kelalaian, mengevaluasi kekurangan diri, dan berkomitmen memperbaiki kualitas hidup dalam bingkai keimanan.

Momentum ini juga tepat untuk mendorong evaluasi bersama dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Di lingkungan rumah tangga, apakah kita sudah membangun komunikasi yang baik, mendidik anak-anak dengan nilai-nilai Islam, dan menciptakan suasana saling menghormati? Di lingkungan sosial, apakah kita sudah aktif berkontribusi, menjaga ukhuwah Islamiyah, dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat? Evaluasi ini bukan untuk saling menyalahkan, tetapi sebagai langkah introspeksi agar kita semua terus tumbuh menjadi pribadi dan masyarakat yang lebih baik.

Secara khusus bagi warga Parepare, Tahun Baru Islam dapat menjadi titik balik untuk bersama-sama memperkuat komitmen mewujudkan Parepare yang Terbaik, Sejahtera, dan Maju.Peningkatan pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, hingga perbaikan etika sosial harus menjadi agenda kolektif kita.

Semangat hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil, konsisten, dan berkesinambungan. Maka, mari jadikan 1 Muharram ini sebagai titik awal hijrah diri, hijrah keluarga, hijrah masyarakat, dan hijrah kota menuju kebaikan yang lebih luas.

Akhirnya, mari kita jadikan momen 1 Muharram dan Tahun Baru Islam 1447 H ini sebagai langkah awal untuk membumikan nilai-nilai hijrah dalam kehidupan kita. Dengan kesabaran, strategi yang matang, dan optimisme yang kuat, insyaAllah kita mampu melewati setiap tantangan zaman dan berkontribusi membangun masyarakat yang lebih baik.

Momen Tahun Baru Islam bukan hanya sekadar pergantian kalender, tetapi menjadi panggilan bagi kita semua, khususnya warga Parepare, untuk terus berbenah dan berhijrah ke arah yang lebih baik. Mari kita jadikan semangat hijrah sebagai inspirasi untuk membangun diri, keluarga, dan kota yang kita cintai ini.

Hijrah bukan hanya meninggalkan yang buruk, tetapi juga melangkah menuju masa depan yang lebih cerah. Dengan semangat kebersamaan, mari kita satukan tekad untuk menjadikan Parepare sebagai kota yang benar-benar Terbaik, Sejahtera, dan Maju. Terbaik dalam pelayanan dan akhlak masyarakatnya, Sejahtera dalam kehidupan sosial dan ekonomi, serta Maju dalam pendidikan, teknologi, dan pembangunan.

Hijrah adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran, strategi, dan optimisme. Demikian pula Parepare, kota pelabuhan yang menjadi pintu gerbang pertumbuhan di Sulawesi Selatan ini, membutuhkan kontribusi nyata dari setiap warganya agar semakin dikenal sebagai kota yang religius, damai, inovatif, dan sejahtera. Mari mulai dari diri sendiri, berhijrah dari pesimisme menuju semangat membangun, dari perpecahan menuju persatuan, dari budaya malas menuju etos kerja tinggi. Dengan begitu, insyaAllah Parepare akan terus tumbuh menjadi kota yang kita banggakan bersama: Terbaik dalam prestasi, Sejahtera bagi seluruh warganya, dan Maju menghadapi tantangan zaman.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriyah, semoga langkah hijrah kita membawa kebaikan, keberkahan, dan kemajuan bagi Parepare yang kita cintai.

Semoga ada manfaat

Terkait: 1 Muharram

TerkaitBerita

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
27 Februari 2026

...

Ramadan 1447H

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pemkot Parepare Lepas 1.000 Paket Sembako Pasar Murah Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
3 Maret 2026

BeritaTerkini

Pemkab Sidrap Dukung Pemerintah Pusat Kendalikan Inflasi Jelang Idulfitri

Editor: Muhammad Tohir
9 Maret 2026

Komisi IX DPR RI Gandeng ICMI Muda Sulsel Sosialisasi  Program MBG di Makassar

Komisi IX DPR RI Gandeng ICMI Muda Sulsel Sosialisasi Program MBG di Makassar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Tech & Social Summit 2026: Ruang Belajar Digital Skill dan Refleksi Etika Teknologi di Bulan Ramadan

Tech & Social Summit 2026: Ruang Belajar Digital Skill dan Refleksi Etika Teknologi di Bulan Ramadan

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Wali Kota Parepare Tasming Hamid Terima Andalusia Award pada Milad ke-9 SIT Andalusia

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan