Oleh: Nur Ilham
(Ketua Umum PC IPM Pao Tambolo 2021-2023)
Sebagai seorang mahasiswa yang juga tumbuh dengan narasi-narasi fiksi seperti One Piece, Naruto, hingga Attack on Titan, kita tidak melihat budaya populer sebagai hiburan kosong. Sebaliknya, kita melihatnya sebagai ruang alternatif untuk belajar tentang nilai-nilai universal: keadilan, kesetiaan, keberanian, dan kemerdekaan.
Maka ketika polemik soal pengibaran bendera bajak laut One Piece muncul dan memicu kemarahan publik, kita tidak serta merta memihak siapa pun. Kita harus memilih berdiri di tengah merefleksi, bukan menghakimi.
Simbol dalam Ketegangan Konteks
Kita sepakat bahwa simbol negara bukan benda biasa. Ia lahir dari sejarah, perjuangan, dan pengorbanan kolektif. Namun di saat yang sama, kita juga memahami bahwa simbol-simbol fiksi yang dicintai generasi muda hari ini seperti bendera Topi Jerami bukan sekadar kain bergambar tengkorak, melainkan lambang dari nilai-nilai kebebasan dan keberanian menghadapi ketidakadilan.
Apakah mengibarkannya dalam ruang publik bertepatan dengan momen nasional itu keliru? Bisa jadi, iya. Tapi apakah reaksi publik dan negara yang terlalu reaktif juga tidak layak dikritisi? Tentu saja, layak.
Imajinasi Generasi, Bukan Ancaman Ideologi
Sebagai aktivis akademika, kita harus percaya bahwa generasi ini sedang membentuk cara baru dalam mengekspresikan nasionalisme bukan menolaknya, tapi menafsirkannya ulang. Dan itu wajar. Negara yang demokratis seharusnya tidak panik menghadapi perbedaan bentuk ekspresi, apalagi yang lahir dari kegelisahan dan imajinasi, bukan dari kebencian.
Budaya populer bukan musuh ideologi negara. Justru dalam cerita-cerita seperti One Piece, kita diajarkan bahwa sistem yang tidak adil harus dilawan, kekuasaan yang menyimpang harus dikritik, dan solidaritas harus dipegang teguh. Bukankah itu juga pesan dari para pendiri republik ini?
Netral Bukan Apatis, Reflektif Bukan Reaktif
Kita tidak sedang membela tindakan individu. Tapi kita juga tidak ingin larut dalam amarah massal yang sering kali tidak berpijak pada pemahaman. Sebagai mahasiswa, tugas kita bukan hanya menyuarakan, tapi juga membaca zaman secara jernih.
Dalam polemik ini, kita harusnya melihat bahwa negara kita masih terlalu sensitif terhadap simbol, tapi seringkali tidak cukup peka terhadap substansi. Kita mudah marah pada bendera bergambar fiksi, tapi abai ketika harga pendidikan naik, ruang sipil dipersempit, atau suara rakyat kecil dipinggirkan.
Nasionalisme Tidak Harus Seragam
Mencintai One Piece tidak menjadikan kami kurang cinta Indonesia. Justru karena kami cinta Indonesia, kami belajar untuk berpikir bebas, menilai adil, dan merawat imajinasi. Karena bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh patriotisme formal, tapi juga oleh generasi yang berani bertanya, “Mengapa kita harus diam?”
Bendera Topi Jerami bukan tanda perlawanan terhadap republik, tapi mungkin adalah sinyal dari generasi yang ingin didengar dengan caranya sendiri.
“Di negeri yang terlalu sibuk menjaga simbol, kadang suara anak muda dianggap angin lalu. Tapi sejarah membuktikan: dari suara-suara kecil itulah perubahan besar sering lahir.”
Selamat merayakan hari Kemerdekaan INDONESIA
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2025
