• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 18 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

S. Purwanda: Asketisme Menulis, Pameran Buku, dan Hari Pendidikan

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
1 Mei 2019
di Esai

ESAI,- “What’s the best thing about being a writer?” “If you are the writer, you control the universe that you write about.”

Seperti itulah respon Hugh R. Williams menanggapi pertanyaan mengenai “hal terbaik” menjadi seorang penulis. Bagi Williams, menulis buku adalah keinginan, dan yang sukses sebagai penulis adalah orang yang menulis kemudian menerbitkannya tanpa memedulikan laku atau tidak tulisan itu di pasaran. Inilah standar sukses penulis bagi Williams.

Muhidin M. Dahlan menggolongkan laku Williams sebagai seorang asketis dalam dunia kepenulisan. Seorang penulis yang asketis, lebih mengedepankan pengabdian diri yang total terhadap apa yang ia ingin tuliskan, lepas dari apakah karya itu nantinya best seller atau tidak. Bagi Muhidin, seorang asketis tugasnya hanya menulis dan menulis; melanjutkan ingatan peradaban.

Contoh paling dekat, sejauh yang saya ketahui (lihat langsung), segolongan dengan Hugh R. Williams di daerah sekitar saya bermukim, adalah Badaruddin Amir. Pak Badar (sapaan Badaruddin Amir) merupakan seorang guru cum sastrawan penulis buku paling banter se-Ajatappareng (tolong dikoreksi kalau ini keliru!). Tidak tanggung-tanggung, tulisannya yang dimuat dalam buku antologi telah terbit tidak kurang dari 40 karya, baik puisi, cerpen dan esai. Observasi saya ini, merujuk pada pemuatan biografi beliau di sela-sela kegiatan Book Fair and Open Literacy 2019.

Asketisme menulis tidak mengindahkan keuntungan (sisi finansial) dari sebuah karya yang terbit. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, buku itu laku atau tidak bukan persoalan. Badaruddin Amir pernah menegaskan, sulitnya mengedarkan hasil karya yang telah menjadi buku ke hadapan pembaca. Bahkan, disiasati pun hasilnya sama saja, lebih banyak buntungnya. Hal yang sama terhadap karya terakhirnya, Risalah. Tapi peduli setan, menulis saja lalu cetak.

Berita Terkait

Momentum Hardiknas, Wali Kota Munafri Tekankan Pentingnya Kualitas Pendidikan Berbasis AI

OPINI : Akselerasi Transformasi Peran Guru di Masa Pandemi Covid-19

S. Purwanda: Setelah Soeharto Lengser (Orasi Peringatan 83 Tahun Kelahiran Habibie)

S. Purwanda: Tingkat Melek Baca

Salah satu bentuk penghargaan bagi orang-orang asketis dalam dunia kepenulisan adalah dengan memamerkan hasil karya-karyanya. Kegiatan yang bertajuk Book Fair and Open Literacy 2019 yang baru saja berakhir beberapa hari lalu di alun-alun Colliq Pujie-Barru, merupakan bentuk penghargaan bagi seorang asketis seperti Pak Badar. Andai saja kegiatan tersebut tidak dilangsungkan, bisa jadi kita hanya mengenal Pak Badar sebatas guru dengan gaji pensiun yang tidak seberapa.

Pameran buku yang diberi baju “merek asing” Book Fair and Open Literacy 2019 merupakan rangkaian ekshibisi peringatan hari pendidikan yang jatuh pada 2 Mei. Kegiatan yang diprakarsai oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Barru ini cukup mengesankan, sebab ditata dengan padu. Semisal menyelenggarakan olah karya dan raga dengan cukup padat, berimbang, dan kompak. Seni dan olahraga ditampilkan begitu semarak, memancing para pengunjung untuk ikut meramaikan.

Pameran buku yang diadakan di Barru tergolong cukup berani. Sebab buku ditampilkan sebagai pesona bagi pengunjung yang datang di lokasi pameran. Buku memiliki daya pikat, itu yang saya amati selama tujuh jam melapak di stan yang disediakan oleh panitia.

Awalnya saya ragu, apakah ada yang datang melihat buku-buku yang digelar di atas karpet yang kami bawa dari Parepare? Keraguan saya terjawab, pada saat silih bergantinya pengunjung yang datang ke stan, walaupun hanya sekadar bertanya harga dan membuka beberapa halaman buku yang tidak tersegel. Saya juga mengamati sekeliling, pengunjung juga cukup ramai di beberapa stan sekolah menengah pertama.

Hari pendidikan diperingati dengan cara yang lain di Barru, daerah sekitar melakukan apa?

Buku adalah pesona, penarik para pembaca. Pameran tidak lagi sekadar pajang hasil kerja atau fungsi dan tugas lembaga, lebih dari itu, kualitas pameran mesti ditingkatkan; bukan kuantitas penghargaan yang hanya sekadar gagah-gagahan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional
Tetap Asketis, Pak Badar!

Penulis:

S. Purwanda

Terkait: AsketismeHari Pendidikan NasionalS. Purwanda

TerkaitBerita

ESAI: Komunikasi Digital sebagai Pembawa Harapan bagi Generasi Z

ESAI: Komunikasi Digital sebagai Pembawa Harapan bagi Generasi Z

Editor: Tim Redaksi
9 Juli 2024

...

ESAI: Balla Barakka Polrestabes Makassar (Dari Makassar Mengedukasi Generasi Muda Indonesia)

ESAI: Balla Barakka Polrestabes Makassar (Dari Makassar Mengedukasi Generasi Muda Indonesia)

Editor: Tim Redaksi
30 Juni 2024

...

Menggambar dan Mewarnai Hijaiyah untuk Mengasah Perkembangan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun

Menggambar dan Mewarnai Hijaiyah untuk Mengasah Perkembangan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun

Editor: Amrihani
1 September 2023

...

Kisah Perjuangan Kader HMI Nunukan Hingga Lulus LK II Nasional

Kisah Perjuangan Kader HMI Nunukan Hingga Lulus LK II Nasional

Editor: Muhammad Tohir
20 Maret 2023

...

Ramadan 1447H

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Momen Ramadan, PSI Parepare Tebar Ratusan Takjil

Editor: Muhammad Tohir
17 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

BeritaTerkini

Aliran Sungai Pekkabata–Lampa Tersumbat Sampah

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

KAHMI Parepare Bukber, Berbagi hingga Diskusi

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

Safari Ramadan Hari ke-27, Tasming Hamid Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

Dugaan Pungli-Sajam di Pasar Pekkabata Pinrang, Pengelola Buka Suara

Dugaan Pungli-Sajam di Pasar Pekkabata Pinrang, Pengelola Buka Suara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan