• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 1 Juli, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

S. Purwanda: Tingkat Melek Baca

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
25 Mei 2019
di Opini

ESAI,- Keadaan melek baca kontradiksi dengan buta aksara. Melek baca adalah suatu keadaan di mana orang mengenali simbol bunyi. Buta aksara tidak demikian. Melek baca berarti tahu huruf, kata, dan kalimat.

Riset menyimpulkan, tingkat melek baca kita tinggi, menyisakan 2% sekian orang, yang setidaknya masih membutuhkan bantuan orang lain untuk membaca sms (Kemendikbud, 2017).

Ini tentu suatu kemajuan, cita-cita lama Soekarno yang maujud: “another greatest achievement is our succes in our campaign againts illiteracy”. Tentu kita juga patut berbangga, sebab penurunan angka buta aksara pernah diganjar sebuah penghargaan Avicenna Award dari UNESCO pada tahun 1994.

Namun, apakah kita betul-betul seorang yang melek baca? Dan, kalau kita melek baca, apakah kita betul-betul membaca? Serta, kalau kita membaca, apakah kita telah memfungsikannya dengan betul?

Menurut Ignas Kleden, ada tiga kategori orang melek baca (ed. Alfons Taryadi, 1999:8-9). Ketiga hal itu ialah: melek baca teknis, fungsional, dan kebudayaan.

Berita Terkait

Sang Vespa, Si Saksi Perjuangan

ESAI: Komunikasi Digital sebagai Pembawa Harapan bagi Generasi Z

IKN Sebagai Smart City dengan Konsep Forest City Apa Kaitannya untuk Indonesia Emas 2045?

Gubernur dan Pisang Bawa Siswi SMAN 8 Pinrang Ini Juara 1 Lomba Esai Diknas Provinsi

Pertama, melek baca teknis. Melek baca dalam keadaan ini ialah orang yang paham huruf, kata, dan kalimat. Tapi, hanya sekadar tahu baca saja. Mungkin, pengalaman sekolah telah mengajarinya bagaimana mengenali simbol bunyi, A-B-C dan seterusnya; Atau INI NINA, INI BAPAK NINA, dan seterusnya. Keadaan ini membuat mereka hanya sekadar tahu baca saja.

Apa yang menyebabkan mereka begini? Salah satunya adalah persebaran (distribusi) buku bacaan. Mereka mungkin ingin lebih jauh, bukan sekadar tahu baca saja, pun ingin membaca. Namun, akses buku bacaan yang tidak ada menjadikan mereka sekadar tahu baca saja.

Kedua, melek baca fungsional. Melek baca dalam keadaan ini masih lebih baik dari sebelumnya. Pada keadaan ini, orang-orang menggunakan kemampuan melek baca sebatas fungsi pekerjaan yang digeluti sehari-hari. Sebagai contoh misalnya, seorang Dosen yang membaca skripsi mahasiswanya. Setelah dibaca, diberi koreksi (baca: corat-coret). Dosen itu membaca, tetapi hanya berfungsi sebagai alat koreksi. Sebatas itu saja, menggugurkan tanggung jawab profesi sebagai pembimbing skripsi.

Terakhir, melek baca kebudayaan. Melek baca ini jauh lebih baik dari dua keadaan sebelumnya. Pada keadaan ini, melek baca adalah kewajiban dan membaca adalah kebutuhan. Keadaan ini terikat oleh variabel lain, yakni menulis. Tidak bisa tidak, saluran setelah membaca adalah menulis. Setelah itu, catatan mesti dikumpul, disebarluaskan. Seperti itulah proses kebudayaan bekerja; menyemai peradaban. Contoh paling dekat yang diberikan Kleden yakni sosok Soe Hok Gie. Seorang pembaca yang lahap, dan menuliskan apa saja yang ia rasakan di masanya.

Dari ketiga hal di atas, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa melek baca teknis merupakan tipe orang yang buta aksara secara fungsional dan kebudayaan. Melek baca fungsional merupakan tipe orang yang buta aksara secara kebudayaan tetapi melek baca teknis. Dan, melek baca kebudayaan adalah mereka yang terbebas dari buta aksara. Hal ini juga menandaskan, dalam melek baca masih terdapat buta aksara liyan, yakni: tidak membaca. Mestinya UNESCO tidak buru-buru memberikan penghargaan. Tapi kepalang, nasi sudah jadi teman saji mi goreng.

Dari ketiga kategori ini, yang pertama dan kedua banyak menghinggapi diri manusia Indonesia. Termasuk saya, yang suka mencorat-coret itu.

Penulis: S. Purwanda

Terkait: EsaiS. PurwandaTingkat Melek Baca

TerkaitBerita

Bertanya di Tengah Era Algoritma

Bertanya di Tengah Era Algoritma

Editor: Tim Redaksi
24 Juni 2026

...

Nasab Ba‘alawi

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

Editor: Tim Redaksi
15 Juni 2026

...

Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

Editor: Tim Redaksi
13 Juni 2026

...

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

...

Berita Terkini

Bupati Sidrap Bakar Semangat Mahasiswa KKN UMS Rappang: Jangan Takut Kuliah di Daerah!

Bupati Sidrap Bakar Semangat Mahasiswa KKN UMS Rappang: Jangan Takut Kuliah di Daerah!

Editor: Muhammad Tohir
29 Juni 2026

Sabet Penghargaan PBB, Walkot Parepare Dipanggil Khusus Menpan RB

Sabet Penghargaan PBB, Walkot Parepare Dipanggil Khusus Menpan RB

Editor: Muhammad Tohir
29 Juni 2026

Sah! Ini Daftar Pelajar Terbaik yang Terpilih Jadi Duta Baca Kota Makassar 2026

Sah! Ini Daftar Pelajar Terbaik yang Terpilih Jadi Duta Baca Kota Makassar 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
26 Juni 2026

Parepare Tembus Panggung Global, Berdaya Srikandi Raih Penghargaan PBB di UNPSF 2026

Parepare Tembus Panggung Global, Berdaya Srikandi Raih Penghargaan PBB di UNPSF 2026

Editor: Muhammad Tohir
26 Juni 2026

Perkuat Pengawasan Orang Asing, Imigrasi Parepare Gelar Rapat TIMPORA di Barru

Perkuat Pengawasan Orang Asing, Imigrasi Parepare Gelar Rapat TIMPORA di Barru

Editor: Muhammad Tohir
25 Juni 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan