• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, 23 April, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

S. Purwanda: Tingkat Melek Baca

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
25 Mei 2019
di Opini

ESAI,- Keadaan melek baca kontradiksi dengan buta aksara. Melek baca adalah suatu keadaan di mana orang mengenali simbol bunyi. Buta aksara tidak demikian. Melek baca berarti tahu huruf, kata, dan kalimat.

Riset menyimpulkan, tingkat melek baca kita tinggi, menyisakan 2% sekian orang, yang setidaknya masih membutuhkan bantuan orang lain untuk membaca sms (Kemendikbud, 2017).

Ini tentu suatu kemajuan, cita-cita lama Soekarno yang maujud: “another greatest achievement is our succes in our campaign againts illiteracy”. Tentu kita juga patut berbangga, sebab penurunan angka buta aksara pernah diganjar sebuah penghargaan Avicenna Award dari UNESCO pada tahun 1994.

Namun, apakah kita betul-betul seorang yang melek baca? Dan, kalau kita melek baca, apakah kita betul-betul membaca? Serta, kalau kita membaca, apakah kita telah memfungsikannya dengan betul?

Menurut Ignas Kleden, ada tiga kategori orang melek baca (ed. Alfons Taryadi, 1999:8-9). Ketiga hal itu ialah: melek baca teknis, fungsional, dan kebudayaan.

Berita Terkait

ESAI: Komunikasi Digital sebagai Pembawa Harapan bagi Generasi Z

IKN Sebagai Smart City dengan Konsep Forest City Apa Kaitannya untuk Indonesia Emas 2045?

Gubernur dan Pisang Bawa Siswi SMAN 8 Pinrang Ini Juara 1 Lomba Esai Diknas Provinsi

ESAI : Pesona Paputo Beach, Destinasi Wisata yang Indah

Pertama, melek baca teknis. Melek baca dalam keadaan ini ialah orang yang paham huruf, kata, dan kalimat. Tapi, hanya sekadar tahu baca saja. Mungkin, pengalaman sekolah telah mengajarinya bagaimana mengenali simbol bunyi, A-B-C dan seterusnya; Atau INI NINA, INI BAPAK NINA, dan seterusnya. Keadaan ini membuat mereka hanya sekadar tahu baca saja.

Apa yang menyebabkan mereka begini? Salah satunya adalah persebaran (distribusi) buku bacaan. Mereka mungkin ingin lebih jauh, bukan sekadar tahu baca saja, pun ingin membaca. Namun, akses buku bacaan yang tidak ada menjadikan mereka sekadar tahu baca saja.

Kedua, melek baca fungsional. Melek baca dalam keadaan ini masih lebih baik dari sebelumnya. Pada keadaan ini, orang-orang menggunakan kemampuan melek baca sebatas fungsi pekerjaan yang digeluti sehari-hari. Sebagai contoh misalnya, seorang Dosen yang membaca skripsi mahasiswanya. Setelah dibaca, diberi koreksi (baca: corat-coret). Dosen itu membaca, tetapi hanya berfungsi sebagai alat koreksi. Sebatas itu saja, menggugurkan tanggung jawab profesi sebagai pembimbing skripsi.

Terakhir, melek baca kebudayaan. Melek baca ini jauh lebih baik dari dua keadaan sebelumnya. Pada keadaan ini, melek baca adalah kewajiban dan membaca adalah kebutuhan. Keadaan ini terikat oleh variabel lain, yakni menulis. Tidak bisa tidak, saluran setelah membaca adalah menulis. Setelah itu, catatan mesti dikumpul, disebarluaskan. Seperti itulah proses kebudayaan bekerja; menyemai peradaban. Contoh paling dekat yang diberikan Kleden yakni sosok Soe Hok Gie. Seorang pembaca yang lahap, dan menuliskan apa saja yang ia rasakan di masanya.

Dari ketiga hal di atas, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa melek baca teknis merupakan tipe orang yang buta aksara secara fungsional dan kebudayaan. Melek baca fungsional merupakan tipe orang yang buta aksara secara kebudayaan tetapi melek baca teknis. Dan, melek baca kebudayaan adalah mereka yang terbebas dari buta aksara. Hal ini juga menandaskan, dalam melek baca masih terdapat buta aksara liyan, yakni: tidak membaca. Mestinya UNESCO tidak buru-buru memberikan penghargaan. Tapi kepalang, nasi sudah jadi teman saji mi goreng.

Dari ketiga kategori ini, yang pertama dan kedua banyak menghinggapi diri manusia Indonesia. Termasuk saya, yang suka mencorat-coret itu.

Penulis: S. Purwanda

Terkait: EsaiS. PurwandaTingkat Melek Baca

TerkaitBerita

Judol Menghilangkan Nyawa

Judol Menghilangkan Nyawa

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 April 2026

...

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
13 April 2026

...

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 April 2026

...

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Audisi Offline “D’Academy 8” Digelar di Sidrap, Selfi Yamma Juri, Andi Syaqirah DA7 Bintang Tamu

Audisi Offline “D’Academy 8” Digelar di Sidrap, Selfi Yamma Juri, Andi Syaqirah DA7 Bintang Tamu

Editor: Muhammad Tohir
23 April 2026

Pastikan Korban Tertangani, Tasming Hamid Temui Korban Kebakaran di Lumpue

Pastikan Korban Tertangani, Tasming Hamid Temui Korban Kebakaran di Lumpue

Editor: Muhammad Tohir
22 April 2026

Penandatanganan rekomendasi LKPJ TA 2025, Wali Kota Apresiasi Kinerja DPRD Parepare

Penandatanganan rekomendasi LKPJ TA 2025, Wali Kota Apresiasi Kinerja DPRD Parepare

Editor: Muhammad Tohir
22 April 2026

Dorong Literasi Akademik, Dosen Sumbangkan Karya Ilmiah ke Perpustakaan Kampus IAIN Parepare

Dorong Literasi Akademik, Dosen Sumbangkan Karya Ilmiah ke Perpustakaan Kampus IAIN Parepare

Editor: Muhammad Tohir
21 April 2026

PLN UP3 Pinrang Peringati Hari Kartini 2026, Tegaskan Komitmen Emansipasi

PLN UP3 Pinrang Peringati Hari Kartini 2026, Tegaskan Komitmen Emansipasi

Editor: Muhammad Tohir
21 April 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan