• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Topik Utama

Suka “Nyinyir” di Medsos Tanda Alami Gangguan Sosial

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
28 Juli 2019
di Topik Utama

Foto: Harfi Muthia Rahmi, M.Psi

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Bagi netizen alias warga internet yang aktif di jagad dunia maya, sudah tak asing lagi dengan platform media sosial (medsos) seperti Instagram, Facebook maupun Twitter.

Dalam kolom komentar saat netizen mengupload foto/gambar maupun tulisan, beragam komentar bermunculan. Mulai yang berkomentar bijaksana hingga yang menghakimi. Padahal, belum tentu si netizen kenal baik dengan si pengupload gambar tersebut.

BeritaTerkait

Masjid Al-Hijrah dan Rumah Tahfidz Muhammadiyah Akan Dibangun di Manisa, Butuhkan Anggaran Rp905 Juta

Masjid Al-Hijrah dan Rumah Tahfidz Muhammadiyah Akan Dibangun di Manisa, Butuhkan Anggaran Rp905 Juta

24 September 2026
Tasming Hamid Perintahkan Pengerukan Sungai Dipercepat, Kurangi Risiko Luapan Air ke Permukiman

Tasming Hamid Perintahkan Pengerukan Sungai Dipercepat, Kurangi Risiko Luapan Air ke Permukiman

10 Agustus 2026
Ell Haj Berangkatkan 21 Jamaah Haji Mujamalah 2026, Klaim Jadi Salah Satu Terbanyak di Indonesia

Ell Haj Berangkatkan 21 Jamaah Haji Mujamalah 2026, Klaim Jadi Salah Satu Terbanyak di Indonesia

5 Juni 2026
Musik Metal dan Bahasa Ekspresi Diri

Musik Metal dan Bahasa Ekspresi Diri

30 Mei 2026

Mereka yang tergolong sering berkomentar negatif di medsos dikenal istilah orang yang suka “nyinyir”.

Meski dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah nyinyir ini ditujukan kepada orang yang suka memerintah berulang-ulang atau pun orang yang cerewet. Tetapi netizen sudah “terlanjur” memahami bahwa nyinyir adalah bagian dari gibah (membicarakan keburukan/aib orang lain).

Nah, bagaimana jika ada orang yang suka nyinyir?

Konsultan SDM di Lembaga Psikologi “Psycognito” Semarang, Harfi Muthia Rahmi, M.Psi. mengatakan, sifat nyinyir asal muasalnya karena seseorang memiliki gangguan kepribadian yang berdampak dengan terganggunya kepribadian sosialnya.

“Ini masuk gangguan kepribadian narsistik. Orang yang menderita kondisi ini merasa yakin bahwa dirinya lebih istimewa dibandingkan orang lain,” katanya saat dihubungi pijarnews.com, Minggu, 28 Juli 2019.

Kepribadian tersebut, cenderung arogan dan terus-menerus mengharapkan pujian dari orang lain. Mereka akan membanggakan dan melebih-lebihkan prestasi yang dicapai. Ketika merasa ada orang lain yang lebih unggul daripada mereka, penderita gangguan kepribadian narsistik akan merasa sangat iri.

Menurut dosen di Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta ini, faktor utama gangguan kepribadian biasanya faktor gen, adanya kelainan pada struktur atau komposisi kimia di dalam otak, adanya riwayat gangguan kepribadian atau penyakit mental dalam keluarga, menghabiskan masa kecil di dalam kehidupan keluarga yang kacau, perasaan sering diabaikan sejak masa kanak-kanak,
mengalami pelecehan sejak kanak-kanak, baik verbal maupun fisik, tingkat pendidikan yang rendah, dan hidup di tengah-tengah keluarga berekonomi sulit.

“Tetapi untuk lebih memastikan lagi bahwa dia kena gangguan atau tidak perlu di asesmen lebih lanjut untuk menentukan tepatnya diagnosa psikologisnya,” tambah Afi, panggilan akrabnya.

Lalu bagaimana menghadapi orang yang suka nyinyir? Afi menyarankan mensikapinya adalah dengan tidak bertindak apapun. Semakin ditanggapi, semakin diperhatikan maka mereka akan semakin mengganggu.

“Jika didiamkan, maka akan merasa diabaikan, tidak istimewa. Secara tidak langsung akan membuat perasaan pelaku tidak nyaman atau menyakitkan. Hal yang dirasa tidak nyaman dan menyakitkan bagi manusia, umumnya tidak akan diulangi,” tutup penulis buku best seller The Master Book of Psychology. (*)

Editor: Dian Muhtadiah Hamna

Terkait: Kepribadian

Berita Terkait

Tak Ada Konten Tersedia

Berita Populer

  • SMA Negeri 5 Parepare Gelar SEKSOS.COM 2026, Diikuti 270 Pelajar

    SMA Negeri 5 Parepare Gelar SEKSOS.COM 2026, Diikuti 270 Pelajar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dukcapil Parepare Imbau Warga Manfaatkan Layanan Resmi, Tak Perlu Calo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanamkan Kedisplinan dan Nilai Agama, Tiga Sekolah di Parepare Ini Kompak Gelar Salat Duha Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jaga Produksi Pertanian, Bupati Pinrang Tinjau Panen hingga Pompanisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi