• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 27 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

17 Agustus Merdeka, Tapi Belum Bebas

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Agustus 2025
di Opini
Muhammad Dirgantara

Muhammad Dirgantara

Oleh: Muhammad Dirgantara

(Ketua SEMA FAKSHI IAIN Parepare)

Setiap tahun, bangsa ini merayakan Hari Kemerdekaan dengan gegap gempita. Bendera Merah Putih dikibarkan di halaman rumah, lomba-lomba rakyat meramaikan gang sempit dan lapangan desa, lagu-lagu perjuangan kembali diperdengarkan. Seolah menjadi mantra pengingat sejarah panjang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Namun, di balik semua kemeriahan itu, pertanyaan besar menggantung. Benarkah kita sudah benar-benar merdeka?

Kemerdekaan 17 Agustus 1945 bukan sekadar lepas dari kekuasaan asing. Ia adalah janji akan kehidupan yang adil, sejahtera, dan bermartabat. Para pendahulu republik memperjuangkan harga diri, kesetaraan, dan kemanusiaan. Tapi realitas hari ini menunjukkan kemerdekaan itu belum sepenuhnya sampai ke tangan rakyat.

Berita Terkait

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Bentuk penjajahan memang berubah, kita tidak lagi disiksa oleh kekuasaan kolonial, tetapi rakyat masih terjerat oleh kemiskinan yang diwariskan turun-temurun, pendidikan yang sulit diakses, layanan kesehatan yang mahal, serta harga kebutuhan pokok yang terus melonjak.

Badan Pusat Statistika pada tahun 2024 mencatat bahwa tingkat kemiskinan Indonesia masih berada di angka 9,36% atau sekitar 25,22 juta jiwa. Angka yang bukan sekadar statistik, melainkan wajah-wajah rakyat yang bertahan hidup dengan segala keterbatasan.

Dari data menunjukkan ketidakadilan ini adalah wujud penjajahan gaya baru yang datang dari sistem yang gagal menyejahterakan seluruh rakyat. Bebas berarti lepas dari rasa takut, dari lapar, dari ketidakadilan, dan dari sistem yang mengekang mimpi.

Selama itu belum menjadi kenyataan, kita hanya merdeka di mata hukum, tapi belum bebas di mata nurani.

Korupsi tetap menjadi musuh dalam selimut. Hukum masih tebang pilih, kekayaan negeri dikuasai segelintir orang, sementara jutaan lainnya berjibaku sekadar untuk makan hari ini. Bagi sebagian orang, kemerdekaan hanyalah angka di kalender atau slogan di spanduk. Bagi mereka yang tertindas, kemerdekaan masih sebatas mimpi.

Tentu kita tidak menutup mata bahwa bangsa ini telah melangkah jauh sejak 1945. Tapi langkah panjang tidak berarti kita telah sampai tujuan. Masih terlalu banyak pekerjaan rumah, kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, hingga lunturnya empati dalam politik. Yang menyedihkan, semua ini sering tidak dianggap krisis karena kita sudah terlalu nyaman hidup dalam rutinitas kemerdekaan yang seremonial.

Jika merdeka berarti hidup tanpa rasa takut, tanpa lapar, tanpa kebodohan, dan tanpa ketimpangan, maka belum semua orang di negeri ini merdeka.

Di Papua, masih ada anak-anak sekolah yang belajar di bangunan reyot tanpa fasilitas memadai. Di NTT, masih banyak warga yang harus berjalan berkilometer untuk mendapatkan air bersih. Di kota besar, para buruh pabrik bekerja 12 jam sehari dengan upah yang nyaris tak cukup untuk hidup layak.

Jika merdeka berarti bisa bersuara tanpa intimidasi dan tumbuh tanpa dibatasi sistem yang timpang, maka kemerdekaan itu belum sepenuhnya nyata. Inilah tugas kita yang menjadikan kemerdekaan sebagai ruang hidup yang nyata, bukan sekadar warisan mati.

Kita harus berani berdiri tegak di hadapan ketidakadilan, menolak tunduk pada sistem yang hanya menguntungkan segelintir orang. Perjuangan belum selesai, kita merdeka dari penjajah, tapi belum dari penindasan, belum dari korupsi, belum dari kesenjangan, dan belum dari kebungkaman.

Di Hari Kemerdekaan ini, mari kita merenung tentang arti merdeka bagi kita hari ini? Apa yang sudah kita lakukan untuk menjadikannya nyata bagi orang di sekitar kita? Dan apakah kita cukup berani memperjuangkannya kembali?

Kemerdekaan sejati adalah saat rakyat kecil merasa dilindungi, hukum berdiri untuk semua, dan kebijakan lahir dari nurani, bukan dari lobi politik. Merdeka hari ini harus dimaknai sebagai panggilan untuk terus menyempurnakan negeri ini. Karena hanya dengan keadilan, kemerdekaan benar-benar terasa.

Namun, kita tidak boleh tenggelam dalam pesimisme. Kita telah melihat warga yang membangun koperasi pangan di desa, komunitas anak muda yang membuat perpustakaan keliling, dan gerakan sosial yang membantu petani menembus rantai distribusi yang timpang. Inilah bukti bahwa harapan tak pernah padam, meski negara sering lambat bertindak.

Kesadaran akan ketimpangan bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi membakar semangat perubahan. Bangsa ini telah melewati babak-babak sejarah seperti penjajahan, revolusi, reformasi, hingga era digital.

Setiap zaman membawa tantangan sendiri, dan generasi kita dituntut menjadi penyambung harapan, bukan hanya penikmat hasil perjuangan. Kemerdekaan yang sejati tidak datang dari pemerintah semata, tetapi tumbuh dari gerak bersama rakyat.

Ia lahir ketika petani bisa mengelola tanahnya tanpa takut tergusur, ketika anak-anak di pelosok belajar tanpa berjalan kaki belasan kilometer, ketika perempuan bersuara tanpa dihakimi, dan ketika kaum miskin kota hidup layak tanpa dicurigai.

Kita juga harus mengakui, banyak ketidakadilan hari ini dipelihara oleh diamnya kita. Ketika korupsi dianggap takdir, ketika politik hanya jadi arena elite, kita ikut merampas makna kemerdekaan.

Aparat hukum punya peran krusial mereka bukan sekadar penegak aturan di atas kertas, tetapi garda terdepan melindungi rakyat. Jika aparat hukum tunduk pada uang dan kekuasaan, maka hukum kehilangan nyawanya dan kemerdekaan berubah jadi ilusi.

Keadilan adalah ruh kemerdekaan. Tanpa keadilan, kemerdekaan hanya cerita kosong di buku pelajaran. Kita tidak butuh perayaan megah jika masih banyak rakyat yang tidak bisa makan tiga kali sehari. Kita tidak butuh parade panjang jika hukum bisa dibeli dan suara rakyat dikebiri.

Namun, kita butuhkan adalah keberanian memperjuangkan perubahan, meski itu berarti berhadapan dengan kenyamanan diri sendiri. Karena sejatinya, tugas sejarah belum selesai. Setiap generasi hari ini harus menjadi generasi yang membayar kembali utangnya dengan kerja nyata, keberpihakan pada yang tertindas, dan keberanian melawan ketimpangan.

Perubahan sejati lahir dari kesadaran kolektif, dari suara minoritas yang berani bicara. Ia tumbuh ketika mahasiswa turun mendengar jeritan petani, ketika pemuda desa membangun ruang baca tanpa menunggu program bantuan.

Kemerdekaan harus diperjuangkan ulang, setiap hari, oleh siapa pun yang masih percaya bahwa negeri ini bisa lebih adil dan manusiawi. Saatnya kita menulis bab baru dalam sejarah bangsa bukan dengan tinta kepentingan, tetapi dengan keberanian dan komitmen.

Kita tidak bisa terus membiarkan ketidakadilan tumbuh dalam diam. Tugas kita bukan sekadar menggugat, tapi merawat harapan. Bukan sekadar melawan, tapi membangun.

Hanya dengan itulah kita layak disebut merdeka bukan hanya lahir di tanah merdeka, tetapi juga memilih untuk terus memerdekakan. Karena merdeka bukanlah hadiah yang kita simpan di lemari sejarah, melainkan api yang harus terus dijaga menyala. (*)

 

 

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Momen PSBM 2026, Bupati Ungkap Rahasia Pertumbuhan Ekonomi Sidrap

Editor: Muhammad Tohir
27 Maret 2026

Wabup Sidrap dan Wabup Bone Ziarah Makam Raja Bone ke-10 di Tellu Limpoe

Editor: Muhammad Tohir
26 Maret 2026

86 Peserta Bersaing Masuk Paskibraka Sidrap 2026

Editor: Muhammad Tohir
26 Maret 2026

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan