• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 11 Agustus 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Nasaruddin Umar Guru Kita

OPINI

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
5 September 2025
di Opini
Nasaruddin Umar Guru Kita

Nasaruddin Umar

Oleh: Adekamwa

(Humas Pusjar SKMP LAN)

Polemik pidato Nasaruddin Umar tentang profesi guru itu rasanya seperti melihat orang tua sendiri bicara. Ada rasa bangga, tapi juga ada rasa cemas kalau-kalau ucapan beliau disalahpahami orang lain. Apalagi saat potongan video yang hanya beberapa detik itu viral, seolah-olah seluruh niat baiknya menguap begitu saja.

Padahal, semua yang pernah mendengar pidato beliau, tahu betul bagaimana cara Nasaruddin Umar berbicara. Beliau adalah sosok yang terbiasa menggunakan perumpamaan, analogi, dan kadang-kadang hiperbola untuk menyampaikan pesan yang mendalam.

BeritaTerkait

Pajak : Ketika Rakyat Jadi Tumpuan

Pajak : Ketika Rakyat Jadi Tumpuan

5 Agustus 2026
Manajer KDKMP,  Penggerak Ruang Publik Ekonomi Desa

Manajer KDKMP, Penggerak Ruang Publik Ekonomi Desa

24 Juli 2026
Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

24 Juli 2026
Politik Energi dalam Islam

Politik Energi dalam Islam

16 Juli 2026

Sama seperti orang tua kita di rumah, kadang omongan mereka terdengar keras atau bikin panas telinga, tapi tujuannya satu, agar kita punya pegangan hidup yang kuat.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA menempuh jalan panjang dalam dunia pendidikan.

Dari Sekolah Dasar Negeri di Ujung-Bone, Madrasah Ibtida’iyah Pesantren As‘adiyah Sengkang, Pendidikan Guru Agama, hingga menyelesaikan Sarjana Muda dan Sarjana Lengkap di Fakultas Syari‘ah UIN Alauddin Makassar.

Kemudian meraih gelar Magister dan Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jejak akademik di atas adalah bukti konsistensi dan kesetiaan pada tradisi keilmuan Islam yang beliau jalani sejak usia dini hingga ke tingkat tertinggi.

Pada 3 September 2025, dalam acara Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 3 di UIN Jakarta, Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa profesi guru bukanlah jalan untuk mencari kekayaan, melainkan ladang amal jariyah dengan rezeki yang penuh keberkahan.

“Kalau mau cari uang, jangan jadi guru, jadi pedagang,” Itu adalah caranya mengingatkan para calon guru bahwa profesi ini lebih dari sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan jiwa, ladang amal. Seolah-olah beliau sedang mengingatkan anak-anaknya: “Nak, tujuan hidupmu itu bukan cuma soal uang. Ada hal yang lebih besar, yaitu keberkahan dan keikhlasan.”

Sayangnya, di era digital ini, niat baik seringkali kalah cepat dengan klik dan share. Pernyataan yang punya konteks panjang dan filosofi mendalam, dipangkas habis-habisan menjadi konten yang memicu amarah.

Framing yang menyederhanakan pernyataan itu telah menimbulkan kesan seolah negara abai pada nasib guru.

Fedi Nuril dan publik lainnya pun ikut bicara, memperdebatkan nasib guru yang memang perlu diperhatikan. Reaksi itu wajar, karena kita semua ingin melihat guru-guru kita sejahtera.

Sebagai seorang negarawan sejati, Nasaruddin Umar akhirnya merilis video klarifikasi. Beliau meminta maaf bila ada ucapannya yang melukai hati para guru.

Sebuah sikap yang menunjukkan tanggung jawab penuh atas kata-kata, serta kesediaan untuk berdiri di hadapan publik dengan keterbukaan.

Kita tidak seharusnya menerima informasi mentah-mentah tanpa melakukan validasi. Kita harus belajar melihat suatu masalah secara utuh dan tidak hanya dari potongan-potongan video yang viral. Apa yang disampaikan Nasaruddin Umar adalah sebuah refleksi mendalam tentang makna profesi guru.

Penulis melihat peristiwa ini sebagai pelajaran yang lebih luas, bahwa kita semua punya peran, bukan hanya dalam menyampaikan pesan, tetapi juga dalam menafsirkan dan menyaringnya.

Syahdan, di era algoritma, kebijaksanaan menyaring informasi menjadi lentera kecil yang menjaga kita dari gelapnya kesalahpahaman, Insya Allah. (*)

 

Terkait: Opini

BeritaTerkait

Pajak : Ketika Rakyat Jadi Tumpuan

Pajak : Ketika Rakyat Jadi Tumpuan

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
5 Agustus 2026

...

Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
24 Juli 2026

...

Politik Energi dalam Islam

Politik Energi dalam Islam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 Juli 2026

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi