PAREPARE, PIJARNEWS.COM — Aula SMA Negeri 5 Parepare berubah menjadi ruang teatrikal yang hangat dan puitik pada Sabtu (6/12/2025). Di bawah tema “Menjelajahi Waktu dalam Satu Layar Sejuta Latar”, ratusan siswa dan pengunjung larut dalam alur pementasan dan pameran karya Andromeda’s Era of Revolution in Art and Screen (AERAS) sebuah panggung seni yang memadukan lintas medium, imaji, dan kisah-kisah lintas generasi.
Dibuka oleh Kepala UPT SMA Negeri 5 Parepare, Muzakkir Damir, S.Pd., M.Pd., acara ini bukan sekadar helatan akhir tahun, melainkan laboratorium hidup dari proses pembelajaran mata pelajaran Seni. “Siswa kami sudah belajar teori dan praktik. Hari ini mereka menampilkan implementasi dari apa yang selama ini dipelajari. Pentas seperti ini menumbuhkan percaya diri dan semangat mereka. Insya Allah akan terus kami tingkatkan,” ujarnya.
Aula sekolah disulap menyerupai teater-bioskop mini. Pencahayaan artistik dan tata suara yang tertata rapi menjadi panggung bagi rentetan pertunjukan musik, tari, drama, hingga teaterikal budaya. Atmosfer ruang terasa akrab, namun tetap menyimpan aura panggung seni yang serius.
Pantauan Pijarnews.com menunjukkan variasi pertunjukan yang mengalir dari generasi ke generasi. Para siswa membawakan nyanyian solo dan grup, permainan gitar dan organ tunggal, tarian kontemporer, serta teater yang menyingkap hikmah budaya Bugis. Salah satu pementasan kuat hadir melalui teater tentang Nene Mallomo, tokoh perjuangan Bugis Sidenreng Rappang (Sidrap) yang dikenal melalui petuah Resopa Temmanginggi, Malomo Na Letei Pammase Dewata. Hanya dengan kerja keras yang tak kenal lelah, berkah Tuhan akan mudah diperoleh.


Nene’ Mallomo juga dikenal seorang intelektual yang mumpuni dalam bidang hukum dan pemerintahan serta berkarakter jujur dan adil kepada masyarakat. Nene’ Mallomo punya prinsip yakni “Ade Temmakkeana, Temmakkeappo”, artinya, hukum tak mengenal anak dan cucu. Hal ini menunjukkan sisi keadilan dan ketegasan dari seorang Nene’ Mallomo, yang juga merupakan salah seorang penyebar agama Islam di Sidrap.
Drama lain menyuguhkan ketegangan keluarga pengusaha yang terjerat konflik warisan hingga pembunuhan, tema yang dibuat ringkas namun berhasil memukau penonton. Atmosfer menegangkan, tetapi tetap dalam koridor pendidikan seni yang mengolah emosi menjadi pelajaran moral.
Di bagian pembuka, dua penyanyi cilik tampil bersama lima penari muda, menghangatkan suasana dengan harmoni suara dan koreografi yang rapi. Disusul kemudian penampilan Triavera dan koreografi evolution dance yang mendapatkan respons antusias.
Anisa Cahyani, Pimpinan Produksi AERAS, menyebut bahwa pementasan ini adalah perjalanan waktu dari era 1960-an hingga 2025. “Yang terlibat sekitar 132 siswa kelas XI angkatan 20 Smeli. Semua berperan dalam merangkai cerita lintas zaman,” tuturnya.
Muhammad Gaza Al Gazali, salah satu tokoh penari kontemporer tradisi, menuturkan pengalaman membawakan tari Pappasengna Nene Mallomo, yang menyuarakan pesan-pesan moral budaya Bugis. “Lempu, Getteng, Warani itu saling berkait. Jujur, teguh pendirian, dan berani. Tiga nilai itu yang coba kami hidupkan di atas panggung,” katanya.
Salah seorang pengunjung yang juga orang tua siswa, Hendra Basri, menyampaikan kekagumannya. “Semua penampilan luar biasa. Teater Pembagian Warisan Berujung Maut sangat kuat penjiwaannya,” ujarnya.
AERAS menutup hari dengan aplaus panjang, sebuah tanda bahwa seni, ketika dikelola dengan kesungguhan dan ruang tumbuh, mampu menjadi jembatan antara pelajaran di kelas dan kepribadian yang sedang bertumbuh. (*)
Penulis : Alfiansyah Anwar






