• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Sulselbar

11 Tahun Al-Risalah Batetangnga: Dari Langkah Kecil Menjadi Gerakan Besar, Kepercayaan Masyarakat Jadi Energi Pertumbuhan

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
20 Agustus 2026
di Sulselbar
11 Tahun Al-Risalah Batetangnga: Dari Langkah Kecil Menjadi Gerakan Besar, Kepercayaan Masyarakat Jadi Energi Pertumbuhan

Milad ke-11 Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Rabu (19/8/2026)

POLEWALI MANDAR, PIJARNEWS.COM–Sebelas tahun bukan usia yang panjang bagi sebuah lembaga pendidikan. Namun bagi Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, perjalanan sejak dirintis pada 2015 menunjukkan bahwa sesuatu yang bermula dari langkah kecil dapat tumbuh menjadi gerakan pendidikan dengan dampak yang semakin luas.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Milad ke-11 Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Rabu (19/8/2026), dengan mengusung tema “Small Start, Big Impact.” Milad tahun ini tidak sekadar menjadi perayaan hari lahir, tetapi juga ruang refleksi atas perkembangan pesantren, penguatan jejaring alumni, serta penghargaan kepada orang-orang dan lembaga yang ikut menjadi bagian dari perjalanan Al-Risalah.

Ribuan langkah kecil yang selama ini hadir dalam bentuk kepercayaan orang tua, pengabdian guru, dukungan pemerintah, kemitraan lembaga, kontribusi alumni, hingga kepercayaan masyarakat desa dan kelurahan ditempatkan sebagai bagian penting dari pertumbuhan pesantren.
Momentum tersebut dihadiri keluarga besar Al-Risalah, mulai dari pembina dan pendiri, jajaran yayasan, pengasuh, dewan guru, santri, alumni, wali santri putra dan putri, pemerintah, hingga mitra strategis pesantren.

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat turut hadir melalui Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKIS), Dr. H. Muhammad Dinar Faisal, M.Si.

Kemenag Sulbar: Pesantren Muda dengan Perayaan dan Perkembangan Luar Biasa

Kehadiran Muhammad Dinar Faisal menjadi salah satu perhatian dalam momentum tersebut. Ia memberikan apresiasi terhadap perkembangan Al-Risalah yang dinilainya menunjukkan dinamika luar biasa meski secara usia masih tergolong muda.

BeritaTerkait

Tim PKM Universitas Hasanuddin Dampingi Poklahsar Milkfish Lestari  Soppeng Kembangkan Olahan Ikan Patin Berbasis Zero Waste

Tim PKM Universitas Hasanuddin Dampingi Poklahsar Milkfish Lestari Soppeng Kembangkan Olahan Ikan Patin Berbasis Zero Waste

19 Agustus 2026
Tim PKM  Unhas dan Umma Ubah Limbah Ikan dan Cangkang Kepiting Menjadi Pakan Ayam

Tim PKM Unhas dan Umma Ubah Limbah Ikan dan Cangkang Kepiting Menjadi Pakan Ayam

17 Agustus 2026
Tim PKM Prodi Keperawatan Unismuh Latih Produksi Keripik Salak Bagi Warga Dusun Batri Pinrang

Tim PKM Prodi Keperawatan Unismuh Latih Produksi Keripik Salak Bagi Warga Dusun Batri Pinrang

14 Agustus 2026
Diskusi Keberlanjutan Media Lokal, Pemred Suara.com Sarankan Miliki Diversifikasi Pendapatan hingga Pertajam Isu Daerah

Diskusi Keberlanjutan Media Lokal, Pemred Suara.com Sarankan Miliki Diversifikasi Pendapatan hingga Pertajam Isu Daerah

14 Agustus 2026

Dalam sambutannya, ia menyoroti bagaimana pesantren yang baru berusia 11 tahun mampu menyelenggarakan momentum milad dengan skala, keterlibatan masyarakat, kreativitas santri, serta partisipasi berbagai unsur yang demikian besar.

Menurutnya, tidak banyak pesantren dengan usia yang relatif muda mampu mengemas peringatan hari lahir dengan kemeriahan sekaligus kekuatan konsolidasi kelembagaan seperti yang ditunjukkan Al-Risalah Batetangnga.

Apresiasi tersebut menjadi penegasan bahwa perkembangan sebuah pesantren tidak semata-mata dapat dibaca dari lamanya usia lembaga, tetapi dari kemampuan membangun kepercayaan, memperluas manfaat, memperkuat tata kelembagaan dan mempertahankan hubungan dengan masyarakat.
Dari sebuah pesantren yang bertumbuh melalui proses sederhana, Al-Risalah kini terus membangun ekosistem pendidikan yang menghubungkan santri, orang tua, guru, alumni, pemerintah, sekolah asal, desa, kelurahan, serta berbagai mitra kelembagaan.

Tema “Small Start, Big Impact” pun menemukan maknanya pada perjalanan tersebut: sebuah permulaan yang sederhana dapat menghasilkan dampak besar ketika dirawat dengan konsistensi, kepercayaan dan kerja bersama.

Ketua Yayasan: Pertumbuhan Al-Risalah Tidak Berdiri Sendiri
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Dr. Muhammad Ali Rusdi Bedong, S.Th.I., M.H.I., menegaskan bahwa perkembangan pesantren selama sebelas tahun bukanlah hasil kerja satu atau dua orang.
Di balik pertumbuhan Al-Risalah, menurutnya, terdapat kontribusi banyak pihak yang mungkin berbeda bentuk dan skalanya, tetapi seluruhnya mempunyai arti bagi perjalanan pesantren.

Oleh karena itu, dalam momentum Milad ke-11, ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada seluruh mitra Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga yang selama ini hadir memberikan dukungan, membangun sinergi dan ikut menguatkan berbagai program pesantren.

Bagi Al-Risalah, kemitraan tidak semata-mata hubungan kelembagaan. Dukungan sekecil apa pun dipandang sebagai bentuk kepercayaan yang harus dijaga.

Semangat tersebut sekaligus menjelaskan mengapa peringatan Milad ke-11 tidak hanya menampilkan perkembangan internal pesantren, tetapi justru memberi ruang besar untuk mengapresiasi pihak-pihak di luar struktur pesantren yang selama ini ikut bertumbuh bersama Al-Risalah.

Pendiri: Terima Kasih karena Mempercayakan Anak-anak kepada Kami
Suasana emosional mengemuka ketika Pembina sekaligus Pendiri Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Dr. H. Muhdin Bedong, S.Ag., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada para wali santri.
Di hadapan para orang tua yang hadir, ia menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas kepercayaan yang diberikan kepada Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga selama sebelas tahun perjalanan lembaga tersebut.
Kepercayaan orang tua, bagi pesantren, merupakan amanah yang nilainya jauh melampaui angka-angka pertumbuhan.
Setiap orang tua yang datang membawa seorang anak ke pesantren, setiap keluarga yang kemudian kembali mempercayakan adik atau saudaranya, serta setiap wali santri yang ikut menyampaikan pengalaman mereka kepada keluarga lain menjadi mata rantai yang membuat Al-Risalah terus berkembang.
Oleh karena itu, pendiri menempatkan wali santri bukan sekadar sebagai pengguna layanan pendidikan, melainkan sebagai bagian dari sejarah pertumbuhan pesantren.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Barat dan Kementerian Agama atas pembinaan, perhatian dan dukungan terhadap perkembangan pendidikan keagamaan dan pesantren.

Menurutnya, dukungan pemerintah bersama kepercayaan masyarakat menjadi kekuatan penting agar pesantren dapat terus meningkatkan mutu pendidikan sekaligus mempertahankan karakter dan identitas kepesantrenannya.

Salah satu pesan kuat yang dibawa dalam Milad ke-11 adalah filosofi penghargaan.
Al-Risalah ingin menunjukkan bahwa membangun pesantren tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berada di panggung utama.

Ada orang tua yang bertahun-tahun mempercayakan anak-anaknya. Ada keluarga yang terus mendukung kegiatan pesantren. Ada alumni yang mengharumkan nama almamater. Ada sekolah yang secara berkesinambungan menjadi bagian dari mata rantai pendidikan santri. Ada pemerintah dan lembaga yang memberi dukungan pelayanan. Bahkan ada desa dan kelurahan yang kontribusinya hadir melalui kepercayaan masyarakat untuk mengirim putra-putrinya belajar di pesantren.

Filosofi tersebut diwujudkan melalui Risalah Achievement Awards 2026, sebuah penghargaan kepada wali santri, alumni, mitra strategis, lembaga pendidikan, hingga desa dan kelurahan yang ikut membersamai perjalanan Al-Risalah.
Penghargaan ini sekaligus membawa pesan bahwa dalam membangun lembaga pendidikan, tidak ada kontribusi yang terlalu kecil untuk dihargai.

Dalam kategori Family Trust, penghargaan diberikan kepada lima pasangan wali santri yang memberikan kepercayaan besar kepada Al-Risalah dengan mempercayakan pendidikan beberapa putra-putrinya kepada pesantren.

Mereka adalah Damir dan Munirah dari Sulewatang, Bapak Lukman dan Ibu Masdawati dari Silopo, Bapak Hasanuddin dan Ibu Satiana dari Saleko, Bapak Sapri dan Ibu Hj. Murni dari Paku, serta Baharuddin dan Nurilyana dari Pekkabata.

Sementara kategori Loyal Parent diberikan kepada Bapak Hasanuddin dan Ibu Satiana, pasangan wali santri yang konsisten memberikan kepercayaan kepada Al-Risalah sejak periode awal perjalanan pesantren hingga saat ini.

Kategori Dedicated Parent diberikan kepada Bapak Hamsa dan Ibu Hasnafia atas dedikasi, kepedulian, dukungan, dan keterlibatan mereka dalam perkembangan pesantren.

Penghargaan kepada para orang tua tersebut memperlihatkan satu hal: pertumbuhan jumlah santri dan semakin luasnya jangkauan Al-Risalah berangkat dari modal sosial paling mendasar, yakni kepercayaan keluarga.

Perkembangan pesantren juga tercermin melalui perjalanan para alumninya.
Dalam kategori Alumni Inspiratif, penghargaan diberikan kepada Mutiara Mudir, S.H., M.Ag., KUMI., yang mencatat sejumlah pencapaian akademik pada tingkat nasional dan internasional.

Ia tercatat mengikuti short course di Pascasarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, meraih predikat Mahasiswa S2 Terbaik I Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal, serta menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi Q1.

Prestasi alumni tersebut menjadi salah satu gambaran dampak pendidikan Al-Risalah yang tidak berhenti ketika seorang santri menyelesaikan pendidikannya di pesantren.
Alumni justru diharapkan menjadi perpanjangan dari nilai-nilai pesantren dalam dunia akademik, profesi, dakwah dan pengabdian masyarakat.

Komitmen itu semakin diperkuat melalui pelantikan Pengurus Ikatan Alumni Al-Risalah Batetangnga (IKARIBAT) pada rangkaian Milad ke-11.

Pelantikan dipimpin Pembina IKARIBAT, Dr. Muhammad Ali Rusdi Bedong, S.Th.I., M.H.I., kepada jajaran pengurus yang diketuai Ustadz Junaidi, S.Sos., M.Pd.

Kehadiran IKARIBAT diharapkan menjadi ruang konsolidasi alumni agar hubungan dengan almamater tidak berhenti setelah kelulusan, tetapi berkembang menjadi jaringan kolaborasi dan pengabdian.
Dalam kategori Mitra Kerja Strategis, penghargaan diberikan kepada Polsek Binuang dan Puskesmas Binuang atas dukungan dan kemitraan yang selama ini terbangun bersama pesantren.

Al-Risalah memandang keamanan, kesehatan dan pendidikan sebagai wilayah yang membutuhkan kolaborasi. Karena itu, sinergi dengan berbagai institusi menjadi bagian penting dari penguatan ekosistem pesantren.

Penghargaan School Partnership juga diberikan kepada MI Al-Risalah Batetangnga, SDN 028 Pekkabata, SDN 058 Tete, MI DDI Kanang, SDN 060 Pekkabata, dan MI DDI Tappina.
Sekolah dan madrasah tersebut menjadi bagian dari jejaring pendidikan Al-Risalah, terutama melalui keberadaan lulusan mereka yang kemudian melanjutkan pendidikan di pesantren.
Alih-alih melihat lembaga pendidikan lain sebagai kompetitor, penghargaan tersebut memperlihatkan paradigma bahwa pendidikan merupakan sebuah mata rantai panjang yang membutuhkan kesinambungan dan kolaborasi antarlembaga.
Hal yang berbeda dalam Risalah Achievement Awards adalah diberikannya penghargaan kepada desa dan kelurahan.

Kategori Village Contribution diberikan kepada Kelurahan Manding, Desa Paku, Kelurahan Polewali, Desa Kuajang, Desa Rea, Desa Mirring, Kelurahan Darma, Desa Rajang, Desa Patampanua, Desa Amola, dan Desa Duampanua.

Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan kontribusi masyarakat dari wilayah-wilayah tersebut yang memberikan kepercayaan dengan melanjutkan pendidikan putra-putrinya di Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga.

Pilihan mengapresiasi desa dan kelurahan menunjukkan perspektif yang lebih luas mengenai perkembangan pesantren.

Bertambahnya santri tidak hanya dibaca sebagai statistik kelembagaan, tetapi sebagai representasi dari bertumbuhnya kepercayaan masyarakat di berbagai wilayah.
Dengan demikian, setiap daerah asal santri sesungguhnya memiliki jejak dalam sejarah pertumbuhan Al-Risalah.
Milad ke-11 juga menjadi panggung ekspresi dan kreativitas santri.
Hadroh putri, kreasi santri cilik, tilawah Al-Qur’an oleh Ustadzah Nurul Fitriani Hasan, S.Pd., Mars Al-Risalah, Dance Arab, Tari Melayu, Vocal Group Laskar Pelangi, penampilan santri baru, Drama Kabinet, Hand Dance, short movie hingga Wonderful Nusantara menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Di balik panggung Milad terdapat proses pendidikan yang melatih keberanian, kerja sama, komunikasi, kreativitas dan kepercayaan diri santri.
Kemeriahan kegiatan itulah yang turut mendapatkan apresiasi dari perwakilan Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Barat.
Bagi Al-Risalah, pendidikan pesantren tidak berhenti pada ruang kelas dan penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga menjadi proses membentuk generasi yang mampu tampil, berkomunikasi, bekerja sama dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.
“Small Start, Big Impact” Bukan Sekadar Tema
Sebelas tahun perjalanan Al-Risalah memperlihatkan bahwa perkembangan lembaga pendidikan bukan hanya cerita tentang bangunan yang bertambah, program yang semakin banyak, atau jumlah santri yang meningkat.

Perkembangan sesungguhnya juga terlihat dari berapa besar kepercayaan yang berhasil dijaga, berapa banyak keluarga yang merasa menjadi bagian dari pesantren, seberapa kuat alumni tetap terhubung, dan seberapa luas jejaring kemitraan yang berhasil dibangun.
Karena itu, Milad ke-11 tidak diarahkan sebagai panggung untuk mengatakan bahwa Al-Risalah telah tumbuh sendirian.

Sebaliknya, pesantren justru memilih memanggil satu per satu mereka yang telah ikut berkontribusi — wali santri, alumni, sekolah, pemerintah, mitra, desa dan kelurahan — lalu memberikan penghargaan kepada mereka.

Sebuah pesan sederhana tetapi kuat: kemajuan sebuah pesantren selalu memiliki banyak tangan di belakangnya.

Dari Batetangnga, pesantren ini ingin menunjukkan bahwa penghargaan tidak harus menunggu seseorang melakukan sesuatu yang monumental.

Kepercayaan satu keluarga, dukungan satu lembaga, keberhasilan satu alumni, hingga satu masyarakat yang mempercayakan anaknya untuk belajar adalah kontribusi yang pantas dikenang.
Dan setelah sebelas tahun perjalanan, filosofi itulah yang menjadi ruh tema “Small Start, Big Impact”: bermula dari langkah kecil, tumbuh karena kepercayaan, dan bergerak menuju dampak yang semakin luas. (rls)

Terkait: Pondok Pesantren

BeritaTerkait

Guru dan santri Pondok Pesantren TASSBEH Baitul Qur’an saat mengikuti upacara bendera di halaman sekolah

Profil Pondok Pesantren TASSBEH Baitul Qur’an: Membangun Generasi Qur’ani dengan Fondasi Akhlak dan Ilmu

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 April 2026

...

Ribuan Santri Saksikan Kemegahan Grand Final Debat Ilmiah Keislaman Santri Al-Risalah Batetangnga

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
8 Desember 2025

...

Santri PP Al Urwatul Wutsqaa Sidrap Nobar Film Syarat Pendidikan Politik

Santri PP Al Urwatul Wutsqaa Sidrap Nobar Film Syarat Pendidikan Politik

Editor: Tohir Muhammad
23 Oktober 2023

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi