Kotaku
Lampu kerlap-kerlip yang terlihat dimana-mana
nampak cantik dan menawan di malam hari
tapi sekaligus racun bagi
wargamu, atau mungkin hanya gincu
keindahan yang semu.
Kotaku
Disini banyak orang berdagang dan bekerja
menggunakan politik sebagai pisaunya
sedang kritik yang terlontar dan diteriakkan
hanya menggelitik tawar dan tak lagi mempan
kerja sosial berbau amal dan moral, hanya
sebatas tercatat di koran harian atau berita
di media online yang tampaknya manusiawi.
Kotaku
Hampir-hampir aku tak lagi
bisa menulis tentang puisi. Mungkin
karena ditelan oleh ambisi para politisi.
Kotaku
Engkau telah mengajariku membaca
tentang lupa, dusta dan segala dosa
yang ditawarkan setiap hari-harinya.
Kotaku
Engkau telah mengajariku berkata
untuk tidak gampang lupa gampang berdusta
tidak pula gampang menghimpun dosa
tanpa memperhitungkan angka.
Kotaku
Engkau telah mengajariku membuka hati
seluas padang sabana menghijau warna
yang membuka pikir sebening telaga
sejernih air segarnya
tanpa rasa pongah apa lagi kikir dalam berpikir
lantas pintar berdusta dan lupa segalanya.
Kotaku
Engaku telah mengajarkan ketegaran demi ketegaran
dari seribu sandungan demi sandungan
tanpa terhitungkan.
Kotaku
Yang perlu engaku tau
aku takkan meninggalkanmu sendiri dalam sepih
aku tetap berdiri tegak menemanimu hingga mati.











