• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, 4 Juni, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Kuliah dan Kebodohan

Oleh Renaldi (Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare)

Amrihani Editor: Amrihani
5 Januari 2023
di Opini

OPINI, Kuliah merupakan masa pertarungan dengan waktu. Dituntut mandiri dan tak ada lagi yang gratis. Berbeda saat masih duduk di bangku sekolah dulu, yang biaya semesternya (untuk sekolah negeri) masih ditanggung oleh pemerintah (gratis).

Selain itu, waktu tempuh untuk kelulusan atau ke jenjang selanjutnya juga relatif pendek. Masing-masing hanya 3 tahun untuk Sekolah Menegah Pertama (SMP) dan Sekolah Menegah Akhir (SMA). Meskipun waktu tempuh untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) cukup lama, yaitu 6 tahun . Tapi, karena gratis jadi tidak menjadi persoalan. Lain halnya, saat memasuki jenjang perkuliahan.

Di masa perkuliahan, selama masih mampu membayar uang semester dan tidak melebihi batas waktu 7 tahun atau yang dikenal dengan istilah DO (Drop Out), maka dianggap sah-sah saja. Akan tetapi, idealnya. Kuliah itu ditempuh dalam waktu 4 tahun atau 3,5 tahun jika mendapatkan predikat cumlaude.

Memorable. Barangkali itulah kata yang pantas disematkan untuk masa perkuliahan. Memulainya dari mahasiswa semester awal (MABA), hingga akhirnya menjadi mahasiswa semester akhir atau yang sering disebut senior. Lucu rasanya ketika mengingat kembali masa Mahasiswa Baru (MABA) dulu. Selain, bertemu dengan kawan-kawan seangkatan yang sama-sama culun, juga bertemu dengan kakak-kakak senior yang bijak dan penuh indoktrinasi.

Saya jadi teringat disuatu malam tongkrongan bersama dengan senior dan kawan-kawan yang lain. Saat itu, salah satu dari kawan saya bertanya kepada salah satu senior tentang bagaimana cara agar cepat selesai dalam per-kuliah-an.

Berita Terkait

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Lantik Rektor Baru IAIN Parepare, Ini Pesan Menag Nasaruddin Umar

Tidak memerlukan waktu yang lama bagi senior itu untuk memberikan sebuah jawaban. “ah! buat apa cepat selesai kalau tidak punya kerjaan. Lebih baik lambat selesai tapi tepat dari pada cepat tapi tidak tepat.” Begitu yang dia (senior) katakan yang membuat saya termangut-mangut.

Dia lalu melanjutkan kembali dengan sebuah penjelasan bahwa “toh, kenyataannya banyak yang sudah selesai tapi tidak tahu harus melakukan apa (kerja), dan disisi lain ada juga yang lambat selesai tapi langsung dapat kerjaan.” Sekali lagi saya hanya bisa mangut-mangut mendengar jawaban ada benarnya juga dan terasa sangat bijak itu.

Hingga, akhirnya saya berada pada masa-masa semester akhir. Dimana harapan orang tua seharusnya selesai hanya empat tahun, akan tetapi harus menambah semester lagi dan membayar lagi.

Tapi, dari situ saya belajar dan menyadari satu hal, bahwa tidak semua bahasa bijak seperti itu harus ditelan mentah-mentah. Boleh jadi, kita harus terlebih dahulu memahami. Karena, entah kenapa seolah-olah, apa yang senior bahasakan waktu itu menjadi tampak sebagai bahasa pasar yang sampai saat ini dipakai beberapa kawan mahasiswa yang sudah memasuki semester akhir. Ironinya, saya sendiri juga pernah menggunakan bahasa-bahasa itu sebagai pleidoi (pembelaan diri) ketika seringkali ditanya kapan selesainya.

Bukannya hendak mempersoalkan atau mengatakan bahwa apa yang dibahasakan oleh sebagian kawan atau senior itu salah. Itu urusan mereka yang tak ingin saya urusi. Akan tetapi, saya hanya menertawakan diri dan merefleksikan kembali bahwa bahasa seperti itu sebaiknya diproses kurasi terlebih dahulu. Melihat dari sudut pandang yang relevan dengan keadaan pribadi. Jangan-lah sampai menjadi korban omongan yang benar dari perspektif orang yang mengatakan.

Lagi pula, kuliah tidak gratis. Setiap semesternya harus dibayar jika masih ingin terdaftar aktif di akademik sebagai seorang mahasiswa. Belum lagi uang jajan, uang kos, dan keperluan lainnya. Bukankah kedua orang tua-lah yang bekerja keras untuk menopang semua kebutuhan itu. Apalagi kita terlahir dari latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda. Syukur-syukur kalau membiayai kuliah sendiri atau berasal dari kelas ekonomi atas.

Ya begitulah. Karena kebodohan dan kedangkalan pengetahuan dalam menafsirkan perspektif orang lain. Hingga terkadang lupa bahwa ada jiwa dan raga yang selama ini terbebani.

Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

Terkait: IAIN ParepareOpini

TerkaitBerita

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

...

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Editor: Muhammad Tohir
26 Mei 2026

...

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

...

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Berita Terkini

Lagi, Sidrap Raih WTP 10 Kali Berturut-turut

Lagi, Sidrap Raih WTP 10 Kali Berturut-turut

Editor: Muhammad Tohir
3 Juni 2026

Wali Kota Parepare Tinjau 3 Lokasi Inovasi Program Srikandi Berdaya Srikandi

Wali Kota Parepare Tinjau 3 Lokasi Inovasi Program Srikandi Berdaya Srikandi

Editor: Muhammad Tohir
3 Juni 2026

Irwan Hamid Teken PKS dengan Kejari Pinrang, Pastikan Kebijakan Sesuai Koridor Hukum

Irwan Hamid Teken PKS dengan Kejari Pinrang, Pastikan Kebijakan Sesuai Koridor Hukum

Editor: Muhammad Tohir
3 Juni 2026

Wabup Pinrang: Pesantren Berperan Besar Cetak Generasi Berkarakter dan Berdaya Saing

Wabup Pinrang: Pesantren Berperan Besar Cetak Generasi Berkarakter dan Berdaya Saing

Editor: Muhammad Tohir
2 Juni 2026

Kembali Raih Opini WTP, Tasming Hamid: Bukti Komitmen Tata Kelola Keuangan yang Akuntabel

Kembali Raih Opini WTP, Tasming Hamid: Bukti Komitmen Tata Kelola Keuangan yang Akuntabel

Editor: Muhammad Tohir
2 Juni 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan