MAROS, PIJARNEWS.COM–Universitas Bosowa (Unibos) terus mendorong penguatan potensi ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan produk unggulan berbasis sumber daya lokal. Salah satunya dilakukan melalui program peningkatan kualitas produksi dan pemasaran produk unggulan rumput laut di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.
Program pemberdayaan yang turut didorong oleh Guru Besar Bidang Ekonomi Pembangunan Universitas Bosowa, Prof. Dr. Thamrin Abduh, S.E., M.Si., ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai usaha rumput laut dari sektor hulu hingga hilir. Tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi bahan baku, program juga diarahkan pada penguatan teknologi pascapanen, manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pengembangan produk olahan bernilai tambah.
Kegiatan tahun kedua program melibatkan Kelompok Cahaya Rumput Laut sebagai mitra penyedia bahan baku serta CV Anugerah Global Agriculture sebagai mitra pengolahan. Melalui pendekatan pemberdayaan partisipatif, kedua mitra didampingi dalam mengidentifikasi kebutuhan, menerapkan teknologi, mengikuti pelatihan, hingga melakukan evaluasi terhadap proses pengembangan usaha.
Pada sektor hulu, berbagai intervensi telah diterapkan untuk mendukung peningkatan kualitas produksi. Mulai dari penggunaan rak pengering agar rumput laut tidak bersentuhan langsung dengan tanah, pemanfaatan alat jahit karung untuk mendukung pengemasan, hingga penguatan pencatatan usaha dan pemanfaatan teknologi digital melalui akses internet serta WhatsApp Business.
Sementara itu, pada sektor hilir, pengembangan difokuskan pada pengolahan rumput laut jenis cottonii menjadi tepung rumput laut. Bahan terlebih dahulu melalui proses pencucian atau perendaman, pembilasan, serta pengeringan ulang sebelum memasuki tahap penepungan menggunakan hammer mill.
Tepung yang dihasilkan kemudian diayak secara manual dan dimanfaatkan dalam sejumlah uji coba pengembangan produk dodol rumput laut.
Pengembangan dodol rumput laut menjadi salah satu capaian penting dalam perjalanan program ini. Prototipe produk telah berhasil dibuat, menandai terbukanya peluang baru bagi hilirisasi komoditas rumput laut di Desa Ampekale.
Namun, tim pelaksana menegaskan bahwa produk tersebut belum dinyatakan siap konsumsi maupun siap dipasarkan secara komersial.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa aroma khas rumput laut masih cukup kuat, sementara tekstur produk belum sepenuhnya seragam. Kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam proses pengembangan produk agar komersialisasi nantinya benar-benar didasarkan pada standar mutu yang memadai.
Kendala tersebut juga tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan mesin hammer mill. Kualitas produk akhir dipengaruhi oleh keseluruhan rangkaian proses, mulai dari kualitas bahan baku, pencucian, perendaman, pembilasan, pengeringan, ukuran partikel tepung, hingga komposisi formulasi produk.
Oleh karena itu, keberhasilan menghasilkan tepung rumput laut secara mekanis belum otomatis menjadikan produk turunannya siap memasuki pasar.
Ke depan, pengembangan program akan diarahkan pada proses yang lebih terstandar. Salah satu fokus utama adalah penyempurnaan proses penepungan dan pengayakan agar ukuran partikel tepung menjadi lebih seragam.
Penggunaan mesin pengayak mekanis direncanakan sebagai pelengkap proses setelah penepungan menggunakan hammer mill. Teknologi tersebut diharapkan mampu menghasilkan tepung dengan ukuran partikel yang lebih konsisten sehingga dapat mendukung perbaikan tekstur produk olahan.
Selain itu, optimasi proses pencucian, perendaman, pembilasan, dan pengeringan juga menjadi bagian penting untuk memperbaiki karakteristik bahan baku. Penyesuaian formulasi dan bahan pendukung pun akan terus dilakukan untuk menghasilkan cita rasa serta aroma yang lebih dapat diterima konsumen.
Tahap selanjutnya tidak berhenti pada penyempurnaan produk secara fisik. Tim juga akan mendorong pelaksanaan pengujian mutu, uji sensori, pengujian umur simpan, pengembangan kemasan, hingga uji pasar terbatas sebelum produk benar-benar memasuki tahap komersialisasi.
Melalui program ini, Unibos ingin memastikan bahwa proses hilirisasi tidak sekadar menghasilkan produk baru, tetapi juga membangun produk yang memiliki kualitas, nilai tambah, dan peluang pasar yang berkelanjutan.
Bagi Prof. Dr. Thamrin Abduh, pengembangan potensi ekonomi berbasis sumber daya lokal membutuhkan proses yang berkelanjutan. Penguatan usaha masyarakat tidak cukup hanya dengan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga harus membuka jalan bagi terciptanya nilai tambah melalui inovasi dan pengembangan produk.
Dari pesisir Desa Ampekale, perjalanan rumput laut kini mulai bergerak melampaui penjualan bahan mentah. Melalui penguatan teknologi, pendampingan usaha, dan inovasi produk, potensi lokal tersebut terus didorong untuk berkembang menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih bernilai.
Meski dodol rumput laut masih berada pada tahap prototipe, proses yang telah dilakukan menjadi langkah awal penting. Dari satu tahap pengujian ke tahap berikutnya, Unibos bersama mitra terus membangun fondasi menuju lahirnya produk olahan rumput laut yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memenuhi standar mutu sebelum hadir di tengah masyarakat.
Hilirisasi bukan tentang seberapa cepat sebuah produk dipasarkan, tetapi tentang bagaimana inovasi dibangun secara bertahap hingga benar-benar siap memberikan nilai tambah bagi masyarakat. (adv)










