MAKASSAR, PIJARNEWS.COM-– Buah nipah yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah di kawasan pesisir kini mendapat nilai baru. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tim dari Universitas Bosowa (Unibos) mendorong pemanfaatan limbah buah nipah menjadi arang alternatif yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan pesisir.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan pesisir Sungai Tallo, Kelurahan Tamalanrea Indah, Kota Makassar, dengan melibatkan masyarakat yang selama ini menggantungkan aktivitas ekonominya sebagai penyadap nira dari pohon nipah.
Tim pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Dr. Ir. Erni Indrawati, M.P., bersama Wahyuni Saleh, S.E., M.Ak. dan Dr. Ir. Nur Asia Umar, M.Si.
Selama ini, proses penyadapan nira nipah diawali dengan pemotongan tangkai buah. Buah nipah yang tidak dimanfaatkan kemudian dibuang dan dapat menumpuk sebagai limbah organik di lingkungan pesisir.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian Universitas Bosowa menghadirkan pendekatan pemanfaatan limbah yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Buah nipah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi diperkenalkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan arang alternatif.
Dr. Ir. Erni Indrawati, M.P., selaku Ketua Tim Pengabdian, mengatakan bahwa potensi yang terdapat di lingkungan sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi peluang apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
“Kami melihat limbah ini bukan sebagai masalah, tetapi sebagai peluang. Karena itu, kami melatih masyarakat untuk mengolah buah nipah menjadi arang sebagai energi alternatif pengganti arang kayu,” ujar Erni Indrawati saat ditemui di lokasi kegiatan, Rabu (27/8/2026).
Melalui proses pengolahan yang diperkenalkan kepada masyarakat, buah nipah diarahkan menjadi produk yang memiliki potensi pemanfaatan lebih lanjut. Selain sebagai upaya pengurangan limbah organik, pengembangan arang buah nipah juga membuka peluang bagi masyarakat untuk menciptakan produk alternatif berbasis sumber daya lokal.
Salah seorang anggota kelompok penyadap nira, Amir Hasan, menyampaikan bahwa pemanfaatan buah nipah memberikan perspektif baru bagi masyarakat terhadap potensi yang selama ini belum dimanfaatkan.
“Dulu buah nipah hanya kami buang. Sekarang sudah bisa diolah jadi arang, bahkan berpotensi menambah penghasilan,” tuturnya.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat hubungan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan. Pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih optimal diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam mengurangi akumulasi limbah organik di kawasan pesisir.
Tim pengabdian juga memberikan pendampingan agar masyarakat dapat memahami potensi pengembangan produk tersebut sebagai kegiatan ekonomi kelompok. Ke depan, pemanfaatan buah nipah diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu alternatif usaha berbasis potensi pesisir.
Erni Indrawati menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi salah satu harapan utama dari pelaksanaan program tersebut.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Masyarakat bisa semakin mandiri secara ekonomi, sementara lingkungan pesisir juga tetap terjaga,” pungkasnya.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Universitas Bosowa menghadirkan pendekatan yang menghubungkan inovasi, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Dari limbah yang sebelumnya terbuang, buah nipah kini mulai dilihat sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai guna bagi masyarakat pesisir.
Inisiatif tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana potensi lokal dapat diolah melalui pendampingan dan penerapan keilmuan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas, baik bagi masyarakat maupun keberlanjutan lingkungan. (adv)










