• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

Penulis: Prof.Dr. K.H. Mahsyar Idris. M.Ag

Editor: Tim Redaksi
15 Juni 2026
di Opini, Pendidikan
Nasab Ba‘alawi

OPINI — Penelitian KH Imaduddin mengenai nasab Ba‘alawi telah memunculkan perdebatan yang cukup luas di tengah masyarakat. Terlebih lagi, hasil penelitian tersebut oleh sebagian pihak diposisikan sebagai kebenaran tunggal yang dianggap dapat menggugurkan keabsahan nasab Ba‘alawi. Apabila tidak disikapi secara arif, objektif, dan berdasarkan etika akademik, perdebatan ini berpotensi menimbulkan ketegangan dan perpecahan di kalangan umat.

Dalam pandangan saya, terdapat beberapa persoalan yang perlu ditelaah dan diklarifikasi secara kritis, khususnya yang berkaitan dengan pernyataan, pendekatan, dan sikap KH Imaduddin dalam menyampaikan hasil penelitiannya.

4. Memelihara Persaudaraan Kebangsaan

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai benar atau tidaknya klaim nasab Ba‘alawi, para habib dan masyarakat keturunan Arab telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Sebagai warga negara, mereka memiliki hak, kewajiban, dan kedudukan yang setara dengan warga negara Indonesia lainnya.
Oleh sebab itu, pernyataan seperti, “Kalian adalah imigran, kembalilah ke Yaman,” merupakan ungkapan yang tidak etis, tidak manusiawi, dan tidak sesuai dengan semangat persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pernyataan semacam itu dapat melahirkan diskriminasi berdasarkan garis keturunan dan asal-usul etnis. Apabila pemikiran tersebut dibenarkan, masyarakat Indonesia yang nenek moyangnya berasal dari Tiongkok, India, Vietnam, Filipina, Timur Tengah, dan berbagai kawasan lain juga dapat diperlakukan secara diskriminatif.

BeritaTerkait

Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

22 Oktober 2026
Kiprah Santri di Pentas Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

21 Oktober 2026
Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

20 Oktober 2026
SMAN 5 Parepare Gelar Open House Virtual, Kenalkan Program Sekolah Unggul Garuda Transformatif

SMAN 5 Parepare Gelar Open House Virtual, Kenalkan Program Sekolah Unggul Garuda Transformatif

18 Oktober 2026

Padahal, bangsa Indonesia sejak awal tumbuh dan berkembang dalam kemajemukan suku, budaya, bahasa, agama, dan latar belakang keturunan.

Kedudukan seseorang sebagai warga negara tidak ditentukan oleh asal-usul biologis leluhurnya, tetapi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap orang yang lahir, tumbuh, hidup, mengabdi, dan memiliki status kewarganegaraan Indonesia merupakan bagian yang sah dari bangsa Indonesia.

Karena itu, perdebatan tentang nasab harus ditempatkan dalam wilayah kajian ilmiah dan tidak boleh dijadikan alasan untuk menghina, mengusir, mendiskriminasi, ataupun menghilangkan hak-hak kewarganegaraan kelompok tertentu. Kritik terhadap klaim nasab tetap dapat dilakukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang objektif, akademik, santun, dan berdasarkan bukti yang dapat diuji.

Perbedaan kesimpulan penelitian tidak seharusnya berkembang menjadi kebencian dan permusuhan sosial. Sebaliknya, perbedaan tersebut hendaknya dijadikan ruang dialog ilmiah untuk memperluas pengetahuan, sekaligus memperkuat persatuan, persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan kemanusiaan. (*)

Sebelumnya Perbedaan Temuan tentang Sumber Historis Ahmad al-Muhajir
Selanjutnya
Terkait: AkademikBa'alawiKebangsaanKontroversi

Berita Terkait

UMPAR Gelar Pengembangan Akademik dan Dosen

Editor: Tohir Muhammad
3 Februari 2026

...

SPAN PTKIN 2025, IAIN Parepare Kerahkan 12 Tim Verifikator

Editor: Tohir Muhammad
11 Maret 2025

...

Fakshi IAIN Parepare Gelar Rapat Akademik, Warek 1 IAIN Parepare Minta Dosen Indentifikasi Ini

Fakshi IAIN Parepare Gelar Rapat Akademik, Warek 1 IAIN Parepare Minta Dosen Indentifikasi Ini

Editor: Tohir Muhammad
1 September 2022

...

Berita Populer

  • Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiprah Santri di Pentas Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kenal Lelah, Kakek 70 Tahun di Parepare Tetap Kayuh Becak demi Nafkah Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Musyda Tarjih, Muhammadiyah Makassar Tegaskan Ustaz AI Tak Bisa Gantikan Ulama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi