• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

Penulis: Prof.Dr. K.H. Mahsyar Idris. M.Ag

Editor: Tim Redaksi
15 Juni 2026
di Opini, Pendidikan
Nasab Ba‘alawi

OPINI — Penelitian KH Imaduddin mengenai nasab Ba‘alawi telah memunculkan perdebatan yang cukup luas di tengah masyarakat. Terlebih lagi, hasil penelitian tersebut oleh sebagian pihak diposisikan sebagai kebenaran tunggal yang dianggap dapat menggugurkan keabsahan nasab Ba‘alawi. Apabila tidak disikapi secara arif, objektif, dan berdasarkan etika akademik, perdebatan ini berpotensi menimbulkan ketegangan dan perpecahan di kalangan umat.

Dalam pandangan saya, terdapat beberapa persoalan yang perlu ditelaah dan diklarifikasi secara kritis, khususnya yang berkaitan dengan pernyataan, pendekatan, dan sikap KH Imaduddin dalam menyampaikan hasil penelitiannya.

3. Perbedaan Temuan tentang Sumber Historis Ahmad al-Muhajir

KH Imaduddin menyatakan bahwa dirinya tidak menemukan sumber sejarah dari abad ke-4 hingga abad ke-9 Hijriah yang secara tegas mencantumkan nama Ahmad al-Muhajir beserta hubungan nasab keturunannya. Di sisi lain, sejumlah ulama dan peneliti menyatakan bahwa terdapat sumber dan bukti historis yang mendukung keberadaan Ahmad al-Muhajir serta kesinambungan silsilahnya.

Dalam situasi seperti ini terdapat dua pernyataan yang berbeda. Pihak pertama menyatakan bahwa data tersebut tidak ditemukan, sedangkan pihak kedua menyatakan bahwa data itu tersedia. Oleh karena itu, kedua pendapat tersebut harus diperiksa secara kritis berdasarkan bukti yang diajukan oleh masing-masing pihak.

BeritaTerkait

Asah Jiwa Pemimpin dan Talenta, PARENTA 2026 Digelar di SMAN 5 Parepare

Asah Jiwa Pemimpin dan Talenta, PARENTA 2026 Digelar di SMAN 5 Parepare

15 September 2026
Didanai Belmawa Kemendiktisaintek, PPK Ormawa UKM  Kewirausahaan UMI Dorong Romangloe Jadi Desa Wirausaha

Didanai Belmawa Kemendiktisaintek, PPK Ormawa UKM Kewirausahaan UMI Dorong Romangloe Jadi Desa Wirausaha

3 September 2026
Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

29 Agustus 2026
Gen Z,  Hegemoni Kapitalisme, dan Industri Kebahagiaan Semu

Gen Z, Hegemoni Kapitalisme, dan Industri Kebahagiaan Semu

26 Agustus 2026

Pernyataan bahwa seorang peneliti tidak menemukan data tidak selalu berarti bahwa data tersebut sama sekali tidak ada. Apabila pihak lain mampu menunjukkan bukti konkret dan sumber yang dapat diverifikasi, bukti tersebut tidak dapat ditolak hanya karena sebelumnya tidak ditemukan oleh peneliti yang berbeda.

Seorang peneliti juga tidak selayaknya memaksakan kesimpulan penelitiannya agar diterima sebagai satu-satunya kebenaran. Ia tentu berhak meyakini hasil penelitiannya, tetapi tetap wajib memberikan ruang bagi ilmuwan lain untuk melakukan pengujian, mengajukan kritik, menawarkan penafsiran yang berbeda, atau menunjukkan bukti baru yang belum dipertimbangkan.

Persoalan ini memiliki kemiripan dengan prinsip kritik terhadap periwayat hadis. Apabila seorang kritikus menilai seorang perawi sebagai orang yang dapat dipercaya, sedangkan kritikus lain menunjukkan adanya cacat pada perawi tersebut dengan penjelasan dan bukti yang terperinci, penilaian yang disertai argumentasi dan bukti khusus harus memperoleh perhatian lebih serius.

Dalam disiplin ilmu hadis, prinsip tersebut dikenal sebagai mendahulukan kritik yang dijelaskan secara terperinci atau al-jarḥ al-mufassar dibandingkan penilaian yang masih bersifat umum. Namun, kritik itu hanya dapat diterima apabila memenuhi standar ilmiah, didukung alasan yang jelas, dan disampaikan oleh orang yang memiliki kapasitas dalam bidang tersebut.

KH Imaduddin berpendapat bahwa sumber-sumber yang ditulis sejak abad ke-4 sampai dengan abad ke-9 Hijriah tidak mencantumkan nama Ahmad al-Muhajir sebagaimana yang terdapat dalam silsilah Ba‘alawi. Akan tetapi, pihak lain mengemukakan sejumlah bukti yang menurut mereka berasal dari abad ke-4, ke-5, ke-6, ke-7, hingga abad ke-9 Hijriah.

Perbedaan tersebut seharusnya dibiarkan berkembang sebagai diskursus ilmiah yang sehat. Masing-masing pihak perlu menyampaikan sumber, data, metode, dan argumentasinya secara transparan agar dapat diperiksa serta dinilai oleh para ahli yang berkompeten.

Dengan demikian, kontroversi nasab Ba‘alawi tidak dapat diselesaikan hanya melalui pernyataan sederhana bahwa data itu “ada” atau “tidak ada”. Setiap bukti harus diteliti secara menyeluruh dengan mempertimbangkan autentisitas dokumen, kredibilitas penulis, hubungan kronologis sumber, kesinambungan informasi, konteks sosial-historis, serta metode verifikasi yang digunakan.

Sebelumnya Penyampaian Hasil Penelitian kepada Lingkaran Kekuasaan
Selanjutnya Memelihara Persaudaraan Kebangsaan
Terkait: AkademikBa'alawiKebangsaanKontroversi

BeritaTerkait

UMPAR Gelar Pengembangan Akademik dan Dosen

Editor: Tohir Muhammad
3 Februari 2026

...

SPAN PTKIN 2025, IAIN Parepare Kerahkan 12 Tim Verifikator

Editor: Tohir Muhammad
11 Maret 2025

...

Fakshi IAIN Parepare Gelar Rapat Akademik, Warek 1 IAIN Parepare Minta Dosen Indentifikasi Ini

Fakshi IAIN Parepare Gelar Rapat Akademik, Warek 1 IAIN Parepare Minta Dosen Indentifikasi Ini

Editor: Tohir Muhammad
1 September 2022

...

Berita Populer

  • WNA AS Menikah di Parepare, Imigrasi Cek Status dan Dokumen Keimigrasian

    WNA AS Menikah di Parepare, Imigrasi Cek Status dan Dokumen Keimigrasian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diwarnai Aksi Terjun Payung, Pangdivif 3 Kostrad dan Bupati Sidrap Panen Raya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkuat Pengawasan Orang Asing, Imigrasi Parepare Periksa 2 WNA di Sidrap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Asah Jiwa Pemimpin dan Talenta, PARENTA 2026 Digelar di SMAN 5 Parepare

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Wartawan Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau, Jurnalis dan Warga Parepare Doa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi