• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Peran Kecerdasan Buatan (AI) di Balik Layar Media Sosial

OPINI

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Agustus 2025
di Opini
Suryaningrat, M.Kom

Suryaningrat, M.Kom

Oleh: Suryaningrat, M.Kom (Dosen Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pamulang)

Bayangkan sebuah pagi yang biasa. Anda bangun, meraih ponsel, lalu membuka media sosial. Dalam hitungan detik, timeline Anda dipenuhi dengan video, meme, berita, dan status terbaru teman-teman. Anda menggulir, tersenyum, tertawa, lalu berpikir sebentar, hanya sebentar, bahwa Anda akan berhenti setelah lima menit. Tapi saat kembali menutup ponsel, setengah jam sudah berlalu tanpa terasa. Pertanyaannya, siapa yang mengatur semua ini? Jawabannya adalah algoritma, otak digital yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI).

Di balik layar, AI bekerja tanpa lelah, mengamati setiap klik, setiap detik Anda berhenti pada sebuah postingan, bahkan setiap kata yang Anda ketik. Tujuannya? Mengatur apa yang akan Anda lihat berikutnya. Bagi sebagian orang, ini terdengar praktis konten yang relevan, sesuai minat. Namun bagi sebagian lainnya, ini mengkhawatirkan. Karena saat AI mulai mengatur alur informasi yang kita terima, ia juga mulai membentuk cara kita berpikir, merasa, bahkan bertindak.

Kecerdasan Buatan (AI) Pengatur Arus Informasi yang Tak Terlihat

BeritaTerkait

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

29 Agustus 2026
Gen Z,  Hegemoni Kapitalisme, dan Industri Kebahagiaan Semu

Gen Z, Hegemoni Kapitalisme, dan Industri Kebahagiaan Semu

26 Agustus 2026
Kantor DPRD Dibakar : Saluran Demokrasi Buntu?

Kantor DPRD Dibakar : Saluran Demokrasi Buntu?

26 Agustus 2026
Antrean Mengular di Daerah Kaya Minyak: Menyoroti Gagalnya Tata Kelola dan Solusi Hakiki

Antrean Mengular di Daerah Kaya Minyak: Menyoroti Gagalnya Tata Kelola dan Solusi Hakiki

19 Agustus 2026

Media sosial modern tidak lagi menampilkan konten secara kronologis. Algoritma AI menentukan urutan, prioritas, dan bahkan tema besar dari feed Anda. Sistem ini belajar dari perilaku kita: jika Anda sering menyukai video resep, AI akan membanjiri Anda dengan kuliner. Jika Anda berlama-lama menonton video politik, AI akan mengarahkan Anda ke lebih banyak konten politik, termasuk yang mungkin memicu emosi atau perdebatan.

Inilah yang disebut content personalization personalisasi konten yang membuat pengalaman media sosial terasa unik untuk setiap orang. Masalahnya, personalisasi ini bukan sekadar menyajikan “yang kita suka”, tapi juga “apa yang platform ingin kita lihat” demi menjaga kita tetap berada di aplikasi selama mungkin.

Sisi Terang AI di Media Sosial

Kita tidak bisa menutup mata bahwa AI juga membawa banyak manfaat. Personalisasi membuat kita lebih cepat menemukan informasi yang relevan. AI membantu kreator konten menjangkau audiens yang tepat, memunculkan tren positif, dan mendorong kreativitas.

Bagi pelaku bisnis, AI membuka peluang pemasaran yang lebih tepat sasaran. Iklan tidak lagi dibidik secara acak, melainkan diarahkan ke orang-orang yang memang berpotensi tertarik. Hasilnya, pengalaman digital menjadi lebih efisien dan terasa “ramah” bagi pengguna.

 Bayang-Bayang Gelap, Filter Bubble dan Polarisasi

Namun, di sisi lain, AI memiliki efek samping yang tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah fenomena filter bubble, di mana kita hanya terpapar pada konten yang sejalan dengan pandangan kita. Akibatnya, wawasan kita menyempit, dan kita cenderung menganggap perspektif kita sebagai satu-satunya kebenaran.

Yang lebih mengkhawatirkan, algoritma cenderung memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat marah, takut, atau terkejut karena emosi seperti ini membuat kita lebih lama bertahan di platform. Hasilnya? Polarisasi opini publik semakin tajam. Kita tak lagi berdiskusi untuk mencari kebenaran, tapi untuk mempertahankan “kamp” masing-masing.

Pelajaran dari Kasus Nyata

Sejarah digital mencatat beberapa kasus besar yang menunjukkan bagaimana AI di media sosial bisa memengaruhi dunia nyata. Salah satu yang paling terkenal adalah skandal Cambridge Analytica, di mana data jutaan pengguna Facebook digunakan untuk kampanye politik yang menargetkan opini publik secara spesifik.

Contoh lain adalah sistem rekomendasi di TikTok dan YouTube. Algoritma di kedua platform ini telah dikritik karena mendorong penonton ke konten ekstrem atau radikal melalui rantai rekomendasi otomatis. Meski awalnya hanya menonton video ringan, pengguna bisa berakhir di konten yang sama sekali berbeda, bahkan kontroversial, hanya karena algoritma mendeteksi peluang untuk meningkatkan keterlibatan.

Mengapa Ini Penting?

Karena informasi adalah bahan bakar bagi pikiran kita. Ketika AI mengatur informasi yang kita terima, secara tidak langsung ia mengarahkan arah pemikiran, opini, dan bahkan tindakan kita. Bayangkan jika AI digunakan oleh pihak-pihak yang punya agenda tersembunyi. Dampaknya bisa sangat luas,  mulai dari pembentukan opini publik hingga memengaruhi hasil pemilu, atau mengubah tren sosial secara masif.

Mencari Keseimbangan Antara Teknologi dan Kesadaran

AI pada dasarnya hanyalah alat. Masalah muncul ketika pengguna tidak menyadari bahwa mereka sedang “dikurasi” oleh sistem yang punya kepentingan tertentu. Di sinilah pentingnya transparansi algoritma,  platform perlu membuka informasi tentang bagaimana konten dipilih dan diurutkan.

Pemerintah dan lembaga independen juga perlu membuat regulasi yang jelas untuk mengawasi penggunaan AI di media sosial, terutama yang berpotensi memengaruhi opini publik atau menyebarkan informasi palsu.

Selain itu, literasi digital harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu belajar untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga aktif mencari sudut pandang berbeda, memverifikasi fakta, dan memahami bahwa tidak semua yang muncul di timeline adalah representasi lengkap dari kenyataan.

Penutup, Mengambil Kendali Kembali

Kita hidup di era di mana teknologi semakin pintar, tapi itu tidak berarti kita harus menjadi penonton pasif. AI bisa menjadi alat yang membantu atau jebakan yang mengekang bergantung bagaimana kita memanfaatkannya.

Jika algoritma sudah mengatur hidup kita, maka kita harus memastikan ia bekerja untuk kepentingan kita, bukan hanya untuk keuntungan segelintir pihak. Kita mungkin tidak bisa mematikan AI di media sosial, tapi kita bisa mematikan kebiasaan membiarkan AI berpikir untuk kita.

Pada akhirnya, kendali terbesar ada di tangan kita,  apakah kita akan membiarkan algoritma menjadi sutradara kehidupan digital kita, atau menjadikannya sekadar kru pendukung dalam panggung besar yang kita sebut dunia maya. (*)

Terkait: Opini

BeritaTerkait

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
29 Agustus 2026

...

Antrean Mengular di Daerah Kaya Minyak: Menyoroti Gagalnya Tata Kelola dan Solusi Hakiki

Antrean Mengular di Daerah Kaya Minyak: Menyoroti Gagalnya Tata Kelola dan Solusi Hakiki

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
19 Agustus 2026

...

Menakar Urgensi Sekolah Terintegrasi

Menakar Urgensi Sekolah Terintegrasi

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
11 Agustus 2026

...

Berita Populer

  • Didanai Belmawa Kemendiktisaintek, PPK Ormawa UKM  Kewirausahaan UMI Dorong Romangloe Jadi Desa Wirausaha

    Didanai Belmawa Kemendiktisaintek, PPK Ormawa UKM Kewirausahaan UMI Dorong Romangloe Jadi Desa Wirausaha

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • IAIN Parepare Luncurkan Prodi Studi Islam Jenjang Doktor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sempat Dilarang, Korban Tewas di Gunung Bambapuang Tetap Nekat Mendaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 93 PNS Dilantik, Kanwil Ditjen Imigrasi Sulsel ingatkan Kompetensi hingga Etika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembunuh Feni Ere Terungkap, Mengamati Korban di Media Sosial Selama Tiga Tahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi