Oleh: Firda Isnaini
(Aktivis Muslimah)
Tahun 2023 menjadi tahun suram bagi dunia kampus. Akhir tahun 2023 ini saja sudah terdapat beberapa rentetan kasus bunuh diri dari kalangan mahasiswa. Dua kasus bunuh diri sekaligus yang diberitakan bersamaan, yaitu kasus bunuh diri seorang mahasiswi yang tewas setelah melompat dari lantai 12 ke lantai 4 gedung Filkom UB dan mahasiswa di Bali yang ditemukan gantung diri di kamar kosnya (detik.com, 14/12/2023). Di NTT, mahasiswa melakukan aksi bunuh diri beberapa jam sebelum wisuda (detik.com, 18/12/2023). Seorang mahasiswa S2 yang melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melompat ke area perkebunan dengan kedalaman 50 m di jalur tol Solo-Semarang KM 443 tewas setelah sempat dirawat di rumah sakit (rri.co.id, 29/12/2023).
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Prof Dr Semiarto Aji Purwanto menyatakan, “Satu hal yang mengejutkan adalah angka atau tingkat depresi mahasiswa baru yang belum mengalami kuliah sama sekali sudah tinggi. Tercatat 60% mengalami persoalan dengan kesehatan mental,” (detik.com, 11/11/2023). Stres yang dialami kaum pemuda sudah ada sejak sebelum menapakkan kaki di perkuliahan. Artinya, persoalan yang memicu stres ini bersifat sistemik yang dapat menyerang di segala lini usia. Sehingga, faktor pemicu peningkatan angka bunuh diri bukan hanya dari faktor perkuliahan saja.
Hal ini sangat wajar terjadi ketika kehidupan dilandasi dengan sistem Sekularisme-Kapitalisme. Sekularisme merupakan paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Paham ini semakin menjauhkan generasi dari petunjuk hidup yang benar. Sedangkan, bagaimana manusia yang lemah ini bisa menjalani kehidupan tanpa petunjuk yang benar. Oleh karena itu, kesesatan menjadi suatu keniscayaan.
Sekularisme menanamkan kuat pahamnya pada generasi salah satunya yaitu melalui sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang dienyam sejak dini hingga level tertinggi dalam dunia pendidikan merupakan sistem pendidikan yang memposisikan agama hanya mengatur ranah ibadah ritual dan tidak memposisikan agama mengambil peran dalam mengatur kehidupan. Agama tidak dijadikan landasan dalam memecahkan setiap permasalahan kehidupan. Padahal, semakin agama atau petunjuk yang benar tentang kehidupan tersebut dijauhkan dari kehidupan, semakin gelap dan buta kehidupan tersebut karena tidak paham arah.
Ketika ada masalah dalam hidup, seperti permasalahan ekonomi, akademik, pergaulan, sosial, dll., penyelesaiannya tidak merujuk pada bagaimana agama Islam mengatur segala permasalahan tersebut. Sehingga, opsi yang yang dipilih adalah mengakhiri kehidupan. Mereka menganggap bahwa mengakhiri kehidupan seolah seperti mengakhiri kegelapan hidup ini.
Sekularisme ini melahirkan sistem kapitalisme yang memiliki asas kebebasan dan menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan. Sehingga, tujuan hidup manusia yang terkungkung di sistem ini adalah pencapaian materi sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Apapun akan dilakukan untuk bisa mendapatkan keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Alhasil, di dalam sistem ini, dua pertiga kekayaan bumi sah-sah saja dikuasai oleh 1% populasi dunia sedangkan 99% lainnya merebutkan sepertiga sisa remahan kelompok di atas (liputan6.com, 18/01/2023). Sehingga, terbayang bagaimana kesenjangan sosial dan kesejahteraan dalam sistem ini.
Beban hidup yang semakin berat di sistem ini masih belum cukup menyiksa rakyat. Rakyat masih dibebani dengan pajak yang ditarik oleh pemerintah sebagai pemasukan APBN. Hal ini dikarenakan jantung perekonomian atau sumber pemasukan terbesar negara dalam sistem ini berasal dari pajak dan hutang. Sedangkan, kekayaan alamnya sudah diberikan kepada segelintir kelompok kapital pemilik modal atau 1% populasi di dunia yang telah disebutkan di atas.
Belum lagi, kehidupan hedonisme yang merupakan turunan dari standar kebahagiaan materialistik terus merasuk ke dalam benak masyarakat. Iming-iming kebahagiaan semu merupakan hal yang selalu dikejar. Harta, prestige, dan nilai di mata masyarakat seakan-akan suatu hal yang wajib dipenuhi. Sehingga, mental yang terbentuk di masyarakat yaitu mental yang akan merasa bahagia dan percaya diri dalam hidup jika terpenuhi materi dunia tersebut dan akan merasa hina dan tidak percaya diri dalam menghadapi kehidupan jika tidak memiliki segala materi dunia.
Kesejahteraan yang jauh dari harapan dan persoalan hidup yang tidak pernah selesai karena tidak adanya solusi, ini semua merupakan dampak sistem Sekularisme-Kapitalisme yang menyebabkan beban berat mental dan emosional yang ditanggung oleh orang tua. Beban berat orang tua ini pastinya juga memberikan pengaruh besar terhadap beban mental dan emosional pada anak-anak mereka. Beban mental dan emosional anak juga akan menular kepada anak-anak lain sehingga kasus bullying tidak bisa dipungkiri terjadi bahkan akan terus berkembang.
Mental bentukan seperti ini pada generasi yang nantinya akan dibawa ke dunia kampus. Belum lagi di kampus, kurikulum yang diberikan tentunya berbasis Sekularisme-Kapitalisme yang tidak akan pernah memberikan pencerahan terhadap petunjuk hidup sebagai “problem solver” dalam menguraikan segala permasalahan kehidupan. Malahan, sistem ini memberikan narasi-narasi monsterisasi, seperti radikalisme, terorisme, dan islamophobia, yang memiliki tujuan bukan dalam rangka memberantas terorisme dengan makna sebenarnya tetapi demi kepentingan golongan tertentu, yaitu melanggengkan kepentingan para kapital pemilik modal. Sehingga, generasi semakin jauh lagi dari “petunjuk yang benar” tersebut dan tidak berusaha mencari petunjuk hidup tersebut karena telah ditakut-takuti. Generasi akan semakin jauh dari ajaran agama Islam yang menjadi landasan dan petunjuk hidup yang hakiki dalam menyelesaikan seluruh permasalahan kehidupan.
Belum lagi, tuntutan dunia kampus tidak jauh-jauh dari standar materi. Setelah lulus, mahasiswa dituntut untuk bekerja dan mandiri secara finansial. Mahasiswa dituntut untuk berdaya secara ekonomi agar tidak menjadi beban ekonomi. Biaya pendidikan yang tidak murah yang telah orang tua keluarkan untuk anak-anak mereka menjadi bumerang tersendiri bagi mahasiswa karena mereka dituntut untuk “mengembalikan modal” yang telah dikeluarkan oleh orang tua mereka untuk membiayai pendidikan yang tidak murah ini.
Sehingga, dalam sistem sekarang, stres tidak akan terhindarkan dan bunuh diri menjadi suatu keniscayaan. Mereka menganggap dengan mengakhiri kehidupan maka berakhir juga masalah hidup karena sistem ini bukan mengajarkan solusi tetapi malah menambah beban berat kehidupan. Inilah ancaman nyata sistem Sekularisme-Kapitalisme yang begitu nyata merenggut nyawa manusia.
Fenomena bunuh diri merupakan dampak nyata sistem Sekularisme-Kapitalisme yang melarang agama dijadikan sebagai pedoman hidup dan menjadikan capaian materi sebagai standar kebahagiaan. Sistem ini membentuk generasi hedonis, individualis, dan mudah stress atas permasalahan hidup mereka karena tidak paham solusi. Permasalahan yang disebabkan oleh sistem yang rusak tentu solusinya adalah mengganti sistem tersebut dengan sistem yang lebih baik atau bahkan sistem terbaik.
Berbeda halnya jika hidup ini berlandaskan sistem Islam yang menyeluruh. Ajaran Islam akan dijadikan petunjuk hidup dalam setiap perbuatan dan pemecah segala masalah kehidupan. Manusia yang menjadikan Islam sebagai landasan hidup tidak akan mudah putus asa apalagi memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup. Dalam sistem pendidikan, mereka diajarkan aqidah Islam yang akan memahami hidup ini bukan hanya tentang hidup di dunia saja melainkan dunia adalah tempat mencari bekal untuk kehidupan abadi setelah kematian. Setelah kematian, kita akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang telah kita perbuat dan akan dibalas pula dengan yang setimpal.
Oleh karena itu, setiap manusia akan paham bahwa hakikat mereka hidup adalah ibadah kepada Allah dalam bentuk mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sehingga, mereka juga akan paham bahwa mengakhiri hidup merupakan suatu larangan Allah. Sehingga, seberat apapun masalah hidup, bunuh diri bukanlah solusi yang terlintas di benak mereka. Selain itu, mereka juga paham seberat apapun beban hidup, mereka yakin Allah Sang Maha Penolong akan selalu membersamai makhluk-Nya.
Allah swt berfirman,
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah: 5)
Selain penanaman akidah yang kuat dalam setiap diri individu, Islam pun akan memberikan jaminan kesejahteraan dan perlindungan kepada setiap umat manusia melalui sistem yang menyeluruh (kaffah) dalam naungan sebuah negara, Daulah Islamiyah. Dalam Daulah Islamiyah, kesehatan dan pendidikan akan diberikan secara gratis bahkan keamanan masyarakat akan selalu terjamin tanpa tapi, baik muslim maupun kafir, kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan. Tentunya, fasilitasnya pun bukan main-main, terjaga baik secara kualitas maupun kuantitas.
Kebijakan seperti di atas bisa terwujud tentunya dengan dukungan sistem politik Islam yang akan menghapus penguasaan oligarki terhadap kekayaan alam dan sistem ekonomi Islam yang memiliki pembagian kepemilikan, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan negara, dan kepemilikan umat. Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Ibnu Majah, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api; dan harganya adalah haram.”. Menjual kekayaan alam kepada para kapital pemilik modal atau oligarki hukumnya haram. Kekayaan yang ada di bumi adalah milik umat yang akan dikelola oleh negara dan dikembalikan kembali ke umat. Kalaupun ada biaya yang harus ditarik, seperti listrik, air, BBM, dsb., itu adalah biaya operasional produksi. Sebagai contoh kecil, menurut Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) Anthony Budiawan, perhitungan rinci terhadap pengelolaan BBM didapatkan biaya operasional produksi hanya Rp 472 per liter.(Kompas.com, 30/08/22)
Dengan sistem Islam yagn menyeluruh di atas, harapan atas kesejahteraan bukan lagi bagaikan pungguk merindu bulan. Negara pasti akan menjamin kebutuhan rakyatnya karena politik menurut Islam adalah Riayah Suunil Ummah, yaitu memikirkan dan mengelola semua urusan dan nasib umat (rakyat). Dengan sistem seperti ini, stres pada setiap individu bahkan mahasiswa yang mengkhawatikan biaya hidup pasti akan terhindarkan.
Suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk kembali kepada identitas kita sebagai muslim dan mulai untuk memahami ajaran Islam secara menyeluruh (Kaffah). Selain itu, kita juga perlu menyebarkannya kepada teman-teman dan orang-orang yang berada di sekitar kita untuk tidak takut mengkaji Islam. Hal ini dikarenakan Islam yang menyeluruh (Kaffah) merupakan petunjuk dan pedoman hidup yang menjadi solusi hakiki segala permasalahan kehidupan. Dengan memahami Islam lebih dalam, manusia akan paham cara mengeluarkan diri dari kungkungan sistem Sekularisme-Kapitalisme dan menghempaskan beban hidup yang disebabkan oleh sistem Sekularisme-Kapitalisme ini.
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Maidah: 50). (*)
Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.












