• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 13 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Mahkamah Konstitusi Melampaui Konstitusi

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
29 Juni 2025
di Opini
Rusdianto Sudirman

Rusdianto Sudirman

Oleh: Rusdianto Sudirman

(Dosen Hukum Tata Negara IAIN Parepare)

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 135/PUU-XXII/2024 telah menjadi titik balik dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Dengan dalih membenahi desain pemilu serentak, MK membelah pelaksanaan pemilu menjadi dua klaster yakni pemilu serentak nasional dan pemilu serentak daerah.

Putusan ini bukan sekadar koreksi atas desain konstitusional yang multitafsir, melainkan rekonstruksi fundamental terhadap sistem kepemiluan nasional. Namun, di balik sorak sorai sebagian pihak atas putusan ini, muncul kekhawatiran yang tidak kalah penting, apakah MK sedang bergeser dari fungsi judicial review menjadi positive legislator?

Berita Terkait

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Secara normatif, Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa MK berwenang menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Artinya, fungsi utama MK adalah sebagai negative legislator, yaitu lembaga yang hanya dapat membatalkan atau menyatakan suatu norma tidak memiliki kekuatan hukum mengikat jika bertentangan dengan UUD.

Namun, sejak beberapa tahun terakhir, MK semakin sering memutus perkara dengan cara yang tidak sekadar menghapus norma, tetapi juga secara aktif menciptakan norma baru yang seolah-olah bersumber dari kehendaknya sendiri.

Putusan 135/PUU-XXII/2024 adalah contoh mutakhir dari praktik judicial activism yang terlalu jauh. MK tidak hanya menyatakan norma dalam Pasal 167 ayat (3) UU Pemilu inkonstitusional, tetapi juga sekaligus merumuskan desain baru pemilu yang seharusnya menjadi ranah pembentuk undang-undang. Dengan merinci waktu pelaksanaan pemilu nasional dan daerah, serta memperpanjang masa jabatan kepala daerah dan anggota DPRD hingga 2031, MK telah masuk ke wilayah legislatif, ruang yang seharusnya hanya dapat diisi oleh Presiden dan DPR.

Secara teoritis, pergeseran fungsi MK dari negative legislator ke arah positive legislator merupakan alarm bahaya bagi prinsip pembagian kekuasaan (separation of powers). Ketika kekuasaan yudikatif mulai menjalankan fungsi legislasi, maka keseimbangan antar cabang kekuasaan negara menjadi terganggu. Presiden dan DPR kehilangan perannya sebagai satu-satunya institusi pembentuk norma hukum. Padahal dalam sistem demokrasi, legitimasi pembentukan hukum harus datang dari proses politik yang terbuka, akuntabel, dan representatif.

Apakah hal ini bisa dibenarkan? Dalam teori constitutional adjudication, memang dikenal doktrin interstitial lawmaking yaitu kemampuan lembaga peradilan untuk mengisi kekosongan hukum dalam batas-batas tertentu. Namun, doktrin ini hanya relevan apabila norma yang diuji memang menimbulkan kekosongan hukum yang mendesak dan tidak memungkinkan ditundanya pengisian kekosongan tersebut oleh pembentuk undang-undang.

Dalam kasus Putusan 135/PUU-XXII/2024, tidak ada urgensi hukum yang mendesak. Lagipula, tidak ada kekosongan hukum yang memaksa MK merancang sendiri sistem pemilu nasional dan daerah secara terperinci, apalagi sampai menentukan durasi masa jabatan.

Sebagian membela MK dengan argumentasi bahwa pembentuk undang-undang selama ini lamban merespons kebutuhan hukum masyarakat, sehingga MK perlu turun tangan. Dalih ini secara etis tampak mulia, tetapi secara konstitusional tidak dapat dibenarkan.

Jika lembaga peradilan dibenarkan mengambil alih fungsi legislasi hanya karena legislatif lamban, maka kita sedang membuka kotak pandora otoritarianisme yudisial. Dengan logika yang sama, bisa saja MK kelak memutus masa jabatan presiden atau komposisi lembaga negara, hanya karena DPR dianggap tak becus.

Kekhawatiran ini bukan tanpa preseden. Dalam beberapa putusan sebelumnya, seperti Putusan Nomor 91/PUU-XVIII/2020 (UU Cipta Kerja) dan Putusan Nomor 65/PUU-XXI/2023 (Ambang Batas Capres), MK juga menunjukkan kecenderungan serupa, tidak sekadar mengoreksi norma, tetapi juga memberi petunjuk legislatif atau bahkan merumuskan solusi hukum alternatif. Ini adalah gejala hiperaktif konstitusional yang secara perlahan menggerus kepercayaan publik terhadap netralitas kekuasaan kehakiman.

Diskursus tentang posisi MK saat ini perlu ditarik dalam konteks besar, apakah MK masih berada dalam rel konstitusionalnya? Atau justru kita sedang menyaksikan transformasi lembaga yudikatif menjadi quasi-legislatif yang dibungkus otoritas konstitusional?

Untuk itu, perlu ada evaluasi serius terhadap mekanisme pengujian undang-undang di MK. Salah satunya, dengan mempertegas batas antara tafsir konstitusional dan rekayasa normatif. Tafsir yang membatalkan norma sah-sah saja. Tapi tafsir yang menggantikan atau menyusun norma baru adalah pelanggaran konstitusional tersembunyi.

Dalam negara hukum yang demokratis, legitimasi kekuasaan berasal dari mandat rakyat. MK sebagai penjaga konstitusi harus konsisten menjaga batas itu. Jika tidak, lembaga ini bisa berubah dari pengawal konstitusi menjadi pembajak konstitusi. (*)

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pemkot Parepare Lepas 1.000 Paket Sembako Pasar Murah Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
3 Maret 2026

BeritaTerkini

Meriahkan Syiar Islam, Pemkot Parepare Gelar Lomba Takbiran Keliling

Editor: Muhammad Tohir
13 Maret 2026

Pelayanan Publik 2025,Parepare Raih Opini Kualitas Tinggi dari Ombudsman RI

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Pimpin Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026, Kapolres Sidrap: Persiapan Matang Sangat Dibutuhkan

Pimpin Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026, Kapolres Sidrap: Persiapan Matang Sangat Dibutuhkan

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Panen Bersama Petani di Lasiwala, Bupati Sidrap Mengaku Terharu Karena Ini

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan