PAREPARE, PIJARNEWS.COM — Gagasan tentang pentingnya merajut kembali persatuan umat Islam menjadi salah satu sorotan utama dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) VI ICMI Orda Parepare yang digelar di Auditorium BJ Habibie, Kompleks Rumah Jabatan Wali Kota Parepare, Ahad, 3 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, Prof Dr KH Ahmad M. Sewang yang menjadi pembicara utama, memaparkan refleksi kritis bertajuk “Merajut Persatuan Umat”. Ia menggunakan pendekatan sosio-historis untuk mengurai akar perpecahan dalam sejarah Islam sekaligus menawarkan solusi integratif bagi masa depan umat.
Prof Ahmad Sewang mengawali paparannya dengan menegaskan bahwa persatuan ideal umat, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW, mulai mengalami pengikisan sejak terjadinya konflik besar yang dikenal sebagai Al-Fitnatul Kubraa pada masa Utsman bin Affan. Konflik tersebut kemudian berlanjut pada era Ali bin Abi Thalib melalui peristiwa Perang Jamal dan Perang Siffin yang menjadi titik awal munculnya berbagai faksi teologis dalam Islam.
“Dari sinilah lahir kelompok-kelompok seperti Sunni, Syiah, Khawarij, dan Murjiah yang tidak hanya berbeda secara politik, tetapi juga berkembang ke ranah teologis,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dinamika intelektual yang memperdalam perbedaan, seperti tragedi Mihnah pada era Abbasiyah yang mempertentangkan rasionalitas Mu’tazilah dengan pendekatan tekstual ahli hadis.
Dalam konteks kekinian, Prof Ahmad Sewang menilai bahwa klaim kebenaran tunggal di tengah umat sering kali bersumber dari pemahaman tekstual yang kaku, termasuk dalam menafsirkan hadis tentang “73 golongan”. Menurutnya, sejumlah ulama moderat, termasuk dari Al-Azhar, telah berupaya mendekonstruksi narasi tersebut dengan menekankan bahwa mayoritas umat Islam berada dalam koridor keselamatan, kecuali mereka yang menyimpang secara ekstrem.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan besar umat saat ini berupa fenomena takfir (mengkafirkan) dan tadhlil (menyesatkan), yang kerap diperparah oleh kepentingan geopolitik global. Kondisi ini dinilai menjadi penghambat utama terwujudnya persatuan yang kokoh.
Sebagai solusi, Prof Ahmad Sewang menawarkan pendekatan At-Taqrib bayn al-Madzahib, yakni upaya mendekatkan berbagai mazhab melalui redefinisi identitas umat Islam yang lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan.
“Perbedaan adalah sunnatullah dan justru menjadi rahmat. Persatuan bukan berarti menyeragamkan, tetapi menciptakan harmoni dalam keberagaman,” tegasnya.
Ia mencontohkan perbedaan karakter sahabat Nabi, seperti Abu Bakar yang lembut dan Umar bin Khattab yang tegas, sebagai bukti bahwa keberagaman merupakan bagian dari dinamika yang memperkaya umat.
Menurutnya, keberagaman penafsiran dalam Al-Qur’an, baik melalui ayat muhkamat maupun mutasyabihat, menunjukkan bahwa Tuhan memang menghendaki kebhinnekaan. Oleh karena itu, umat Islam didorong untuk menjadikan perbedaan sebagai energi positif dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan (fastabiqul khairat).
Paparan ini menjadi salah satu refleksi penting dalam pembukaan Musda VI ICMI Parepare, sekaligus menguatkan peran ICMI sebagai wadah cendekiawan dalam merawat persatuan umat di tengah tantangan zaman.

Pembukaan Musda VI ICMI Orda Parepare ini dihadiri Wali Kota Parepare, H Tasming Hamid, SE, MH, Sekretaris Daerah, Amarun Agung Hamka dan sejumlah pejabat Forkopimda. Selain itu, delapan perwakilan organisasi masyarakat (Ormas) Islam hadir di acara tersebut seperi ICMI Orda Parepare, Muhammadiyah, NU, DDI, Aisiyah, Muslimat NU, Wanita Islam, dan Ummahat.
Tak hanya itu, ada juga Organisasi Satuan (Orsat) dan Banom. Perwakilan Orsat yang hadir yakni IAIN Parepare, Umpar, ITH, DDI, Orsat Ujung, Soreang, Bacukiki, dan Bacukiki Barat. Usai pembukaan, dilakukan pemilihan ketua. Hasilnya, Prof Dr KH Mahsyar Idris, M.Ag kembali terpilih untuk kedua kalinya memimpin ICMI Orda Parepare.
Peran ICMI dan organisasi intelektual lainnya sangat vital untuk menjadi wadah yang merawat persatuan. Persatuan umat tidak dicapai dengan penyeragaman, melainkan dengan menciptakan harmoni di mana setiap kelompok merasa menjadi bagian dari identitas besar Islam yang inklusif. Sebagai pendidik, tugas kita adalah memastikan bahwa “pengkaderan” di masa depan tidak lagi membangun tembok, melainkan membangun jembatan. (*)
Penulis: Ade Hastuty (Sekretaris Umum Pengurus Daerah Wanita Islam, Kota Parepare)
Editor: Alfiansyah Anwar












