• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 15 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Refleksi Persatuan Umat di Musda VI ICMI Parepare, Prof Ahmad Sewang Soroti Akar Perpecahan dan Jalan Integrasi

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
5 Mei 2026
di Pendidikan, Topik Utama
Prof Ahmad Sewang

Suasana saat Prof Dr KH Ahmad M Sewang saat menjadi pemateri pada pembukaan Musda ICMI Orda Parepare.

Berita Terkait

Aklamasi di Musda VI, Prof Mahsyar Idris Kembali Pimpin ICMI Parepare

ICMI Itu Inklusif, Membumi untuk Umat

Dr. Suherman Luruskan Soal Pengurus ICMI Tak Harus Sarjana

Pra-Musda ICMI Parepare, Pembahasan Syarat Calon Ketua Alot

PAREPARE, PIJARNEWS.COM — Gagasan tentang pentingnya merajut kembali persatuan umat Islam menjadi salah satu sorotan utama dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) VI ICMI Orda Parepare yang digelar di Auditorium BJ Habibie, Kompleks Rumah Jabatan Wali Kota Parepare, Ahad, 3 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, Prof Dr KH Ahmad M. Sewang yang menjadi pembicara utama, memaparkan refleksi kritis bertajuk “Merajut Persatuan Umat”. Ia menggunakan pendekatan sosio-historis untuk mengurai akar perpecahan dalam sejarah Islam sekaligus menawarkan solusi integratif bagi masa depan umat.
Prof Ahmad Sewang mengawali paparannya dengan menegaskan bahwa persatuan ideal umat, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW, mulai mengalami pengikisan sejak terjadinya konflik besar yang dikenal sebagai Al-Fitnatul Kubraa pada masa Utsman bin Affan. Konflik tersebut kemudian berlanjut pada era Ali bin Abi Thalib melalui peristiwa Perang Jamal dan Perang Siffin yang menjadi titik awal munculnya berbagai faksi teologis dalam Islam.
“Dari sinilah lahir kelompok-kelompok seperti Sunni, Syiah, Khawarij, dan Murjiah yang tidak hanya berbeda secara politik, tetapi juga berkembang ke ranah teologis,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dinamika intelektual yang memperdalam perbedaan, seperti tragedi Mihnah pada era Abbasiyah yang mempertentangkan rasionalitas Mu’tazilah dengan pendekatan tekstual ahli hadis.
Dalam konteks kekinian, Prof Ahmad Sewang menilai bahwa klaim kebenaran tunggal di tengah umat sering kali bersumber dari pemahaman tekstual yang kaku, termasuk dalam menafsirkan hadis tentang “73 golongan”. Menurutnya, sejumlah ulama moderat, termasuk dari Al-Azhar, telah berupaya mendekonstruksi narasi tersebut dengan menekankan bahwa mayoritas umat Islam berada dalam koridor keselamatan, kecuali mereka yang menyimpang secara ekstrem.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan besar umat saat ini berupa fenomena takfir (mengkafirkan) dan tadhlil (menyesatkan), yang kerap diperparah oleh kepentingan geopolitik global. Kondisi ini dinilai menjadi penghambat utama terwujudnya persatuan yang kokoh.
Sebagai solusi, Prof Ahmad Sewang menawarkan pendekatan At-Taqrib bayn al-Madzahib, yakni upaya mendekatkan berbagai mazhab melalui redefinisi identitas umat Islam yang lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan.
“Perbedaan adalah sunnatullah dan justru menjadi rahmat. Persatuan bukan berarti menyeragamkan, tetapi menciptakan harmoni dalam keberagaman,” tegasnya.
Ia mencontohkan perbedaan karakter sahabat Nabi, seperti Abu Bakar yang lembut dan Umar bin Khattab yang tegas, sebagai bukti bahwa keberagaman merupakan bagian dari dinamika yang memperkaya umat.
Menurutnya, keberagaman penafsiran dalam Al-Qur’an, baik melalui ayat muhkamat maupun mutasyabihat, menunjukkan bahwa Tuhan memang menghendaki kebhinnekaan. Oleh karena itu, umat Islam didorong untuk menjadikan perbedaan sebagai energi positif dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan (fastabiqul khairat).
Paparan ini menjadi salah satu refleksi penting dalam pembukaan Musda VI ICMI Parepare, sekaligus menguatkan peran ICMI sebagai wadah cendekiawan dalam merawat persatuan umat di tengah tantangan zaman.
Ade Astuty
Penulis Ade Hastuty foto bersama pengurus ICMI Orda Parepare.
Pembukaan Musda VI ICMI Orda Parepare ini dihadiri Wali Kota Parepare, H Tasming Hamid, SE, MH, Sekretaris Daerah, Amarun Agung Hamka dan sejumlah pejabat Forkopimda. Selain itu, delapan perwakilan organisasi masyarakat (Ormas) Islam hadir di acara tersebut seperi ICMI Orda Parepare, Muhammadiyah, NU, DDI, Aisiyah, Muslimat NU, Wanita Islam, dan Ummahat.
Tak hanya itu, ada juga Organisasi Satuan (Orsat) dan Banom. Perwakilan Orsat yang hadir yakni IAIN Parepare, Umpar, ITH, DDI, Orsat Ujung, Soreang, Bacukiki, dan Bacukiki Barat. Usai pembukaan, dilakukan pemilihan ketua. Hasilnya, Prof Dr KH Mahsyar Idris, M.Ag kembali terpilih untuk kedua kalinya memimpin ICMI Orda Parepare.
Peran ICMI dan organisasi intelektual lainnya sangat vital untuk menjadi wadah yang merawat persatuan. Persatuan umat tidak dicapai dengan penyeragaman, melainkan dengan menciptakan harmoni di mana setiap kelompok merasa menjadi bagian dari identitas besar Islam yang inklusif. Sebagai pendidik, tugas kita adalah memastikan bahwa “pengkaderan” di masa depan tidak lagi membangun tembok, melainkan membangun jembatan. (*)
Penulis: Ade Hastuty (Sekretaris Umum Pengurus Daerah Wanita Islam, Kota Parepare)
Editor: Alfiansyah Anwar
Terkait: ICMIICMI Orda ParepareMusdaProf Ahmad Sewang

TerkaitBerita

Perkuat Pengawasan Keimigrasian, Imigrasi Parepare Bentuk Desa Binaan di Pinrang

Perkuat Pengawasan Keimigrasian, Imigrasi Parepare Bentuk Desa Binaan di Pinrang

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Petani Rumput Laut di Suppa Dibekali Strategi Adaptasi Gagal Panen oleh ITH

Petani Rumput Laut di Suppa Dibekali Strategi Adaptasi Gagal Panen oleh ITH

Editor: Muhammad Tohir
9 Mei 2026

...

Siapkan Agen Anti Konsumtif Digital, ITH Kuatkan Literasi Finansial Berbasis Sains Data Siswa SMAN 4 Parepare

Siapkan Agen Anti Konsumtif Digital, ITH Kuatkan Literasi Finansial Berbasis Sains Data Siswa SMAN 4 Parepare

Editor: Muhammad Tohir
6 Mei 2026

...

Resmi, Pemkab Pinrang Mekarkan Desa Mattiro Ade

Resmi, Pemkab Pinrang Mekarkan Desa Mattiro Ade

Editor: Muhammad Tohir
5 Mei 2026

...

Berita Terkini

Sidrap Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Resmi Dibuka Wabup, IPF Sulsel Sebut Bukan Kaleng-kaleng

Sidrap Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Resmi Dibuka Wabup, IPF Sulsel Sebut Bukan Kaleng-kaleng

Editor: Muhammad Tohir
14 Mei 2026

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan