BULUKUMBA, PIJARNEWS.COM–Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintahan Prabowo-Gibran tak hanya mendorong peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga memicu pertumbuhan ekonomi daerah.
Di Kabupaten Bulukumba, melonjaknya permintaan telur ayam mendorong para peternak memperluas kandang dan menambah populasi ternak. Namun, peningkatan populasi ini membawa tantangan lingkungan baru berupa penumpukan kotoran ayam yang berisiko mengganggu kesehatan ternak maupun warga sekitar akibat baunya yang menyengat.
Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) merancang inovasi pemanfaatan limbah peternakan bagi Kelompok Peternak Auliah Unggas di Desa Bontosunggu, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Limbah bio-slurry dari pupuk cair kotoran ayam yang sebelumnya kurang terintegrasi kini diolah menjadi produk bio-tablet yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.
Kegiatan pelatihan dan pendampingan ini berlangsung selama dua hari, pada 29–30 Agustus 2026, dengan melibatkan 15 orang peternak, tim dosen, dan mahasiswa Unhas. Program pengabdian ini diketuai oleh Anie Asriany, dengan anggota tim yang terdiri atas Andi Muh Anshar, Ummul Chair, dan Andi Ratna Sari Dewi.
Rangkaian kegiatan mencakup edukasi komprehensif dari hilir ke hulu yang disampaikan secara berurutan oleh tim pakar.
Penyuluhan Pengolahan Limbah oleh Anie Asriany yang memberikan pemahaman awal mengenai pentingnya mengolah kotoran ayam agar tidak mencemari lingkungan dan dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Praktik Pembuatan Bio-Tablet dilakukan oleh Andi Muh Anshar yang memimpin sesi praktik langsung, memandu peternak mengenali bahan, melakukan formulasi, proses fermentasi bio-slurry, hingga mencetak bio-tablet.
Manajemen Keuangan Usaha dipraktikkan oleh Ummul Chai yang membekali para peternak dengan tata cara pencatatan dan pengelolaan keuangan sederhana agar usaha pembuatan pupuk ini terkontrol secara finansial.
Sementara, strategi Pemasaran Produksi diajarkan langsung oleh Andi Ratna Sari Dewi mengenai teknik pengemasan yang menarik serta strategi penetapan harga dan jalur distribusi pasar.
Untuk mengukur efektivitas kegiatan, tim Unhas juga membagikan kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan dan praktik pengolahan kotoran ayam menjadi pupuk ramah lingkungan guna mengevaluasi tingkat pemahaman peternak. kuisoner ini berupa kuisoner pilihan gandan sebanyak 20 nomor yang dikerjakan oleh tiap peserta penyuluhan yang merupakan peternak ayam yang tergabung dalam kelompok Auliah Unggas.
“Tim pengabdian yang hadir di bulukumba ini bertujuan mengajarkan masyarakat peternak bagaimana mengolah kotoran ayam hingga menjadi produk siap jual” ujar Anie Asriany selaku ketua tim saat melakukan kegiatan penyuluhan dihadapan para peternak ayam.
Sedangkan Ketua Kelompok Peternak Auliah Unggas, Lukman, mengapresiasi keberadaan program ini. Ia berharap pemanfaatan bio-slurry menjadi bio-tablet tak hanya menyelesaikan masalah polusi bau di lingkungan peternakan, tetapi juga mampu menjadi sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi anggota kelompoknya.
“Semoga kegiatan ini selain mampu mengatasi masalah bau yang tidak sedap yang dihasilkan oleh kotoran ayam juga diharapkan mampu menambah penghasilan para peternak,” ujar Lukman saat ditemui. (*)
Citizen Reporter: Andi Muh Anshar (Dosen FMIPA Unhas)











