• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 18 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Esai; Untung Aku Bukan Pak Anies

Alfiansyah Anwar Editor: Alfiansyah Anwar
19 Oktober 2017
di Opini

Penulis: Muh Syukur Salman

Kemarin, aku merencanakan sebuah kegiatan workshop penulisan buku untuk para guru. Informasi alur kegiatan yang direncanakan memakan waktu sampai 4 bulan tersebut, segera kususun. Tahapan kegiatan mulai pada bulan November 2017 sampai Februari 2018. Info kegiatan tersebut selanjutnya aku share ke media sosial yang ada dengan format png. Namun, setelah aku unggah, baru tersadar bahwa tulisan yang seharusnya tahun 2018, tertulis 2017. Aku pun secara spontan berpikir, tentu mereka tahu yang kumaksud. Tidak mungkin kegiatannya akhir 2017 lalu kembali lagi ke awal 2017. Pikirku yakin.

Kegiatan hampir sebulan lagi, namun infonya sudah ku share dengan maksud mendapat respon cepat yang mau ikutan. Ternyata, benar respon pun banyak, hanya saja bukan mau ikutan. Mereka merespon tulisan tahun 2017 yang sejatinya 2018. Candaan, cibiran, bahkan olokan pun berkejaran di kolom komentar. Aku betul-betul tertegun dengan peristiwa ini. Sama sekali tak menduga respon “teman-teman” demikian. Masih terlalu banyak hal positif, benar, dan bermanfaat yang tertuang dalam info kegiatan itu, tapi mengapa yang “salah” itu yang mendapat respon. Kesalahan yang mungkin tidak lebih dari 1% dari keseluruhan kalimat dan kata dari info tersebut. Aku kira, kesalahan itu juga bisa dipikirkan pembenarannya bagi orang-orang yang tidak membutuhkan kepintaran lebih. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada terlihat.

Namun, sebenarnya baik juga mendapat respon demikian. Itu artinya mereka teliti dan saksama dalam membaca info kegiatan tersebut. Itu artinya lagi, mereka ingin ikutan, semoga saja. Kalau tidak, berarti mereka-mereka memang hanya mencari-cari apa yang salah. Ironisnya lagi, kesalahan yang sangat kecil itulah yang dibesar-besarkan, bahkan ada kesan mereka hebat telah menemukan kesalahan itu, dan orang yang dipersalahkan itu hanya berkemampuan cetek.

Berita Terkait

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Aku saja yang cuma rakyat kecil, mendapat respon yang demikian. Apalagi Pak Anies Baswedan yang seorang gubernur ibukota. Satu kata saja dalam pidato Pak Anies menjadikan arahan pertamanya sebagai gubernur yang penuh hikmah serta makna tersebut, tak ada artinya buat mereka. Tidak hanya tak ada artinya, malah disalahartikan menjadi negatif. Kata “pribumi” yang dilontarkan gubernur baru DKI itu, telah membuatnya sampai dilaporkan ke polisi. Ternyata, sungguh saat ini kecenderungan mengangkat dan membesarkan kesalahan dibanding membicarakan dan menyanjung kebenaran.

Untung, aku bukan pak Anies. Kalau tidak, aku mungkin sudah dipanggil polisi karena aduan pihak-pihak yang tersinggung kalender atau penanggalan, aku salahgunakan. Lebih heboh lagi, mungkin juga karena penanggalan itu berlaku secara internasional, aku dilaporkan ke badan penanggalan dunia. Bisa repot aku. Dari sini aku belajar banyak bahwa kita, termasuk aku mungkin, lebih responsif terhadap hal-hal yang salah. Meskipun yang salah itu merupakan salah satu unsur dari seribu unsur pada satu sistem.

Sebagai guru, aku juga mendapati anak-anak yang sering saling ejek dan sering menyebut hal-hal yang negatif pada temannya. Bahkan menjadi lumrah, menanyakan seseorang dengan menyebut ciri-ciri pisik atau karakter yang buruk pada orang tersebut. Anda kenal si A yang kakiknya terlihat pincang sebelah. Mengapa harus kelurangan orang tersebut yang menjadi penandanya. Mengapan bukan kelebihannya. Anda kenal si B yang mempunyai suara merdu itu. Mengapa bukan seperti itu yang kita biasakan? Intinya, sejatinya semua kita harus bijak dalam semua hal. Adakalanya diam itu adalah emas, kalau komentar atau bicara kita tak bermanfaat. Diam bukan berarti kita tidak, hanya saja kita telah paham bahwa dia, salah. Diam juga tidak berarti bodoh, hanya saja kita yakin bahwa tentu hal tersebut ada penjelasannya. Sekian. (*)

Terkait: Anies BaswedanEsaiOpini

TerkaitBerita

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Curhat Pedagang Pasar Sentral Pinrang: Harga Tomat-Cabai Melejit Jelang Lebaran 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Momen Ramadan, PSI Parepare Tebar Ratusan Takjil

Editor: Muhammad Tohir
17 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

BeritaTerkini

Aliran Sungai Pekkabata–Lampa Tersumbat Sampah

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

KAHMI Parepare Bukber, Berbagi hingga Diskusi

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

Safari Ramadan Hari ke-27, Tasming Hamid Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid

Editor: Muhammad Tohir
18 Maret 2026

Dugaan Pungli-Sajam di Pasar Pekkabata Pinrang, Pengelola Buka Suara

Dugaan Pungli-Sajam di Pasar Pekkabata Pinrang, Pengelola Buka Suara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan